alexametrics
25.3 C
Banyuwangi
Thursday, July 7, 2022

Kulit Lumpia untuk Campuran Pakan Ternak

GAMBIRAN – Hadiyanto, 45, asal Dusun Stembel, Desa/Kecamatan Gambiran, Banyuwangi, ini cukup kreatif. Untuk menghemat pakan ternaknya, memanfaatkan kulit lumpia yang tidak terpakai sebagai campuran katul untuk pakan bebek piaraannya.

Sejak tiga bulan lalu, di kampungnya ada yang membuka usaha kulit lumpia. Dan itu, banyak yang tidak terpakai dan dibuang. “Dari pada dibuang, saya manfaatkan untuk campuran katul pakan ternak bebek,” terang Hadiyanto.

Kulit lumpia yang tidak dipakai itu, terang dia, yang tidak lolos seleksi. Daripada dibuang, diminta untuk campuran pakan ternak. “Kulit lumpia dijemur sampai kering, lalu ditimbuk sampai hancur dan dicampurkan katul dengan perbandingan 40 persen kulit lumpia kering dan 60 persen katul,” ungkapnya.

Inisiatif mencampur kulit lumpia dengan katul ini, terang diua, bermula saat melihat ayam memakan kulit lumpia yang tergeletak di halaman rumah. Dari situ, ia mencoba menggabungkan kulit lumpia dengan katul, dan ternyata dimakan oleh ternaknya. “Kalau hanya katul tidak kuat belinya,”  ucapnya.

Menurut Hadi, saat ini harga katul lumayan mahal, yakni Rp 4.600 per kilogramnya. Padahal dalam sehari, membutuhkan sekiar 25 kilogram katul untuk makanan ternaknya. “Jika diuangkan ya Rp 115 ribu dalam sehari,” jelasnya.

Hadi mengaku sedang merawat 300 ekor anak bebek atau meri, Dengan ternak sebanyak itu, membutuhkan banyak asupan makanan agar pertumbuhanya cepat dan tidak ada yang mati. “Tidak ada jadwal memberi pakan, setiap wadah pakan habis, kita isi lagi,” katanya.(mg5/abi)

GAMBIRAN – Hadiyanto, 45, asal Dusun Stembel, Desa/Kecamatan Gambiran, Banyuwangi, ini cukup kreatif. Untuk menghemat pakan ternaknya, memanfaatkan kulit lumpia yang tidak terpakai sebagai campuran katul untuk pakan bebek piaraannya.

Sejak tiga bulan lalu, di kampungnya ada yang membuka usaha kulit lumpia. Dan itu, banyak yang tidak terpakai dan dibuang. “Dari pada dibuang, saya manfaatkan untuk campuran katul pakan ternak bebek,” terang Hadiyanto.

Kulit lumpia yang tidak dipakai itu, terang dia, yang tidak lolos seleksi. Daripada dibuang, diminta untuk campuran pakan ternak. “Kulit lumpia dijemur sampai kering, lalu ditimbuk sampai hancur dan dicampurkan katul dengan perbandingan 40 persen kulit lumpia kering dan 60 persen katul,” ungkapnya.

Inisiatif mencampur kulit lumpia dengan katul ini, terang diua, bermula saat melihat ayam memakan kulit lumpia yang tergeletak di halaman rumah. Dari situ, ia mencoba menggabungkan kulit lumpia dengan katul, dan ternyata dimakan oleh ternaknya. “Kalau hanya katul tidak kuat belinya,”  ucapnya.

Menurut Hadi, saat ini harga katul lumayan mahal, yakni Rp 4.600 per kilogramnya. Padahal dalam sehari, membutuhkan sekiar 25 kilogram katul untuk makanan ternaknya. “Jika diuangkan ya Rp 115 ribu dalam sehari,” jelasnya.

Hadi mengaku sedang merawat 300 ekor anak bebek atau meri, Dengan ternak sebanyak itu, membutuhkan banyak asupan makanan agar pertumbuhanya cepat dan tidak ada yang mati. “Tidak ada jadwal memberi pakan, setiap wadah pakan habis, kita isi lagi,” katanya.(mg5/abi)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/