alexametrics
23.8 C
Banyuwangi
Tuesday, July 5, 2022

Penambang Pasir Tantang Polisi

SILIRAGUNG – Para penambang pasir yang diduga illegal di Dusun Krajan, Desa Barurejo, Kecamatan Siliragung, ini tidak hanya nekat. Tapi, mereka seolah menantang aparat kepolisian yang telah melarangnya.

Tambang pasir di Dusun Krajan, Desa Barurejo, ini cukup besar. Lokasi yang dikeruk untuk diambil pasir, itu di daerah aliran sungai (DAS) Kalibaru dan kebun yang ada di pinggir sungai. Untuk mengeruk pasir, menggunakan mesin berat atau eksavator. Selain itu, juga menggunakan mesin sedot.

Jalan menuju ke lokasi galian C itu, sebenarnya oleh kepolisian sudah diberi peringatan agar tidak melakukan galian C sebelum ada izin usaha pertambangan (IUP). Tapi nyatanya, setiap hari puluhan dump truck berseliweran ke lokasi tambang pasir. “Sangat menganggu sekali,” terang Wardi, 50, warga Desa Barurejo.

Menurut Wardi, akibat tambang pasir yang ada di desanya itu jalan menjadi rusak. Jika hujan jalan licin karena banyak lumpur, bila panas banyak debu. “Sudah lama tambang pasir itu buka, padahal sudah pernah dilarang polisi,” ungkapnya.

Semantara itu, Kepala Desa Barurejo, Imam Baidowi menga­takan, sudah mengirimi surat ke lokasi tambang pasir itu sebanyak tiga kali. Tapi sampai saat ini, tidak ada tanggapan dari pemilik tambang pasir. “Saya sudah kirim surat sampai tiga kali, tapi tidak ada tanggapan,” cetusnya.

Penambang pasir itu, lanjut dia, dengan seenaknya mengeruk pasir di sungai. Dia khawatir de­ngan dampak lingkungan yang diakibatkan oleh aktivitas penam­bangan pasir liar itu. “Selain me­rusak lingkungan, jalan yang dilalui oleh damp truck sering becek dan tidak bisa dilewati warga,” ungkapnya.

Imam Baidowi mengaku aktivitas tambang pasir yang telah mere­sahkan warga itu, telah dilaporkan ke kantor kecamatan. Tapi sampai saat ini penambangan pasir di desanya masih terus berjalan. “Warga seperti tidak tahan dengan debunya,” cetusnya.

Pada Jawa Pos Radar Genteng Imam Baidowi mengaku juga geran dengan penambang pasir yang terkesan nekat. Padahal, jalan menuju ke lokasi pasir sudah ada banner yang dipasang kepo­lisian dengan melintang di jalan dan berisi larangan melakukan galian C. “Yang kami khawatirkan adalah dampak lingkungan. Mudah-mudahan dinas terkait dapat menghentikan penam­bangan liar itu. Agar dampaknya tidak menimpa warga Desa Baru­rejo,” pintanya. (*)

SILIRAGUNG – Para penambang pasir yang diduga illegal di Dusun Krajan, Desa Barurejo, Kecamatan Siliragung, ini tidak hanya nekat. Tapi, mereka seolah menantang aparat kepolisian yang telah melarangnya.

Tambang pasir di Dusun Krajan, Desa Barurejo, ini cukup besar. Lokasi yang dikeruk untuk diambil pasir, itu di daerah aliran sungai (DAS) Kalibaru dan kebun yang ada di pinggir sungai. Untuk mengeruk pasir, menggunakan mesin berat atau eksavator. Selain itu, juga menggunakan mesin sedot.

Jalan menuju ke lokasi galian C itu, sebenarnya oleh kepolisian sudah diberi peringatan agar tidak melakukan galian C sebelum ada izin usaha pertambangan (IUP). Tapi nyatanya, setiap hari puluhan dump truck berseliweran ke lokasi tambang pasir. “Sangat menganggu sekali,” terang Wardi, 50, warga Desa Barurejo.

Menurut Wardi, akibat tambang pasir yang ada di desanya itu jalan menjadi rusak. Jika hujan jalan licin karena banyak lumpur, bila panas banyak debu. “Sudah lama tambang pasir itu buka, padahal sudah pernah dilarang polisi,” ungkapnya.

Semantara itu, Kepala Desa Barurejo, Imam Baidowi menga­takan, sudah mengirimi surat ke lokasi tambang pasir itu sebanyak tiga kali. Tapi sampai saat ini, tidak ada tanggapan dari pemilik tambang pasir. “Saya sudah kirim surat sampai tiga kali, tapi tidak ada tanggapan,” cetusnya.

Penambang pasir itu, lanjut dia, dengan seenaknya mengeruk pasir di sungai. Dia khawatir de­ngan dampak lingkungan yang diakibatkan oleh aktivitas penam­bangan pasir liar itu. “Selain me­rusak lingkungan, jalan yang dilalui oleh damp truck sering becek dan tidak bisa dilewati warga,” ungkapnya.

Imam Baidowi mengaku aktivitas tambang pasir yang telah mere­sahkan warga itu, telah dilaporkan ke kantor kecamatan. Tapi sampai saat ini penambangan pasir di desanya masih terus berjalan. “Warga seperti tidak tahan dengan debunya,” cetusnya.

Pada Jawa Pos Radar Genteng Imam Baidowi mengaku juga geran dengan penambang pasir yang terkesan nekat. Padahal, jalan menuju ke lokasi pasir sudah ada banner yang dipasang kepo­lisian dengan melintang di jalan dan berisi larangan melakukan galian C. “Yang kami khawatirkan adalah dampak lingkungan. Mudah-mudahan dinas terkait dapat menghentikan penam­bangan liar itu. Agar dampaknya tidak menimpa warga Desa Baru­rejo,” pintanya. (*)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/