alexametrics
27.8 C
Banyuwangi
Monday, July 4, 2022

Deputi BNPT Sebut Banyuwangi Aman Terkendali

TEGALSARI – Deputi Bidang Penindakan dan Pembinaan Kemampuan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Irjen Pol. Ibnu Suhendra, berkunjung ke Pondok Pesantren Darussalam, Blokagung, Desa Karangdoro, Kecamatan Tegalsari, Banyuwangi, Senin (13/12).

Kedatangan perwira polisi bintang dua kelahiran Desa Gladag, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi, itu disambut pengasuh Pondok Pesantren Darussalam, KH. Hasyim Syafaat, KH. Abdul Kholiq Syafaat, dan KH. Ahmad Munib Syafaat. “Pondok pesantren moderat punya peran tinggi dalam membendung faham terorisme di masyarakat,” cetus Irjen Pol. Ibnu Suhendra.

Irjen Pol. Ibnu Suhendra meminta pesantren moderat bisa  menjadi benteng dari terjangan paham radikalisme yang kini tumbuh subur di sejumlah lembaga pendidikan dengan mengusung jargon agama. “Pesantren moderat milik NU -Muhammadiyah jangan sampai disusupi paham radikal,” pintanya.

Meski kasus terorisme banyak melibatkan personalia dengan latar belakang Islam, dia menegaskan potensi paham ini bisa terjadi di semua tempat. Jika mengacu kasus internasional, banyak kejadian terorisme memiliki latar belakang agama beragam. “Problem radikalis teroris itu tidak hanya salah satu agama. Bukan ajaran agama, tapi pahamnya disalahgunakan,” terangnya.

Untuk itu, dia berharap masyarakat terutama lembaga pendidikan seperti pesantren, bisa menjadi penyaring masuknya paham-paham dari luar negeri. Dia menyebut, model beragama yang baik harus menghormati orang lain. “Pemahaman mengkafirkan orang, ini pemahaman apa, Islam kita tidak seperti itu,” jelasnya.

Saat ditanyai tentang adanya anggota kepolisian yang menunjukkan gejala perubahan relijus namun berbeda, dia tidak menampik. Menurutnya, para pengusung paham radikalisme memang sangat jeli. Namun, dia memastikan semau itu sudah termonitor BNPT. “Itulah kecerdikan kelompok radikal, semua harus waspada,” katanya.

Terkait potensi yang bisa muncul di tingkat daerah, seperti di Banyuwangi, dia menyebut Banyuwangi tergolong aman dari infiltrasi paham radikalis. Itu karena kondisi masyarakat di Banyuwangi yang cukup plural sekaligus relijius. “Banyuwangi aman, kok” sebutnya.

Selain berbicara mengenai potensi terorisme, dia juga menyebut penanganan korban teroris saat ini sudah berjalan. Terkait korban tidak langsung, Irjen Ibnu menyebutkan secara prinsip hal itu bisa dilakukan. “Saya rasa (korban tidak langsung) bisa mengajukan, jangankan korban, eks napiter saja kita urus,” katanya.(abi)

TEGALSARI – Deputi Bidang Penindakan dan Pembinaan Kemampuan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Irjen Pol. Ibnu Suhendra, berkunjung ke Pondok Pesantren Darussalam, Blokagung, Desa Karangdoro, Kecamatan Tegalsari, Banyuwangi, Senin (13/12).

Kedatangan perwira polisi bintang dua kelahiran Desa Gladag, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi, itu disambut pengasuh Pondok Pesantren Darussalam, KH. Hasyim Syafaat, KH. Abdul Kholiq Syafaat, dan KH. Ahmad Munib Syafaat. “Pondok pesantren moderat punya peran tinggi dalam membendung faham terorisme di masyarakat,” cetus Irjen Pol. Ibnu Suhendra.

Irjen Pol. Ibnu Suhendra meminta pesantren moderat bisa  menjadi benteng dari terjangan paham radikalisme yang kini tumbuh subur di sejumlah lembaga pendidikan dengan mengusung jargon agama. “Pesantren moderat milik NU -Muhammadiyah jangan sampai disusupi paham radikal,” pintanya.

Meski kasus terorisme banyak melibatkan personalia dengan latar belakang Islam, dia menegaskan potensi paham ini bisa terjadi di semua tempat. Jika mengacu kasus internasional, banyak kejadian terorisme memiliki latar belakang agama beragam. “Problem radikalis teroris itu tidak hanya salah satu agama. Bukan ajaran agama, tapi pahamnya disalahgunakan,” terangnya.

Untuk itu, dia berharap masyarakat terutama lembaga pendidikan seperti pesantren, bisa menjadi penyaring masuknya paham-paham dari luar negeri. Dia menyebut, model beragama yang baik harus menghormati orang lain. “Pemahaman mengkafirkan orang, ini pemahaman apa, Islam kita tidak seperti itu,” jelasnya.

Saat ditanyai tentang adanya anggota kepolisian yang menunjukkan gejala perubahan relijus namun berbeda, dia tidak menampik. Menurutnya, para pengusung paham radikalisme memang sangat jeli. Namun, dia memastikan semau itu sudah termonitor BNPT. “Itulah kecerdikan kelompok radikal, semua harus waspada,” katanya.

Terkait potensi yang bisa muncul di tingkat daerah, seperti di Banyuwangi, dia menyebut Banyuwangi tergolong aman dari infiltrasi paham radikalis. Itu karena kondisi masyarakat di Banyuwangi yang cukup plural sekaligus relijius. “Banyuwangi aman, kok” sebutnya.

Selain berbicara mengenai potensi terorisme, dia juga menyebut penanganan korban teroris saat ini sudah berjalan. Terkait korban tidak langsung, Irjen Ibnu menyebutkan secara prinsip hal itu bisa dilakukan. “Saya rasa (korban tidak langsung) bisa mengajukan, jangankan korban, eks napiter saja kita urus,” katanya.(abi)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/