alexametrics
24 C
Banyuwangi
Friday, August 12, 2022

Pohon Trembesi di RTH Karangharjo Digundul

GLENMORE – Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Desa Karangharjo, Kecamatan Glenmore, kini sedikit berbeda dengan terasa panas. Deretan pohon trembesi yang berada di sisi selatan dan barat, dipotong dan menyisakan batang setinggi dua meter.

Sedikitnya ada 22 pohon trembesi yang selama ini tumbuh besar dan rindang, kini tinggal batangnya saja.

“RTH Karangharjo itu asset desa, kini dikelola oleh karang taruna bersama kelompok pemuda olah­raga,” cetus Kepala Desa Karang­harjo, Miskawi.

Menurut Miskawi, sejak awal karang taruna, kelompok pemuda, dan paguyuban menyampaikan keberadaan pohon trembesi itu merusak bangunan dan paving yang ada di bawahnya. Selain itu, pohon yanga ada di pojok barat menutup pancaran lampu malam. Sehingga, itu sering dimanfaatkan untuk melakukan kegiatan negatif seperti mabuk-mabukan. “Mereka ngomong (bangunan) banyak yang rusak karena akar trembesi. Pohonnya ada yang doyong ke rumah warga, dan kami juga me­nerima pengaduan,” terangnya.

Baca Juga :  Bupati Anas Sebut Festival Balaganjur Satukan Umat Beragama

Setelah ada pengaduan itu, pi­haknya berniat melakukan perem­pesan dan mengganti pohon de­­ngan tanaman akar tunjang. Se­hingga, itu tidak merusak bangunan. “Para pemuda datang ke saya dan kecamatan untuk me­rempesi,” cetusnya.

Miskawi mengaku pemahaman perempesan yang akan dilakukan oleh kaum muda itu hanya me­ngu­rangi dahan yang menjuntai, dan disiapkan pengganti tanaman untuk bertikutnya. “Datang ke saya untuk izin merempesi,” sebutnya.

Tapi ternyata, lanjut dia, perem­pe­san itu dilakukan dengan cara memotong habis, dan menyisakan batang dengan tinggi sekitar dua meter. “Saya juga tidak menya­lah­kan kalangan muda itu, karena sejak awal akan diganti dengan tanaman lain,” ujarnya.

Meski demikian, Miskawi me­ngaku telah mengumpulkan sejumlah pihak yang terlibat pemo­tongan pohon trembesi, agar semua persoalan menjadi jelas. Selain itu, hasil penjualan kayu tersbeut seluruhnya masuk ke kas karang taruna, dan digu­nakan untuk per­siapan peng­gan­tian tanaman. “ Kayunya dijual, desa tidak ikut-ikut, selama ini memang karang taruna dan pemuda yang mengu­rus,” ucap­nya. (*)

Baca Juga :  TN Alas Purwo Punya Pesawat Udara Micro

GLENMORE – Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Desa Karangharjo, Kecamatan Glenmore, kini sedikit berbeda dengan terasa panas. Deretan pohon trembesi yang berada di sisi selatan dan barat, dipotong dan menyisakan batang setinggi dua meter.

Sedikitnya ada 22 pohon trembesi yang selama ini tumbuh besar dan rindang, kini tinggal batangnya saja.

“RTH Karangharjo itu asset desa, kini dikelola oleh karang taruna bersama kelompok pemuda olah­raga,” cetus Kepala Desa Karang­harjo, Miskawi.

Menurut Miskawi, sejak awal karang taruna, kelompok pemuda, dan paguyuban menyampaikan keberadaan pohon trembesi itu merusak bangunan dan paving yang ada di bawahnya. Selain itu, pohon yanga ada di pojok barat menutup pancaran lampu malam. Sehingga, itu sering dimanfaatkan untuk melakukan kegiatan negatif seperti mabuk-mabukan. “Mereka ngomong (bangunan) banyak yang rusak karena akar trembesi. Pohonnya ada yang doyong ke rumah warga, dan kami juga me­nerima pengaduan,” terangnya.

Baca Juga :  Bupati Anas Sebut Festival Balaganjur Satukan Umat Beragama

Setelah ada pengaduan itu, pi­haknya berniat melakukan perem­pesan dan mengganti pohon de­­ngan tanaman akar tunjang. Se­hingga, itu tidak merusak bangunan. “Para pemuda datang ke saya dan kecamatan untuk me­rempesi,” cetusnya.

Miskawi mengaku pemahaman perempesan yang akan dilakukan oleh kaum muda itu hanya me­ngu­rangi dahan yang menjuntai, dan disiapkan pengganti tanaman untuk bertikutnya. “Datang ke saya untuk izin merempesi,” sebutnya.

Tapi ternyata, lanjut dia, perem­pe­san itu dilakukan dengan cara memotong habis, dan menyisakan batang dengan tinggi sekitar dua meter. “Saya juga tidak menya­lah­kan kalangan muda itu, karena sejak awal akan diganti dengan tanaman lain,” ujarnya.

Meski demikian, Miskawi me­ngaku telah mengumpulkan sejumlah pihak yang terlibat pemo­tongan pohon trembesi, agar semua persoalan menjadi jelas. Selain itu, hasil penjualan kayu tersbeut seluruhnya masuk ke kas karang taruna, dan digu­nakan untuk per­siapan peng­gan­tian tanaman. “ Kayunya dijual, desa tidak ikut-ikut, selama ini memang karang taruna dan pemuda yang mengu­rus,” ucap­nya. (*)

Baca Juga :  Ramadan Penjualan Sapi Meningkat

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/