alexametrics
27.5 C
Banyuwangi
Thursday, August 11, 2022

Usai Perayaan Kuningan, Permintaan Janur Menurun

TEGALSARI-Para penyedia janur di Kabupaten Banyuwangi untuk pasar Bali, kini mulai kelimpungan. Sebab, usai perayaan Galungan dan Kuningan, permintaan janur langsung hingga 20 persen.

Salah satu penyedia janur untuk Bali, Katino, 56, asal Desa Karangdoro, Kecamatan Tegalsari, permintaan janur yang menurun itu sebenarnya sudah biasa setiap habis perayaan Galungan dan Kuningan. “Setelah Kuningan permintaan janur turun sampai 20 pesen,” katanya.

Di hari normal, terang dia, biasanya mengirim janur ke sejumlah pasar di Bali hingga 1.500 ikat janur. Tapi setelah perayaan Kuningan, terpaksa dikurangi karena permintaan memang turun. “Turunnya lumayan,” ujarnya.

Baca Juga :  Dibuka Suara Beduk, Dihadiri Lintas Agama

Selain jumlah kiriman, terang dia, harga janur juga mengalami penurunan. Jika biasanya satu ikat janur laku dijual sampai Rp 6.500, setelah perayaan Kuningan hanya laku Rp 6.000 per ikat. “Kondisi ini biasanya tidak lama, hanya hitungan hari saja,” ungkapnya.

Meski permintaan dan harga janur dari Bali menurun, tapi bagi para pencari janur tidak berdampak serius. Mereka setiap hari tetap mencari seperti hari-hari biasa. “Saya setiap hari masih mencari janur,” terang Tukiran, 50, warga Desa Karangdoro.

Hanya saja, lanjut dia, karena saat ini sering turun hujan, tidak bisa memanjat pohon kelapa seperti pada musim panas. “Kalau manjat pohon kelapa jadi licin, jadi harus hati-hati dan dikurangi,” katanya.

Baca Juga :  Harga Getah Karet Turun, Penderes Ikut Mengeluh

Tukiran mengaku kalau musim panas, dalam sehari biasanya dapat memanjat lima pohon kelapa. Tapi kalau sering turun hujan seperti saat ini, sehari hanya satu atau dua pohon kelapa saja. “Mencari janur itu naik sampai puncak, bahaya kalau nekat naik,” cetusnya.(sli/abi)

TEGALSARI-Para penyedia janur di Kabupaten Banyuwangi untuk pasar Bali, kini mulai kelimpungan. Sebab, usai perayaan Galungan dan Kuningan, permintaan janur langsung hingga 20 persen.

Salah satu penyedia janur untuk Bali, Katino, 56, asal Desa Karangdoro, Kecamatan Tegalsari, permintaan janur yang menurun itu sebenarnya sudah biasa setiap habis perayaan Galungan dan Kuningan. “Setelah Kuningan permintaan janur turun sampai 20 pesen,” katanya.

Di hari normal, terang dia, biasanya mengirim janur ke sejumlah pasar di Bali hingga 1.500 ikat janur. Tapi setelah perayaan Kuningan, terpaksa dikurangi karena permintaan memang turun. “Turunnya lumayan,” ujarnya.

Baca Juga :  Dua Motor Tabrakan, Habis Terbakar

Selain jumlah kiriman, terang dia, harga janur juga mengalami penurunan. Jika biasanya satu ikat janur laku dijual sampai Rp 6.500, setelah perayaan Kuningan hanya laku Rp 6.000 per ikat. “Kondisi ini biasanya tidak lama, hanya hitungan hari saja,” ungkapnya.

Meski permintaan dan harga janur dari Bali menurun, tapi bagi para pencari janur tidak berdampak serius. Mereka setiap hari tetap mencari seperti hari-hari biasa. “Saya setiap hari masih mencari janur,” terang Tukiran, 50, warga Desa Karangdoro.

Hanya saja, lanjut dia, karena saat ini sering turun hujan, tidak bisa memanjat pohon kelapa seperti pada musim panas. “Kalau manjat pohon kelapa jadi licin, jadi harus hati-hati dan dikurangi,” katanya.

Baca Juga :  Harga Getah Karet Turun, Penderes Ikut Mengeluh

Tukiran mengaku kalau musim panas, dalam sehari biasanya dapat memanjat lima pohon kelapa. Tapi kalau sering turun hujan seperti saat ini, sehari hanya satu atau dua pohon kelapa saja. “Mencari janur itu naik sampai puncak, bahaya kalau nekat naik,” cetusnya.(sli/abi)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/