alexametrics
28.1 C
Banyuwangi
Thursday, July 7, 2022

Maulid Nabi Tiba, Perajin Kembang Endog Banjir Pesanan

SEMPU – Peringatan Maulid Nabi Muhammad, tinggal sepekan lagi. Perajin kembang endog, mulai mendapatkan berkah. Mereka mulai kebanjiran pesanan untuk dibuat muludan.

Salah satu perajin kembang endog, Jumaati, 50, asal Dusun Klontang, Desa Gendoh, Kecamatan Sempu, mengaku untuk membuat kembang endog ini bisa mendapatkan omzet hingga Rp 3,5 juta. “Setiap muludan, yang mencari kembang endog itu selalu banyak,” katanya.

Kembang endog itu, terang dia, akan dibuat warga untuk perayaan memperingati hari lahirnya Nabi Muhammad dengan diberi telur rebus. “Kembang endog ditaruh di posong pisang dan diarak keliling kampung,” ujarnya.

Jumaati mengaku sudah tujuh tahun ini setiap muludan memproduksi kembang endog. Setiap tahun, biasanya membuat 8.000 kembang endog, dan dijual ke pedagang peracangan di Pasar Gendoh, Kecamatan Sempu. “membuat kembang endog dibantu saudara dan anak-anak,” terangnya.

Untuk membuat kembang endog dengan jumlah besar itu, biasanya dibuat dua bulan atau tiga bulan sebelum muludan. Itu karena pesanan kembang endog cukup banyak. “Harus dicicil, mulai buat setelah Hari Raya Idul Adha,” katanya kepada Jawa Pos Radar Genteng, kemarin (12/11).

Sebanyak 8.000 kembang endog itu, terang dia, biasanya diambil sembilan pedagang peracangan yang ada di pasar. Untuk para pedagang itu, ia mematok harga Rp 30 ribu per seratus kembang endog. “Dari Sembilan pedagang, ada yang mengambil mulai 500 hingga 1.500 kembang endog,” cetusnya.

Untuk membuat satu kembang endog, Jumaati mengaku membutuhkan waktu sekitar empat menit. Dalam membuat kembang endog ini, mulanya harus memotong kertas krep warna-warni dan dibentuk kelopak bunga. Kertas-kertas itu, dirangkai di sebuah tangkai dari bambu sepanjang 25 centimeter. “Bambunya beli dan sudah diserut,” katanya.

Di tengah pandemi Covid-19, Jumiati sempat khawatir tradisi arak-arakan kembang endog ditiadakan. Sebab, ia sudah memiliki banyak stok di rumahnya. “Untung orang-orang tetap menggelar acara maulid, jadi kembang endog bisa laku,” pungkasnya.(mg3/abi)

SEMPU – Peringatan Maulid Nabi Muhammad, tinggal sepekan lagi. Perajin kembang endog, mulai mendapatkan berkah. Mereka mulai kebanjiran pesanan untuk dibuat muludan.

Salah satu perajin kembang endog, Jumaati, 50, asal Dusun Klontang, Desa Gendoh, Kecamatan Sempu, mengaku untuk membuat kembang endog ini bisa mendapatkan omzet hingga Rp 3,5 juta. “Setiap muludan, yang mencari kembang endog itu selalu banyak,” katanya.

Kembang endog itu, terang dia, akan dibuat warga untuk perayaan memperingati hari lahirnya Nabi Muhammad dengan diberi telur rebus. “Kembang endog ditaruh di posong pisang dan diarak keliling kampung,” ujarnya.

Jumaati mengaku sudah tujuh tahun ini setiap muludan memproduksi kembang endog. Setiap tahun, biasanya membuat 8.000 kembang endog, dan dijual ke pedagang peracangan di Pasar Gendoh, Kecamatan Sempu. “membuat kembang endog dibantu saudara dan anak-anak,” terangnya.

Untuk membuat kembang endog dengan jumlah besar itu, biasanya dibuat dua bulan atau tiga bulan sebelum muludan. Itu karena pesanan kembang endog cukup banyak. “Harus dicicil, mulai buat setelah Hari Raya Idul Adha,” katanya kepada Jawa Pos Radar Genteng, kemarin (12/11).

Sebanyak 8.000 kembang endog itu, terang dia, biasanya diambil sembilan pedagang peracangan yang ada di pasar. Untuk para pedagang itu, ia mematok harga Rp 30 ribu per seratus kembang endog. “Dari Sembilan pedagang, ada yang mengambil mulai 500 hingga 1.500 kembang endog,” cetusnya.

Untuk membuat satu kembang endog, Jumaati mengaku membutuhkan waktu sekitar empat menit. Dalam membuat kembang endog ini, mulanya harus memotong kertas krep warna-warni dan dibentuk kelopak bunga. Kertas-kertas itu, dirangkai di sebuah tangkai dari bambu sepanjang 25 centimeter. “Bambunya beli dan sudah diserut,” katanya.

Di tengah pandemi Covid-19, Jumiati sempat khawatir tradisi arak-arakan kembang endog ditiadakan. Sebab, ia sudah memiliki banyak stok di rumahnya. “Untung orang-orang tetap menggelar acara maulid, jadi kembang endog bisa laku,” pungkasnya.(mg3/abi)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/