alexametrics
25.5 C
Banyuwangi
Wednesday, July 6, 2022

Doakan Pandemi Segera Berakhir, Warga Bagorejo Gelar Baritan Suro

RadarBanyuwangi.id – Warga Dusun Umbulrejo, Desa Bagorejo, Kecamatan Srono menggelar tradisi baritan atau takiran, kemarin sore (11/8). Acara yang sudah turun temurun itu, dilaksanakan setiap memasuki bulan Sura.

Dalam baritan ini, warga menggelar ritual di tengah jalan. Saat datang, mereka membawa takiran yang berisi nasi, ayam, dan lauk lainnya. Makanan itu, ditaruh di tengah jalan dengan dikitari. “Kita gelar doa bersama,” terang salah satu tokoh masyarakat Desa Bagorejo, Kecamatan Srono, Tohiri, 54.

Usai doa bersama, terang dia, makanan yang dibawa dari rumah itu selanjutnya dimakan bersama. Tidaks edikit dari warga, membawa pulang untuk diberikan pada keluarganya. “Ritual ini kami lakukan ritual setiap tahun, tahun ini terkendala pandemi Covid-19,” ujarnya.

Warga yang menggelar ritual tahunan itu, terang dia, bukan hanya yang beraga Islam saja. Pemeluk agama Kristen, Hindu, dan Budha juga ikut merayakan baritan untuk menyambut datangnya Sura itu. “Baritan digelar tanpa memandang agama dan suku, ritual ini berjalan penuh kedamaian meski berbeda agama,” ungkapnya.

Menurut Tohiri, Sura dianggap bulan yang sakral bagi sebagian masyarakat Jawa. Pada bulan ini, masyarakat doa bersama dengan mengharap berkah dan terhindar segala bala. “Ada beberapa pantangan yang harus ditinggalkan pada Sura, seperti melangsungkan akad pernikahan dan membangun rumah,” cetusnya.

Karena masih pandemi, jelas dia, baritan kali ini dibatasi agar tidak menimbulkan kerumunan. Seluruh warga wajib memakai masker dan dilarang berjabat tangan. Mereka boleh membawa piring sendiri. “Kami berdoa agar pagebluk segera berlalu,” katanya.(kri/abi)

RadarBanyuwangi.id – Warga Dusun Umbulrejo, Desa Bagorejo, Kecamatan Srono menggelar tradisi baritan atau takiran, kemarin sore (11/8). Acara yang sudah turun temurun itu, dilaksanakan setiap memasuki bulan Sura.

Dalam baritan ini, warga menggelar ritual di tengah jalan. Saat datang, mereka membawa takiran yang berisi nasi, ayam, dan lauk lainnya. Makanan itu, ditaruh di tengah jalan dengan dikitari. “Kita gelar doa bersama,” terang salah satu tokoh masyarakat Desa Bagorejo, Kecamatan Srono, Tohiri, 54.

Usai doa bersama, terang dia, makanan yang dibawa dari rumah itu selanjutnya dimakan bersama. Tidaks edikit dari warga, membawa pulang untuk diberikan pada keluarganya. “Ritual ini kami lakukan ritual setiap tahun, tahun ini terkendala pandemi Covid-19,” ujarnya.

Warga yang menggelar ritual tahunan itu, terang dia, bukan hanya yang beraga Islam saja. Pemeluk agama Kristen, Hindu, dan Budha juga ikut merayakan baritan untuk menyambut datangnya Sura itu. “Baritan digelar tanpa memandang agama dan suku, ritual ini berjalan penuh kedamaian meski berbeda agama,” ungkapnya.

Menurut Tohiri, Sura dianggap bulan yang sakral bagi sebagian masyarakat Jawa. Pada bulan ini, masyarakat doa bersama dengan mengharap berkah dan terhindar segala bala. “Ada beberapa pantangan yang harus ditinggalkan pada Sura, seperti melangsungkan akad pernikahan dan membangun rumah,” cetusnya.

Karena masih pandemi, jelas dia, baritan kali ini dibatasi agar tidak menimbulkan kerumunan. Seluruh warga wajib memakai masker dan dilarang berjabat tangan. Mereka boleh membawa piring sendiri. “Kami berdoa agar pagebluk segera berlalu,” katanya.(kri/abi)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/