alexametrics
28.1 C
Banyuwangi
Thursday, July 7, 2022

Agar tidak Merugi, Petani Asuransikan Tanaman

SINGOJURUH – Serangan hama wereng pada tanaman padi, membuat petani rugi besar. Para petani di Dusun Pengastulan, Desa Singolatren, Kecamatan Si­ngojuruh, meminta untuk di­adakan asuransi tanaman agar keru­gian yang dialami sedikit berkurang.

Permintaan para petani tersebut, setelah Dinas Pertanian Kabupaten Banyuwangi mencanangkan pe­tani ikut asuransi tanaman padi karena rentan serangan hama. “Kami diikutkan asuransi tanaman padi. Banyak contoh tanaman padi yang awalnya bagus tetapi rusak diserang wereng,” ujar salah satu petani, Sunaryo, 54.

Sunaryo menyampaikan petani memang tidak diwajibkan untuk ikut asuransi tanaman padi. Tapi bila tanaman padi diserang hama wereng atau terkena musibah, dengan diikutkan asuransi maka modal yang dikeluarkan bisa kembali. “Kalau ada asuransi, kerugian bila terjadi gagal panen tidak sampai menghilangkan modal,” cetusnya.

Kalau semua petani diikutkan asuransi, lanjutnya, mereka pasti tidak mengalami kerugian yang sangat besar. Hanya saja, harga asuransi yang ditawarkan Dinas Pertanian jangan terlalu mahal. “Biaya asuransi sebesar Rp 36 ribu per hektare, kalau dimurahkan lagi mungkin banyak yang ikut,” jelasnya.

Petani lainnya, Tugiman, me­ngaku harga asuransi yang dita­warkan oleh Dinas Pertanian saat ini sangat terjangkau. Itu bila dibandingkan asuransi ke koperasi simpan pinjam (KSP). “Kalau ke KSP malah sertifikat tanah yang harus ditaruh,” kata lelaki 56 tahun tersebut.

Menurut Tugiman, informasi yang didapat dari Dinas Pertanian Banyuwangi, petani yang sudah ikut asuransi jumlahnya cukup besar. Pada 2017, setidaknya ada 2.073 hektare tanaman padi yang ikut asuransi. Sementara, untuk mengasuransikan tanaman padi, petani cukup mendatangi tenaga penyuluh yang ada di desa atau di kecamatan masing-masing. “Bagi saya sangat mudah dan menghemat tenaga para petani, kalau ada yang bilang mahal mung­kin mereka belum ikut asuransi,” jelasnya. (rio/abi)

SINGOJURUH – Serangan hama wereng pada tanaman padi, membuat petani rugi besar. Para petani di Dusun Pengastulan, Desa Singolatren, Kecamatan Si­ngojuruh, meminta untuk di­adakan asuransi tanaman agar keru­gian yang dialami sedikit berkurang.

Permintaan para petani tersebut, setelah Dinas Pertanian Kabupaten Banyuwangi mencanangkan pe­tani ikut asuransi tanaman padi karena rentan serangan hama. “Kami diikutkan asuransi tanaman padi. Banyak contoh tanaman padi yang awalnya bagus tetapi rusak diserang wereng,” ujar salah satu petani, Sunaryo, 54.

Sunaryo menyampaikan petani memang tidak diwajibkan untuk ikut asuransi tanaman padi. Tapi bila tanaman padi diserang hama wereng atau terkena musibah, dengan diikutkan asuransi maka modal yang dikeluarkan bisa kembali. “Kalau ada asuransi, kerugian bila terjadi gagal panen tidak sampai menghilangkan modal,” cetusnya.

Kalau semua petani diikutkan asuransi, lanjutnya, mereka pasti tidak mengalami kerugian yang sangat besar. Hanya saja, harga asuransi yang ditawarkan Dinas Pertanian jangan terlalu mahal. “Biaya asuransi sebesar Rp 36 ribu per hektare, kalau dimurahkan lagi mungkin banyak yang ikut,” jelasnya.

Petani lainnya, Tugiman, me­ngaku harga asuransi yang dita­warkan oleh Dinas Pertanian saat ini sangat terjangkau. Itu bila dibandingkan asuransi ke koperasi simpan pinjam (KSP). “Kalau ke KSP malah sertifikat tanah yang harus ditaruh,” kata lelaki 56 tahun tersebut.

Menurut Tugiman, informasi yang didapat dari Dinas Pertanian Banyuwangi, petani yang sudah ikut asuransi jumlahnya cukup besar. Pada 2017, setidaknya ada 2.073 hektare tanaman padi yang ikut asuransi. Sementara, untuk mengasuransikan tanaman padi, petani cukup mendatangi tenaga penyuluh yang ada di desa atau di kecamatan masing-masing. “Bagi saya sangat mudah dan menghemat tenaga para petani, kalau ada yang bilang mahal mung­kin mereka belum ikut asuransi,” jelasnya. (rio/abi)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/