alexametrics
23.4 C
Banyuwangi
Wednesday, June 29, 2022

Jalur Alternatif Jauh, Nekat Melewati Jembatan Ambruk

GLENMORE – Sudah tiga pekan, Jembatan Carangan yang menghubungkan Dusun Karangharjo, Desa Karangharjo dengan Dusun Gunungkrikil, Desa Tegalharjo, Kecamatan Glenmore Banyuwangi, ambruk karena di sisi timur ambrol. Tapi hingga Kamis (9/12), belum ada pembersihan atau perbaikan.

Karena tidak ada jalan lain, sejumlah warga ada yang nekat melintasi jembatan yang ambruk pada Kamis malam (18/11) itu untuk keperluan rumah tangga atau kerja. Mereka harus meniti tangga bambu di sisi timur, dan melewati jembatan yang ambruk dan curam di sisi barat.

Untuk menjaga keseimbangan tubuh, saat melewati jembatan yang miring karena ambrol itu harus memegangi tali yang sudah disiapkan. “Saya setiap hari melewati jembatan yang ambruk ini, karena kerja buruh tani di Jolondoro (Dusun Gunungkrikil, Desa Tegalharo,” cetus Misri, nenek 67 tahun yang tinggal di sisi timur sungai Desa Karangharjo, Kecamatan Glenmore.

Misri mengaku memilih jembatan yang ambruk karena jalur yang paling dekat. Sebenarnya ada jalan lain, tapi harus memutar dan sangat jauh. “Saya setiap hari itu dua kali melewati jembatan yang ambruk ini. Sebenarnya takut, tapi tidak ada pilihan lagi,” terangnya.

Nenek berusia lanjut itu berharap, pembangunan Jembatan Carangan ini segera dimulai. Sehingga, ia tidak kesulitan untuk melintasi jembatan itu. Selain itu, kegiatan warga juga bisa lebih mudah, terutama anak-anak Desa Karangharjo yang sekolah di SDN 7 Tegalharjo. “Anak-anak sekolah biar bisa lewat,” harapanya.

Warga lainnya, Sri Palupi, 39, asal Desa Karangharjo yang tinggal tidak dari Jembatan Carangan yang ambruk itu mengungkapkan, setiap pagi banyak orang melintasi jembatan yang ambruk itu. Mereka itu warga yang akan berangkat kerja. “Orang barat jembatan kerja ke timur, dan orang timur kerja di barat jembatan,” ungkapnya.

Tidak semua orang, terang dia, berani melewati jembatan yang ambruk itu. Ibu-ibu yang tinggal di Dusun Gunungkrikil, Desa Tegalharjo akan belanja kebutuhan sembako kepada pedagang keliling, dalam transaksi dibantu tali plastik yang terpasang di jembatan itu. Tapi, biasanya ada orang yang dimintai tolong membawakan barang belanjaan itu. “Kalau beli di mlijoan, pakai tali atau titip pada orang yang berani melewati jembatan,” terangnya.

Palupi menyebut, sebenarnya di masih ada satu jembatan di bawah Jembatan Carangan. Tapim kondisi jembatan itu juga tidak bagus. Untuk dilewati anak-anak dari Desa Karangharjo ke sekolah di SDN 7 Tegalharjo, terlalu jauh dan rawan, terutama saat cuaca hujan. “Jembatan yang ada tidak bagus, anak kecil tidak berani lewat sana,” terangnya.(abi)

GLENMORE – Sudah tiga pekan, Jembatan Carangan yang menghubungkan Dusun Karangharjo, Desa Karangharjo dengan Dusun Gunungkrikil, Desa Tegalharjo, Kecamatan Glenmore Banyuwangi, ambruk karena di sisi timur ambrol. Tapi hingga Kamis (9/12), belum ada pembersihan atau perbaikan.

Karena tidak ada jalan lain, sejumlah warga ada yang nekat melintasi jembatan yang ambruk pada Kamis malam (18/11) itu untuk keperluan rumah tangga atau kerja. Mereka harus meniti tangga bambu di sisi timur, dan melewati jembatan yang ambruk dan curam di sisi barat.

Untuk menjaga keseimbangan tubuh, saat melewati jembatan yang miring karena ambrol itu harus memegangi tali yang sudah disiapkan. “Saya setiap hari melewati jembatan yang ambruk ini, karena kerja buruh tani di Jolondoro (Dusun Gunungkrikil, Desa Tegalharo,” cetus Misri, nenek 67 tahun yang tinggal di sisi timur sungai Desa Karangharjo, Kecamatan Glenmore.

Misri mengaku memilih jembatan yang ambruk karena jalur yang paling dekat. Sebenarnya ada jalan lain, tapi harus memutar dan sangat jauh. “Saya setiap hari itu dua kali melewati jembatan yang ambruk ini. Sebenarnya takut, tapi tidak ada pilihan lagi,” terangnya.

Nenek berusia lanjut itu berharap, pembangunan Jembatan Carangan ini segera dimulai. Sehingga, ia tidak kesulitan untuk melintasi jembatan itu. Selain itu, kegiatan warga juga bisa lebih mudah, terutama anak-anak Desa Karangharjo yang sekolah di SDN 7 Tegalharjo. “Anak-anak sekolah biar bisa lewat,” harapanya.

Warga lainnya, Sri Palupi, 39, asal Desa Karangharjo yang tinggal tidak dari Jembatan Carangan yang ambruk itu mengungkapkan, setiap pagi banyak orang melintasi jembatan yang ambruk itu. Mereka itu warga yang akan berangkat kerja. “Orang barat jembatan kerja ke timur, dan orang timur kerja di barat jembatan,” ungkapnya.

Tidak semua orang, terang dia, berani melewati jembatan yang ambruk itu. Ibu-ibu yang tinggal di Dusun Gunungkrikil, Desa Tegalharjo akan belanja kebutuhan sembako kepada pedagang keliling, dalam transaksi dibantu tali plastik yang terpasang di jembatan itu. Tapi, biasanya ada orang yang dimintai tolong membawakan barang belanjaan itu. “Kalau beli di mlijoan, pakai tali atau titip pada orang yang berani melewati jembatan,” terangnya.

Palupi menyebut, sebenarnya di masih ada satu jembatan di bawah Jembatan Carangan. Tapim kondisi jembatan itu juga tidak bagus. Untuk dilewati anak-anak dari Desa Karangharjo ke sekolah di SDN 7 Tegalharjo, terlalu jauh dan rawan, terutama saat cuaca hujan. “Jembatan yang ada tidak bagus, anak kecil tidak berani lewat sana,” terangnya.(abi)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/