alexametrics
28.9 C
Banyuwangi
Saturday, August 13, 2022

Air Irigasi Minim, Tanaman Cabai Rusak

SINGOJURUH – Para petani cabai merah di Desa Lemahbang Kulon, Kecamatan Singojuruh mengeluhkan minimnya keter­sedian air irigasi, kemarin (11/4). Sebab, itu telah membuat tanaman cabainya rusak dengan daun meranggas dan cabainya kering berubah warna menjadi coklat.

Salah satu petani cabai, Iskak, 60, asal Desa Lemahbang Kulon, Kecamatan Singojuruh, menga­takan tanaman cabai merah mi­liknya kini mulai mengering dan rusak. Itu karena minimnya suplai air irigasi. “Kalau masih sering disiram, kemungkinan tidak me­rang­gas dan kering seperti ini,” ungkapnya

Menurut Iskak, tanaman cabai yang kering dan meranggas itu hasil produksi menjadi turun. Ta­naman cabai rawit seluas satu bau, bila kondisi normal bisa panen delapan hingga sepuluh ton, dan itu bisa dipanen hingga lebih dari 13 kali. “Kalau sudah kering seperti ini bisa kurang dari delapan ton,” jelasnya

Baca Juga :  Konvoi Kelulusan Membawa Kembang Api

Untungnya, terang dia, saat ini harga cabai merah masih relatif stabil, yakni berada di kisaran Rp 10 ribu per kilogramnya. Jika harga cabai ikut-ikutan hancur, maka hasil panennya akan hancur pula. “Jika harganya di bawah Rp 8000 per kilogram, kita bisa rugi besar. Biaya produksi tanaman cabai sangat tinggi,” katanya.

Petani cabai lainnya, Martini, 50, juga mengalami hal yang sama. Malahan, tanaman cabainya sudah banyak yang mati dan dibabati. “Sekarang sudah saya babati,” ujar perempuan paro baya itu.

Martini menyebut meski pernah gagal panen, tapi kini kembali menanam cabai di lahan seluas seperempat hectare. Untuk suplai air, dia selalu menyiram. “Sekarang saya tanam cabai rawit, ini umur­nya baru satu minggu lebih, jadi suplai air harus terus diperhatikan,” katanya.

Baca Juga :  Lahan Petanian Warga Belum Bisa Dipakai

SINGOJURUH – Para petani cabai merah di Desa Lemahbang Kulon, Kecamatan Singojuruh mengeluhkan minimnya keter­sedian air irigasi, kemarin (11/4). Sebab, itu telah membuat tanaman cabainya rusak dengan daun meranggas dan cabainya kering berubah warna menjadi coklat.

Salah satu petani cabai, Iskak, 60, asal Desa Lemahbang Kulon, Kecamatan Singojuruh, menga­takan tanaman cabai merah mi­liknya kini mulai mengering dan rusak. Itu karena minimnya suplai air irigasi. “Kalau masih sering disiram, kemungkinan tidak me­rang­gas dan kering seperti ini,” ungkapnya

Menurut Iskak, tanaman cabai yang kering dan meranggas itu hasil produksi menjadi turun. Ta­naman cabai rawit seluas satu bau, bila kondisi normal bisa panen delapan hingga sepuluh ton, dan itu bisa dipanen hingga lebih dari 13 kali. “Kalau sudah kering seperti ini bisa kurang dari delapan ton,” jelasnya

Baca Juga :  Siswa Singojuruh Raih Danton Terbaik

Untungnya, terang dia, saat ini harga cabai merah masih relatif stabil, yakni berada di kisaran Rp 10 ribu per kilogramnya. Jika harga cabai ikut-ikutan hancur, maka hasil panennya akan hancur pula. “Jika harganya di bawah Rp 8000 per kilogram, kita bisa rugi besar. Biaya produksi tanaman cabai sangat tinggi,” katanya.

Petani cabai lainnya, Martini, 50, juga mengalami hal yang sama. Malahan, tanaman cabainya sudah banyak yang mati dan dibabati. “Sekarang sudah saya babati,” ujar perempuan paro baya itu.

Martini menyebut meski pernah gagal panen, tapi kini kembali menanam cabai di lahan seluas seperempat hectare. Untuk suplai air, dia selalu menyiram. “Sekarang saya tanam cabai rawit, ini umur­nya baru satu minggu lebih, jadi suplai air harus terus diperhatikan,” katanya.

Baca Juga :  Pohon Besar yang Timpa Rumah Misyanto Akhirnya Dievakuasi

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/