alexametrics
23.5 C
Banyuwangi
Sunday, August 14, 2022

Hilang Potensi Keuntungan Souvenir Haji

RadarBanyuwangi.id –  Dampak dibatalkan pemberangkatan haji, ternyata tidak hanya dirasakan calon jamaah haji (CJH) dan keluarganya. Para pedagang souvenir haji, juga terkena imbasnya. Sudah dua kali musim haji, mereka tidak bisa meraup keuntungan.

Salah satu penjual souvenir haji, Fitriyah, 41, asal Dusun Sumbersuko, Desa Yosomulyo, Kecamatan Gambiran mengungkapkan, keputusan tidak menambah stok barang sudah dilakukan sejak 2020 lalu. Saat itu, ketika keputusan pemberangkatan haji mulai simpang siur, sejumlah pedagang memilih menahan diri. “dua tahun banyak yang tidak nyetok,” jelasnya.

Kepada RadarBanyuwangi.id, Fitriyah mengaku masih menyiapkan stok untuk tahun ini. Hanya saja, jenis barang yang didatangkan hanya tertentu. Sehingga, saat pemerintah memutuskan tidak ada pemberangkatan haji, barang itu bisa dijual untuk konsumen umum. “Kalau sajadah, jilbab, dan kerudung masih bisa dijual lagi,” terangnya.

Baca Juga :  ”Bela UMKM”, Bareng-Bareng Pulih dari Pandemi

Untuk menyiasati barang –barang itu menumpuk di gudang, Fitriya mendistribusikan ke koperasi yang ada di pondok pesantren. “Kerudung-kerudung saya kirim ke pondok, lumayan uangnya bisa berputar,” katanya.

Pedagang perlengkapan haji lainnya, Saputro  Aji, 32, asal Dusun Cangaan, Desa Genteng Wetan, Kecamatan Genteng menyatakan dengan tidak ada pemberangkatan haji, potensi keuntungan hilang cukup besar. Tapi, itu tidak dimasukkan dalam kategori rugi. “Untungnya tidak bertambah,” terangnya.

Dengan pembatalan pemberangkatan CJH, tidak membuat para vendor merugi, hanya saja keuntungannya tertunda. Itu karena barang masih bisa disimpan. Selain itu, para vendor di daerah Cangaan hanya menyediakan barang seperti air zam zam dan kurma. “Yang jual souvenir, tidak memiliki air zam zam dan kurma,” jelasnya.(sli/abi)

Baca Juga :  Masih Membandel, Satgas Tutup Toko Modern

RadarBanyuwangi.id –  Dampak dibatalkan pemberangkatan haji, ternyata tidak hanya dirasakan calon jamaah haji (CJH) dan keluarganya. Para pedagang souvenir haji, juga terkena imbasnya. Sudah dua kali musim haji, mereka tidak bisa meraup keuntungan.

Salah satu penjual souvenir haji, Fitriyah, 41, asal Dusun Sumbersuko, Desa Yosomulyo, Kecamatan Gambiran mengungkapkan, keputusan tidak menambah stok barang sudah dilakukan sejak 2020 lalu. Saat itu, ketika keputusan pemberangkatan haji mulai simpang siur, sejumlah pedagang memilih menahan diri. “dua tahun banyak yang tidak nyetok,” jelasnya.

Kepada RadarBanyuwangi.id, Fitriyah mengaku masih menyiapkan stok untuk tahun ini. Hanya saja, jenis barang yang didatangkan hanya tertentu. Sehingga, saat pemerintah memutuskan tidak ada pemberangkatan haji, barang itu bisa dijual untuk konsumen umum. “Kalau sajadah, jilbab, dan kerudung masih bisa dijual lagi,” terangnya.

Baca Juga :  Ketua RT dan RW Purwoharjo Ngluruk Kantor Desa

Untuk menyiasati barang –barang itu menumpuk di gudang, Fitriya mendistribusikan ke koperasi yang ada di pondok pesantren. “Kerudung-kerudung saya kirim ke pondok, lumayan uangnya bisa berputar,” katanya.

Pedagang perlengkapan haji lainnya, Saputro  Aji, 32, asal Dusun Cangaan, Desa Genteng Wetan, Kecamatan Genteng menyatakan dengan tidak ada pemberangkatan haji, potensi keuntungan hilang cukup besar. Tapi, itu tidak dimasukkan dalam kategori rugi. “Untungnya tidak bertambah,” terangnya.

Dengan pembatalan pemberangkatan CJH, tidak membuat para vendor merugi, hanya saja keuntungannya tertunda. Itu karena barang masih bisa disimpan. Selain itu, para vendor di daerah Cangaan hanya menyediakan barang seperti air zam zam dan kurma. “Yang jual souvenir, tidak memiliki air zam zam dan kurma,” jelasnya.(sli/abi)

Baca Juga :  Penyekatan Berakhir, Checkpoint di Kalibaru Segera Ditutup

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

DKB Gelar Workshop Teater dan Pantomim

Tarif Ojol Akan Naik

Ditinggal Ziarah Haji, Rumah Terbakar

/