alexametrics
28.9 C
Banyuwangi
Friday, August 12, 2022

Eksekusi Lahan Berlangsung Ricuh

RadarBanyuwangi.id – Eksekusi tanah di Desa Sumbergondo, Kecamatan Glenmore berlangsung memanas, kemarin (9/6). Kasus tanah seluas 4,5 hektare itu, bermula utang piutang antara Galih Subowo, 44, warga Dusun Ndarungan, Desa Tegalarum, Kecamatan Sempu, dengan ahli waris Sumarah, 45, warga Gunungsari, Desa Sumbergondo, Kecamatan Glenmore.

Pantauan RadarBanyuwangi.id, saat pembacaan putusan eksekusi lahan oleh juru sita Pengadilan Agama (PA) Banyuwangi Junaidi di lokasi lahan, sempat diwarnai kericuhan. Puluhan warga dari kelompok Sumarah yang dipimpin M Yunus Wahyudi berusaha menerobos masuk dan sempat adu mulut. “Ini menjadi kewenangan PA Banyuwangi,” cetus Junaidi.

Junaidi menyampaikan hanya menjalankan perintah keputusan PA dan tidak berhak mengubah putusan tersebut. Jika nanti ada gugatan terkait putusan itu, itu tidak masalah. “Kami hanya melaksanakan tugas membacakan putusan, hasil akhirnya lahan dimenangkan Galih Subowo,” katanya.

Baca Juga :  Kurang Perawatan, Situs Candi Gubug Payung mulai Rusak

Meski massa terus mengecam proses pembacaan putusan, juru sita PA Banyuwangi bergeming dan tetap membacakan putusan hingga selesai. “Dari penetapan PA tertanggal 10 Juli 2020, objek sepenuhnya dikuasai Galih Subowo,” terang Kuasa Hukum Galih Subowo, Anang Suindro.

Menurut Anang, kasus ini berawal dari utang piutang. Ahli waris menjaminkan sertipikat lahan kepada koperasi. Selanjutnya, ada kesepakatan antara ahli waris dan Galih Subowo terkait pelunasan utang piutang itu. “Ahli waris dan Galih Subowo tidak menemukan titik kesepakatan, akhirnya sengketa dibawa ke pengadilan agama,” katanya.

Anang menyebut jika ahli waris ingin melakukan upaya gugatan lainnya, pihaknya sudah siap. Selama ini sudah bergerak sesuai prosedur dengan menempuh jalur hukum yang benar. “Jadi sudah jelas dalam perkara eksekusi lahan itu, kepemilikan objek sepenuhnya ada di Galih Subowo,” cetusnya.

Baca Juga :  Tagih Utang Rp 10 Juta, Pulang Babak Belur Dihajar

Sementara itu, kuasa hukum ahli waris Sumarah, Subhan Fasrial menjelaskan sebenarnya putusan itu masih dalam pengajuan kasasi. Saat ini sifat dari putusan eksekusi lahan hanya sekedar deklaratif. Pihaknya akan menguji penetapan eksekusi itu, karena ada keraguan dan keganjilan dalam penetapan putusan. “Kami curiga ada keganjilan dan keanehan dalam putusan tersebut,” cetusnya.

Langkah yang akan diambil, terang dia, melakukan pengujian terhadap putusan eksekusi itu. Sebab, yang ada itu hanya putusan, bukan eksekusi penyerahan lahan antara penggugat kepada tergugat. “Untuk upaya hukum selanjutnya pasti kami lakukan,” ucapnya. (kri/abi)

RadarBanyuwangi.id – Eksekusi tanah di Desa Sumbergondo, Kecamatan Glenmore berlangsung memanas, kemarin (9/6). Kasus tanah seluas 4,5 hektare itu, bermula utang piutang antara Galih Subowo, 44, warga Dusun Ndarungan, Desa Tegalarum, Kecamatan Sempu, dengan ahli waris Sumarah, 45, warga Gunungsari, Desa Sumbergondo, Kecamatan Glenmore.

Pantauan RadarBanyuwangi.id, saat pembacaan putusan eksekusi lahan oleh juru sita Pengadilan Agama (PA) Banyuwangi Junaidi di lokasi lahan, sempat diwarnai kericuhan. Puluhan warga dari kelompok Sumarah yang dipimpin M Yunus Wahyudi berusaha menerobos masuk dan sempat adu mulut. “Ini menjadi kewenangan PA Banyuwangi,” cetus Junaidi.

Junaidi menyampaikan hanya menjalankan perintah keputusan PA dan tidak berhak mengubah putusan tersebut. Jika nanti ada gugatan terkait putusan itu, itu tidak masalah. “Kami hanya melaksanakan tugas membacakan putusan, hasil akhirnya lahan dimenangkan Galih Subowo,” katanya.

Baca Juga :  Eksekusi Rumah Berlangsung Dramatis, Pemilik Hadang Kendaraan Berat

Meski massa terus mengecam proses pembacaan putusan, juru sita PA Banyuwangi bergeming dan tetap membacakan putusan hingga selesai. “Dari penetapan PA tertanggal 10 Juli 2020, objek sepenuhnya dikuasai Galih Subowo,” terang Kuasa Hukum Galih Subowo, Anang Suindro.

Menurut Anang, kasus ini berawal dari utang piutang. Ahli waris menjaminkan sertipikat lahan kepada koperasi. Selanjutnya, ada kesepakatan antara ahli waris dan Galih Subowo terkait pelunasan utang piutang itu. “Ahli waris dan Galih Subowo tidak menemukan titik kesepakatan, akhirnya sengketa dibawa ke pengadilan agama,” katanya.

Anang menyebut jika ahli waris ingin melakukan upaya gugatan lainnya, pihaknya sudah siap. Selama ini sudah bergerak sesuai prosedur dengan menempuh jalur hukum yang benar. “Jadi sudah jelas dalam perkara eksekusi lahan itu, kepemilikan objek sepenuhnya ada di Galih Subowo,” cetusnya.

Baca Juga :  Kurang Perawatan, Situs Candi Gubug Payung mulai Rusak

Sementara itu, kuasa hukum ahli waris Sumarah, Subhan Fasrial menjelaskan sebenarnya putusan itu masih dalam pengajuan kasasi. Saat ini sifat dari putusan eksekusi lahan hanya sekedar deklaratif. Pihaknya akan menguji penetapan eksekusi itu, karena ada keraguan dan keganjilan dalam penetapan putusan. “Kami curiga ada keganjilan dan keanehan dalam putusan tersebut,” cetusnya.

Langkah yang akan diambil, terang dia, melakukan pengujian terhadap putusan eksekusi itu. Sebab, yang ada itu hanya putusan, bukan eksekusi penyerahan lahan antara penggugat kepada tergugat. “Untuk upaya hukum selanjutnya pasti kami lakukan,” ucapnya. (kri/abi)

Artikel Terkait

Most Read

Lapas Kembali Rumahkan Para Napi

Motor Ditabrak Sedan, Siswi SMA Terluka

Delapan CJH Batalkan Keberangkatan

Artikel Terbaru

/