alexametrics
24.1 C
Banyuwangi
Wednesday, June 29, 2022

Jangan Kendur di Level 2

GENTENG, Jawa Pos Radar Genteng – Penerapan protokol kesehatan (Prokes), terutama di kalangan anak-anak, sepertinya sudah mulai kendor. Padahal, saat ini masih dalam pandemi Covid-19 dan penerapan PPKM Level 2.

Itu seperti santri TPQ di Desa Kembiritan, Kecamatan Genteng, kemarin (7/9). Mereka berangkat mengaji bersama ustadahnya tanpa mengenakan masker. Dan itu bisa terancam penyebaran virus korona. “Kita sudah sering sosialisasi tentang prokes,” cetus Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementeriah Agama (Kemenag) Banyuwangi, Mastur.

Diakui oleh Mastur, di lapangan memang masih ada yang tidak menerapkan prokes secara ketat. Dan itu, menjadi tugasnya untuk mengingatkan lagi. “Selalu saja ada yang kurang memperhatikan, kita ini serba repot,” katanya.

Mastur menyatakan akan segera berkordinasi dengan organisasi TPQ yang ada. Mereka akan diminta kesadarannya untuk menaati prokes dalam kegiatan di pendidikan diniyah. “Akan kita sampaikan lagi pada organisasi TPQ yang ada,” ujarnya pada Jawa Pos Radar Genteng.

Kepala Puskesmas Kembiritan, Kecamatan Genteng, Suroso mengatakan tidak pernah lelah melakukan sosialisasi terkait prokes, mulai dari aturan, penerapan prokes, hingga informasi seputar status dan level PPKM. “Setiap ada permendagri turun dari kecamatan,  langsung kami share di grup lintas sektor,” katanya.

Meski saat ini level PPKM sudah turn menjadi level 2, dan zonasi juga semakin baik. Penerapan prokes dalam bentuk apa pun, harus selalu diterapkan dengan ketat. Tidak terkecuali untuk anak-anak. “Orang tua tidak boleh meremehkan potensi penyebaran penyakit,” cetusnya.

Meski anak-anak di satu lingkungan sehat, jelas dia, itu tidak menjamin terbebas dari ancaman serangan penyakit. Makanya, semua harus menaati prokes secara ketat. “Kalau anak-anak dan teman-temannya sehat, saat bertemu orang lain, belum ada jaminan sehat,” terangnya.

Suroso berharap semua pengelola tempat belajar bisa membenahi penerapan prokes. Itu semua demi kebaikan semua pihak, serta untuk kepentingan jangka panjang. “Setidaknya maskerya dipakai, yang lain nanti mengikuti,” katanya.

GENTENG, Jawa Pos Radar Genteng – Penerapan protokol kesehatan (Prokes), terutama di kalangan anak-anak, sepertinya sudah mulai kendor. Padahal, saat ini masih dalam pandemi Covid-19 dan penerapan PPKM Level 2.

Itu seperti santri TPQ di Desa Kembiritan, Kecamatan Genteng, kemarin (7/9). Mereka berangkat mengaji bersama ustadahnya tanpa mengenakan masker. Dan itu bisa terancam penyebaran virus korona. “Kita sudah sering sosialisasi tentang prokes,” cetus Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementeriah Agama (Kemenag) Banyuwangi, Mastur.

Diakui oleh Mastur, di lapangan memang masih ada yang tidak menerapkan prokes secara ketat. Dan itu, menjadi tugasnya untuk mengingatkan lagi. “Selalu saja ada yang kurang memperhatikan, kita ini serba repot,” katanya.

Mastur menyatakan akan segera berkordinasi dengan organisasi TPQ yang ada. Mereka akan diminta kesadarannya untuk menaati prokes dalam kegiatan di pendidikan diniyah. “Akan kita sampaikan lagi pada organisasi TPQ yang ada,” ujarnya pada Jawa Pos Radar Genteng.

Kepala Puskesmas Kembiritan, Kecamatan Genteng, Suroso mengatakan tidak pernah lelah melakukan sosialisasi terkait prokes, mulai dari aturan, penerapan prokes, hingga informasi seputar status dan level PPKM. “Setiap ada permendagri turun dari kecamatan,  langsung kami share di grup lintas sektor,” katanya.

Meski saat ini level PPKM sudah turn menjadi level 2, dan zonasi juga semakin baik. Penerapan prokes dalam bentuk apa pun, harus selalu diterapkan dengan ketat. Tidak terkecuali untuk anak-anak. “Orang tua tidak boleh meremehkan potensi penyebaran penyakit,” cetusnya.

Meski anak-anak di satu lingkungan sehat, jelas dia, itu tidak menjamin terbebas dari ancaman serangan penyakit. Makanya, semua harus menaati prokes secara ketat. “Kalau anak-anak dan teman-temannya sehat, saat bertemu orang lain, belum ada jaminan sehat,” terangnya.

Suroso berharap semua pengelola tempat belajar bisa membenahi penerapan prokes. Itu semua demi kebaikan semua pihak, serta untuk kepentingan jangka panjang. “Setidaknya maskerya dipakai, yang lain nanti mengikuti,” katanya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/