alexametrics
24.5 C
Banyuwangi
Sunday, June 26, 2022

Akibat Salah Paham, Sekarang Berakhir Damai

GAMBIRAN, Jawa Pos Radar Genteng – Polemik terkait perusakan makam di tempat pemakaman umum (TPU) Dusun Krajan, RT 3,  RW 2, Desa Yosomulyo, Kecamatan Gambiran, berakhir dengan damai. Kedua pihak, oleh Forpimka ditemukan di rumah Sri Harini, salah satu ahli waris yang makam orang tuanya dirusak, Minggu malam (5/9).

Dalam pertemuan itu, dari ahli waris hadir Joko Susilo, 60, Sri Harini, 67. Perwakilan warga yang bertanggung jawab dalam perusakan makam itu diwakili Ribut Pristiyanto. “Saya didatangi Babinsa dan Babinkamtibmas agar kasus ini (perusakan makam) diselesaikan dengan baik-baik,” cetus Sri Harini.

Saat datang ke rumahnya, terang dia, petugas itu berjanji mendatangkan pihak yang dianggap bertanggung jawab atas perusakan tujuh makam tersebut. “Katanya, meski bertanggung jawab, bukan berarti pelakunya,” katanya.

Dalam mediasi yang digelar di rumahnya, terangnya, Ribut mengaku bersalah dan meminta maaf. Hanya saja, tidak mengetahui pelaku utama yang melakukan perusakan batu nisan. “Ribut mengaku mengiyakan saat ada yang mengusulkan pembersihan atau meratakan makam,” ujarnya.

Meski memaafkan, Harini dalam pertemuan itu sempat marah dan meluapkan emosinya pada Ribut. Semestinya, ada warga yang membersihkan atau meratakan makam, bisa mencegah. “Pak Ribut itu kan orang terpandang dan berpengaruh,” cetusnya.

Perataan makam, jelas dia, bisa dilakukan tapi harus melalui musyawarah dengan keluarga yang meninggal. Dalam tradisi masyarakat Jawa, keberadaan nisan nenek moyang itu sangat penting. “Mestinya ya jangan begitu, apalagi budaya Jawa itu makam harus diuri-uri,” ungkapnya.

Dengan kejadian ini, ia berharap masyarakat bisa belajar dan mengambil hikmah. Yang terpenting, kejadian ini tidak terulang lagi. “Makam sudah diperbaiki lagi, dan sudah minta maaf, ya kita maafkan,” katanya.

Kapolsek Gambiran, AKP Suryono Bhakti menjelaskan kasus dugaan perusakan makam itu telah selesai, kedua pihak sepakat damai. “Kami merasa senang, dan berharap kedamaian itu bisa terus dijaga,” harapnya.

Kapolsek meminta pada masyarakat bila akan melaksanakan kegiatan yang berhubungan dengan pihak lain, agar mengedepankan komunikasi. “Setiap masalah dikomunikasikan dulu, biar bisa jelas,” cetusnya.

Seperti diberitakan harian ini sebelumnya, sebanyak tujuh makam di di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Dusun Krajan, RT 3,  RW 2, Desa Yosomulyo, Kecamatan Gambiran rusak berantakan, Minggu (5/6). Diduga, sejumlah kuburan itu sengaja dirusak. Tapi belum diketahui siapa pelakunya.

Makam yang dirusak itu, paling banyak berada di sisi barat berdampingan dengan tebing. Selain itu, beberapa makam yang ada di sisi tengah, termasuk dua makam S. Wiryo Karsono dan istrinya Sutarni yang dipagar. Makam-makam itu, oleh warga dan keluarganya langsung diperbaiki. “Kapan merusaknya, tidak ada yang tahu,” terang salah satu ahli waris makam yang dirusak, Sri Harini, 67.

Makam ibu dan bapaknya yang dirusak itu, terang dia, diketahui pada Kamis sore (2/9). Saat itu, salah satu keponakannya Sulistyowati akan nyekar. “Ponakan saya itu ke makam dan kaget, lalu telepon saya,” terangnya.

GAMBIRAN, Jawa Pos Radar Genteng – Polemik terkait perusakan makam di tempat pemakaman umum (TPU) Dusun Krajan, RT 3,  RW 2, Desa Yosomulyo, Kecamatan Gambiran, berakhir dengan damai. Kedua pihak, oleh Forpimka ditemukan di rumah Sri Harini, salah satu ahli waris yang makam orang tuanya dirusak, Minggu malam (5/9).

Dalam pertemuan itu, dari ahli waris hadir Joko Susilo, 60, Sri Harini, 67. Perwakilan warga yang bertanggung jawab dalam perusakan makam itu diwakili Ribut Pristiyanto. “Saya didatangi Babinsa dan Babinkamtibmas agar kasus ini (perusakan makam) diselesaikan dengan baik-baik,” cetus Sri Harini.

Saat datang ke rumahnya, terang dia, petugas itu berjanji mendatangkan pihak yang dianggap bertanggung jawab atas perusakan tujuh makam tersebut. “Katanya, meski bertanggung jawab, bukan berarti pelakunya,” katanya.

Dalam mediasi yang digelar di rumahnya, terangnya, Ribut mengaku bersalah dan meminta maaf. Hanya saja, tidak mengetahui pelaku utama yang melakukan perusakan batu nisan. “Ribut mengaku mengiyakan saat ada yang mengusulkan pembersihan atau meratakan makam,” ujarnya.

Meski memaafkan, Harini dalam pertemuan itu sempat marah dan meluapkan emosinya pada Ribut. Semestinya, ada warga yang membersihkan atau meratakan makam, bisa mencegah. “Pak Ribut itu kan orang terpandang dan berpengaruh,” cetusnya.

Perataan makam, jelas dia, bisa dilakukan tapi harus melalui musyawarah dengan keluarga yang meninggal. Dalam tradisi masyarakat Jawa, keberadaan nisan nenek moyang itu sangat penting. “Mestinya ya jangan begitu, apalagi budaya Jawa itu makam harus diuri-uri,” ungkapnya.

Dengan kejadian ini, ia berharap masyarakat bisa belajar dan mengambil hikmah. Yang terpenting, kejadian ini tidak terulang lagi. “Makam sudah diperbaiki lagi, dan sudah minta maaf, ya kita maafkan,” katanya.

Kapolsek Gambiran, AKP Suryono Bhakti menjelaskan kasus dugaan perusakan makam itu telah selesai, kedua pihak sepakat damai. “Kami merasa senang, dan berharap kedamaian itu bisa terus dijaga,” harapnya.

Kapolsek meminta pada masyarakat bila akan melaksanakan kegiatan yang berhubungan dengan pihak lain, agar mengedepankan komunikasi. “Setiap masalah dikomunikasikan dulu, biar bisa jelas,” cetusnya.

Seperti diberitakan harian ini sebelumnya, sebanyak tujuh makam di di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Dusun Krajan, RT 3,  RW 2, Desa Yosomulyo, Kecamatan Gambiran rusak berantakan, Minggu (5/6). Diduga, sejumlah kuburan itu sengaja dirusak. Tapi belum diketahui siapa pelakunya.

Makam yang dirusak itu, paling banyak berada di sisi barat berdampingan dengan tebing. Selain itu, beberapa makam yang ada di sisi tengah, termasuk dua makam S. Wiryo Karsono dan istrinya Sutarni yang dipagar. Makam-makam itu, oleh warga dan keluarganya langsung diperbaiki. “Kapan merusaknya, tidak ada yang tahu,” terang salah satu ahli waris makam yang dirusak, Sri Harini, 67.

Makam ibu dan bapaknya yang dirusak itu, terang dia, diketahui pada Kamis sore (2/9). Saat itu, salah satu keponakannya Sulistyowati akan nyekar. “Ponakan saya itu ke makam dan kaget, lalu telepon saya,” terangnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/