alexametrics
25.3 C
Banyuwangi
Thursday, July 7, 2022

Protes Lahan, Warga Datangi Markas TNI AU di Sarongan

PESANGGARAN – Ratusan warga Dusun Krajan, Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggaran mendatangi Pos Detasemen TNI AU Rajegwesi, Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggaran, kemarin pagi (4/11). Mereka menanyakan kabar perihal TNI AU yang disebut akan melakukan pematokan lahan yang kini ditempati.

Warga percaya dengan informasi yang belum jelas kepastiannya itu, setelah sejumlah personel TNI AU dari Pangkalan Udara Abdurahman Saleh, Malang, datang ke desanya. ”Warga datang ke Pos Detasemen TNI AU,” ujar Kepala Desa Sarongan Gunoto.

Menurut Gunoto, warga mendatangi markas TNI AU sekitar pukul 07.00 setelah berembus kabar jika TNI AU akan melakukan pematokan lahan. ”Warga banyak yang resah dengan informasi itu, apalagi lahan itu termasuk yang ditempati warga,” terangnya.

Gunoto menyebut, sekitar dua bulan lalu ada petugas BPN Pusat datang ke tempatnya. Kedatangannya itu, untuk memperjelas batas desa dan Taman Nasional Meru Betiri. Sejak saat itu, ada desas-desus akan ada pematokan lahan santer di kalangan warga. ”Yang mau diukur sekitar 342 hektare, mau alih fungsi menjadi tanah TNI AU,” ujarnya.

Jika pematokan atau pengukuran itu benar dilakukan, terang Gunoto, warga akan semakin resah. Saat ini, ada sekitar 600 kepala keluarga (KK) yang tinggal di area 342 hektare itu. Mereka berada dan tinggal di lokasi itu sejak 1930 dan 1970. ”Luasnya itu mulai makam (selatan kantor desa) sampai Pantai Rajegwesi,“ terangnya.

Lahan yang ada di desanya, masih kata Gunoto, dulunya milik TNI AD. Pada 1997, kepemilikan lahan itu dialihkan ke pemerintah desa. ”Saya itu di sini sejak daerah ini masih hutan, sudahlah, jangan korbankan rakyat kecil,” ungkapnya.

Gunoto berharap pengukuran atau pematokan yang akan dilakukan TNI AU atau instansi mana pun disosialisasikan terlebih dahulu.  Sehingga, warga tidak cemas dan ketakutan. ”Ya jangan ujug-ujug, warga diberi tahu dulu,” harapnya.

Komandan Pos (Danpos) TNI AU Rajegwesi Lettu Kal Hasan Purnomo mengatakan, kehadiran warga ke markasnya itu bukan demo. Mereka datang dengan baik-baik untuk mengajak dialog. ”Mereka bukan demo, kita dialog,” katanya.

Lettu Kal Hasan menegaskan, TNI AU tidak punya agenda pematokan lahan atau rencana penggusuran. Kegiatan yang dilakukan, hanya pengecekan ulang titik koordinat yang pernah dilakukan pada 2019 lalu. Lokasi yang dicek ulang itu, yakni zona khusus Taman Nasional Meru Betiri yang ditemukan pada 2015 di lahan seluas 328 hektare. ”Hanya pengecekan, tidak ada pematokan, apalagi penggusuran,” jelasnya.

Setelah pengecekan ini dilakukan, imbuh Hasan, data akan dilaporkan kepada pimpinan, baik di jajaran TNI AU maupun ke Taman Nasional Meru Betiri. ”Tujuan cek ini untuk dilaporkan ke komando atas, itu saja,” terangnya.

Terkait kekhawatiran warga karena TNI AU dianggap tidak melakukan sosialisasi terlebih dahulu, Hasan menegaskan selama ini pihaknya sudah sering menggelar kegiatan bersama warga. Selain itu, secara resmi kegiatan ini sudah disosialisasikan di tingkat kabupaten sejak September 2021. Bahkan, pada sosialisasi kedua juga mengundang Pemerintah Desa Sarongan. ”Sosialisasi di pemkab dihadiri Pak Sekda pada September lalu, dan di bandara pada 3 November kemarin, “ jelasnya.

Sehingga, imbuh Hasan, kekhawatiran warga itu sudah terjawab. Saat berada di markasnya, warga bisa menerima penjelasan. ”Sudah klir, tadi mereka (warga) sudah paham,” pungkasnya. (abi)

PESANGGARAN – Ratusan warga Dusun Krajan, Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggaran mendatangi Pos Detasemen TNI AU Rajegwesi, Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggaran, kemarin pagi (4/11). Mereka menanyakan kabar perihal TNI AU yang disebut akan melakukan pematokan lahan yang kini ditempati.

Warga percaya dengan informasi yang belum jelas kepastiannya itu, setelah sejumlah personel TNI AU dari Pangkalan Udara Abdurahman Saleh, Malang, datang ke desanya. ”Warga datang ke Pos Detasemen TNI AU,” ujar Kepala Desa Sarongan Gunoto.

Menurut Gunoto, warga mendatangi markas TNI AU sekitar pukul 07.00 setelah berembus kabar jika TNI AU akan melakukan pematokan lahan. ”Warga banyak yang resah dengan informasi itu, apalagi lahan itu termasuk yang ditempati warga,” terangnya.

Gunoto menyebut, sekitar dua bulan lalu ada petugas BPN Pusat datang ke tempatnya. Kedatangannya itu, untuk memperjelas batas desa dan Taman Nasional Meru Betiri. Sejak saat itu, ada desas-desus akan ada pematokan lahan santer di kalangan warga. ”Yang mau diukur sekitar 342 hektare, mau alih fungsi menjadi tanah TNI AU,” ujarnya.

Jika pematokan atau pengukuran itu benar dilakukan, terang Gunoto, warga akan semakin resah. Saat ini, ada sekitar 600 kepala keluarga (KK) yang tinggal di area 342 hektare itu. Mereka berada dan tinggal di lokasi itu sejak 1930 dan 1970. ”Luasnya itu mulai makam (selatan kantor desa) sampai Pantai Rajegwesi,“ terangnya.

Lahan yang ada di desanya, masih kata Gunoto, dulunya milik TNI AD. Pada 1997, kepemilikan lahan itu dialihkan ke pemerintah desa. ”Saya itu di sini sejak daerah ini masih hutan, sudahlah, jangan korbankan rakyat kecil,” ungkapnya.

Gunoto berharap pengukuran atau pematokan yang akan dilakukan TNI AU atau instansi mana pun disosialisasikan terlebih dahulu.  Sehingga, warga tidak cemas dan ketakutan. ”Ya jangan ujug-ujug, warga diberi tahu dulu,” harapnya.

Komandan Pos (Danpos) TNI AU Rajegwesi Lettu Kal Hasan Purnomo mengatakan, kehadiran warga ke markasnya itu bukan demo. Mereka datang dengan baik-baik untuk mengajak dialog. ”Mereka bukan demo, kita dialog,” katanya.

Lettu Kal Hasan menegaskan, TNI AU tidak punya agenda pematokan lahan atau rencana penggusuran. Kegiatan yang dilakukan, hanya pengecekan ulang titik koordinat yang pernah dilakukan pada 2019 lalu. Lokasi yang dicek ulang itu, yakni zona khusus Taman Nasional Meru Betiri yang ditemukan pada 2015 di lahan seluas 328 hektare. ”Hanya pengecekan, tidak ada pematokan, apalagi penggusuran,” jelasnya.

Setelah pengecekan ini dilakukan, imbuh Hasan, data akan dilaporkan kepada pimpinan, baik di jajaran TNI AU maupun ke Taman Nasional Meru Betiri. ”Tujuan cek ini untuk dilaporkan ke komando atas, itu saja,” terangnya.

Terkait kekhawatiran warga karena TNI AU dianggap tidak melakukan sosialisasi terlebih dahulu, Hasan menegaskan selama ini pihaknya sudah sering menggelar kegiatan bersama warga. Selain itu, secara resmi kegiatan ini sudah disosialisasikan di tingkat kabupaten sejak September 2021. Bahkan, pada sosialisasi kedua juga mengundang Pemerintah Desa Sarongan. ”Sosialisasi di pemkab dihadiri Pak Sekda pada September lalu, dan di bandara pada 3 November kemarin, “ jelasnya.

Sehingga, imbuh Hasan, kekhawatiran warga itu sudah terjawab. Saat berada di markasnya, warga bisa menerima penjelasan. ”Sudah klir, tadi mereka (warga) sudah paham,” pungkasnya. (abi)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/