alexametrics
24.5 C
Banyuwangi
Saturday, August 13, 2022

Pabrik Pakaian Ekspor Bangkrut, Karyawan Tuntut Pesangon

SINGOJURUH – Pabrik pakaian PT Baguda Wear di Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh, sudah lama tutup. Kemarin (4/3), pabrik pakaian untuk ekspor itu tampak sepi dan tidak ada aktivitas. Seluruh pintu tutup dan terkunci rapat.

Dari informasi yang berhasil dikumpulkan Jawa Pos Radar Genteng, perusahaan ekspor pakaian jadi itu mengalami pailit. Akibatnya, sebanyak 80 orang karyawannya kehilangan pekerjaanh. “Perusahaan mengalami pailit, dan merumahkan semua karyawannya,” cetus Agus Riyadi, 48, mantan penjaga malam PT Baguna Wear.

Menurut Agus, perusahaan itu berdiri tahun 1997. Sebelumnya kondisi perusahan dikenal bagus. Tapi, kondisinya berubah setelah ada pandemi. “Saya termasuk karyawan yang dirumahkan oleh PT Baguna Wear,” ujarnya.

Agus menyebut bos PT Baguna Wear itu bernama Roger yang merupakan warga negara Malaysia. Roger terakhir mengunjungi perusahaannya itu pada Maret 2020. Sejak itu, tidak diketahui keberadaannya. Orang yang diperintah mengelola perusahaan, Sekertaris PT Baguna Wear, Siami, 40, warga Dusun Bangunrejo, Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh. “Sekertaris PT Baguna Wear juga tidak tahu nasib perusahaan ini,” terangnya.

Baca Juga :  Permintaan Bibit Cabai Rawit Meningkat

Sebelum dinyatakan pailit, jelas dia, PT Baguna Wear ini perusahaan ekspor pakaian berbahan kulit dengan kualitas internasional. Hasil produksi PT Baguna Wear dikirim ke luar negeri seperti Malaysia, Perancis, hingga Amerika. Semenjak pandemi Covid-19 merebak, proses ekspor pakaian produksi PT Baguna Wear tersendat. “Penyebab PT Baguna Wear pailit itu macetnya pengiriman ke luar negeri,” katanya.

Meski dinyatakan pailit, tapi seluruh aset dan perlengkapan perusahaan seperti mesin jahit, bahan baku kulit, dan hasil produksi pakaian masih disimpan di dalam gudang. “Sekarang tidak ada lagi aktivitas di perusahaan, seluruh karyawan sudah dirumahkan,” cetusnya.

Agus menyebut perusahaan mulai lesu sejak Oktober 2020. Selama empat bulan terakhir, para karyawan hanya digaji setengah dari total gaji yang biasa diterima lantaran dampak pandemi. Saat itu, para karyawan tetap masih bekerja untuk perusahaan tersebut. “Sejak Oktober 2020 mulai ada tanda-tanda pailit,” jelasnya.

Baca Juga :  Penjual dan Gerobak Bakso Diseruduk Motor

Baru mulai Minggu (7/2), semua karyawa dirumahkan. Gaji terakhir karyawan juga sudah dibayarkan oleh perusahaan. “Sebagai penjaga malam, saya digaji Rp 2.4 juta per bulan, Tapi mulai Oktober 2020, saya terima gaji Rp 600 ribu per bulan lantaran dampak pandemi,” terangnya.

Meski gaji terakhir sudah dibayar, masih kata dia, para karyawa itu menuntut pesangon. Sebab, pemutusan hubungan kerja itu dilakukan secara sepihak. Saya bekerja 20 tahun, dan belum mendapat pesangon,” ungkap pria yang bertempat tinggal persis di samping PT Baguna Wear itu.(kri/abi)

SINGOJURUH – Pabrik pakaian PT Baguda Wear di Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh, sudah lama tutup. Kemarin (4/3), pabrik pakaian untuk ekspor itu tampak sepi dan tidak ada aktivitas. Seluruh pintu tutup dan terkunci rapat.

Dari informasi yang berhasil dikumpulkan Jawa Pos Radar Genteng, perusahaan ekspor pakaian jadi itu mengalami pailit. Akibatnya, sebanyak 80 orang karyawannya kehilangan pekerjaanh. “Perusahaan mengalami pailit, dan merumahkan semua karyawannya,” cetus Agus Riyadi, 48, mantan penjaga malam PT Baguna Wear.

Menurut Agus, perusahaan itu berdiri tahun 1997. Sebelumnya kondisi perusahan dikenal bagus. Tapi, kondisinya berubah setelah ada pandemi. “Saya termasuk karyawan yang dirumahkan oleh PT Baguna Wear,” ujarnya.

Agus menyebut bos PT Baguna Wear itu bernama Roger yang merupakan warga negara Malaysia. Roger terakhir mengunjungi perusahaannya itu pada Maret 2020. Sejak itu, tidak diketahui keberadaannya. Orang yang diperintah mengelola perusahaan, Sekertaris PT Baguna Wear, Siami, 40, warga Dusun Bangunrejo, Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh. “Sekertaris PT Baguna Wear juga tidak tahu nasib perusahaan ini,” terangnya.

Baca Juga :  Pabrik Jaket Pailit, Karyawan Wadul Disnakertrans

Sebelum dinyatakan pailit, jelas dia, PT Baguna Wear ini perusahaan ekspor pakaian berbahan kulit dengan kualitas internasional. Hasil produksi PT Baguna Wear dikirim ke luar negeri seperti Malaysia, Perancis, hingga Amerika. Semenjak pandemi Covid-19 merebak, proses ekspor pakaian produksi PT Baguna Wear tersendat. “Penyebab PT Baguna Wear pailit itu macetnya pengiriman ke luar negeri,” katanya.

Meski dinyatakan pailit, tapi seluruh aset dan perlengkapan perusahaan seperti mesin jahit, bahan baku kulit, dan hasil produksi pakaian masih disimpan di dalam gudang. “Sekarang tidak ada lagi aktivitas di perusahaan, seluruh karyawan sudah dirumahkan,” cetusnya.

Agus menyebut perusahaan mulai lesu sejak Oktober 2020. Selama empat bulan terakhir, para karyawan hanya digaji setengah dari total gaji yang biasa diterima lantaran dampak pandemi. Saat itu, para karyawan tetap masih bekerja untuk perusahaan tersebut. “Sejak Oktober 2020 mulai ada tanda-tanda pailit,” jelasnya.

Baca Juga :  Tiga Emak-emak Mengaku Jadi Korban Investasi Bodong

Baru mulai Minggu (7/2), semua karyawa dirumahkan. Gaji terakhir karyawan juga sudah dibayarkan oleh perusahaan. “Sebagai penjaga malam, saya digaji Rp 2.4 juta per bulan, Tapi mulai Oktober 2020, saya terima gaji Rp 600 ribu per bulan lantaran dampak pandemi,” terangnya.

Meski gaji terakhir sudah dibayar, masih kata dia, para karyawa itu menuntut pesangon. Sebab, pemutusan hubungan kerja itu dilakukan secara sepihak. Saya bekerja 20 tahun, dan belum mendapat pesangon,” ungkap pria yang bertempat tinggal persis di samping PT Baguna Wear itu.(kri/abi)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/