alexametrics
25.3 C
Banyuwangi
Thursday, July 7, 2022

Topang Ekonomi Keluarga, Tetap Cari Pasir saat Puasa Ramadan

GENTENG – Menumpuknya sedimen pasir di Bendung Setail Teknik, Dusun Jalen, Desa Setail, Kecamatan Genteng, Banyuwangi, biasa diambil oleh penambang pasir manual yang tinggal di sekitar sungai. Selama Ramadan, mereka juga tetap bekerja, Minggu (3/4).

Itu seperti Slamet, 50, warga Dusun Jalen, Desa Setail, Kecamatan Genteng. Meski sedang puasa, tetap bekerja mencari pasir di Bendung Setail Teknik seperti biasanya. Sebab, itu pekerjaan utamanya untuk menompang ekonomi keluarga. “Konsekuensinya cepat capek, tapi mau bagaimana lagi, kerjanya cuma ini,” katanya pada Jawa Pos Radar Genteng.

Pria paro baya yang sepuluh tahun sebelumnya sempat bekerja sebagai makelar sapi itu, mengaku tidak ada pilihan selain mencari pasir seperti para tetangganya. Padahal, penjualan pasir sedang sepi, terutama sejak pandemi Covid-19. “Masalahnya bukan capek, tapi pasirnya tidak laku-laku,” ucapnya sambil tertawa.

Dia mengaku, untuk menjual satu pikap pasir, harus menunggu hingga satu minggu. Bahkan, tidak jarang pasir yang dikumpulkan tidak laku sama sekali. “Seminggu kadang laku satu, kadang dua pikap,” ujarnya.

Menurunnya jumlah permintaan pasir tersebut, terang Slamet, terjadi sejak pandemi Covid-19. Hal itu, masih kata dia, lantaran jumlah orang yang membutuhkan material pasir untuk bangunan juga berkurang. “Orang-orang buat makan saja susah, apalagi untuk hal lain,” ungkapnya.

Slamet berharap, pada puasa seperti ini banyak masyarakat yang mulai membeli pasir untuk perbaikan rumah menjelang Lebaran. “Biasanya ada warga yang mau menggarap perbaikan rumah, makanya ini jagani saja,” cetusnya.

Korsda Pengairan Genteng, Ali Mufat menjelaskan saat musim hujan, sedimen pasir menumpuk di Bendung Setail Teknik. Itu karena pintu air yang akan membawa air ke sawah ditutup. “Sedimen pasir banyak, apalagi kalau debit air meninggi, pasir-pasir itu terbawa arus dari hulu,” jelasnya

Mufat mengaku Pengairan tidak pernah melarang, dan tidak pernah memberikan izin kepada para penambang pasir itu. “Kalau dipikir, itu membantu mengeruk sedimen, tapi kami juga tidak pernah melarang dan mengizinkan,” ucapnya.(sas/abi)

GENTENG – Menumpuknya sedimen pasir di Bendung Setail Teknik, Dusun Jalen, Desa Setail, Kecamatan Genteng, Banyuwangi, biasa diambil oleh penambang pasir manual yang tinggal di sekitar sungai. Selama Ramadan, mereka juga tetap bekerja, Minggu (3/4).

Itu seperti Slamet, 50, warga Dusun Jalen, Desa Setail, Kecamatan Genteng. Meski sedang puasa, tetap bekerja mencari pasir di Bendung Setail Teknik seperti biasanya. Sebab, itu pekerjaan utamanya untuk menompang ekonomi keluarga. “Konsekuensinya cepat capek, tapi mau bagaimana lagi, kerjanya cuma ini,” katanya pada Jawa Pos Radar Genteng.

Pria paro baya yang sepuluh tahun sebelumnya sempat bekerja sebagai makelar sapi itu, mengaku tidak ada pilihan selain mencari pasir seperti para tetangganya. Padahal, penjualan pasir sedang sepi, terutama sejak pandemi Covid-19. “Masalahnya bukan capek, tapi pasirnya tidak laku-laku,” ucapnya sambil tertawa.

Dia mengaku, untuk menjual satu pikap pasir, harus menunggu hingga satu minggu. Bahkan, tidak jarang pasir yang dikumpulkan tidak laku sama sekali. “Seminggu kadang laku satu, kadang dua pikap,” ujarnya.

Menurunnya jumlah permintaan pasir tersebut, terang Slamet, terjadi sejak pandemi Covid-19. Hal itu, masih kata dia, lantaran jumlah orang yang membutuhkan material pasir untuk bangunan juga berkurang. “Orang-orang buat makan saja susah, apalagi untuk hal lain,” ungkapnya.

Slamet berharap, pada puasa seperti ini banyak masyarakat yang mulai membeli pasir untuk perbaikan rumah menjelang Lebaran. “Biasanya ada warga yang mau menggarap perbaikan rumah, makanya ini jagani saja,” cetusnya.

Korsda Pengairan Genteng, Ali Mufat menjelaskan saat musim hujan, sedimen pasir menumpuk di Bendung Setail Teknik. Itu karena pintu air yang akan membawa air ke sawah ditutup. “Sedimen pasir banyak, apalagi kalau debit air meninggi, pasir-pasir itu terbawa arus dari hulu,” jelasnya

Mufat mengaku Pengairan tidak pernah melarang, dan tidak pernah memberikan izin kepada para penambang pasir itu. “Kalau dipikir, itu membantu mengeruk sedimen, tapi kami juga tidak pernah melarang dan mengizinkan,” ucapnya.(sas/abi)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/