alexametrics
24 C
Banyuwangi
Friday, August 12, 2022

Sungai di Empat Kecamatan Masih Keruh

SEMENTARA itu, sudah dua bulan lebih sungai Badeng di wilayah Kecamatan Songgon itu keruh. Dan itu, membuat warga di tiga kecamatan, yakni Kecamatan Singojuruh, Rogojampi, dan Blimbingsari, resah karena tidak bisa memanfaatkan sungai di kampungnya, kemarin (4/4).

Para petani juga harus berhati-hati untuk mengaliri sawahnya. Sebab, aliran sungai yang keruh itu mengandung lumpur. “Air­nya tercampur dengan lumpur,” ujar salah satu petani Songgon, Suroso.

Menurut Suroso, jika air yang tercampur lumpur itu digunakan mengaliri sawah, dikhawatirkan akan merusak tanaman karena lumpur. “Kalau dialirkan ke sawah, nanti lumpur banyak masuk ke sawah,” terangnya.

Warga mulanya mengira kalau air sungai yang keruh itu akibat maraknya penam­bangan pasir. Tapi setelah diberitahu oleh pemerintah desa dan kecamatan, warga tahu kalau ini karena factor alam.

“Banyak warga yang mengira kalau ini ulah tambang pasir,” ung­kapnya.

Baca Juga :  Polsek Sita Puluhan Botol Miras

Warga lainnya, Fahroji, 28, asal Singojuruh mengaku sangat kerepotan dengan air sungai yang kini berubah warna jadi kecoklatan itu. Sebab, tidak bisa dibuat untuk mandi. “Ini sudah duabulan lebih air sungai keruh,” sebutnya.

Diakui Fahroji, air sungai yang keruh tidak membuat warga kekurangan air bersih. Sebab, banyak warga yang memiliki sumur dan memasang PDAM. “Sekarang mandi di rumah tetangga yang punya sumur dan PDAM, tapi ya antre,” cetusnya.

Fahroji berharap air sungai bisa kembali normal, agar warga bisa memanfaatkan lagi untuk kebu­tuhan sehari-hari. “Kasihan warga yang harus menumpang,” ungkap­nya pada Jawa Pos Radar Genteng.

Seperti yang diberitakan harian sebelumnya, sungai yang ada di Kecamatan Songgon keruh. Dan itu juga terjadi di sepanjang aliran sungai hingga di Keca­matan Singojuruh, Rogojampi, dan Blimbingsari.

Baca Juga :  Lima Desa Rawan Bencana, Warga Diminta Tetap Tenang

Selama sungai keruh itu, warga tidak bisa beraktivitas di sungai. Sebab, dengan kondisi air yang keruh hingga berubah warna menjadi kecoklatan itu, dikha­watirkan mengandung bakteri dan membahayakan warga.

Sungai yang keruh itu tidak hanya di sungai besar, tapi juga di sungai yang mengalir di sekitar peru­mahan penduduk. Selama ini, air yang mengandung lumpur itu hanya dibuat untuk mengaliri sawah. “Untungnya tidak sampai meluap dan masuk ke rumah warga,” cetus Subagio, 45, warga Desa Parangharjo, Kecamatan Songgon.

Kepala Desa Parangharjo, Panji Widodo, air sungai yang keruh itu akibat tanah yang longsor di lereng Gunung Raung. Diper­kirakan ada belasan hektare la­han di lereng pegunungan yang long­sor. “Hujan deras terus turun, ini membuat pepohonan juga banyak yang rusak,” terang­nya. (rio/abi)

SEMENTARA itu, sudah dua bulan lebih sungai Badeng di wilayah Kecamatan Songgon itu keruh. Dan itu, membuat warga di tiga kecamatan, yakni Kecamatan Singojuruh, Rogojampi, dan Blimbingsari, resah karena tidak bisa memanfaatkan sungai di kampungnya, kemarin (4/4).

Para petani juga harus berhati-hati untuk mengaliri sawahnya. Sebab, aliran sungai yang keruh itu mengandung lumpur. “Air­nya tercampur dengan lumpur,” ujar salah satu petani Songgon, Suroso.

Menurut Suroso, jika air yang tercampur lumpur itu digunakan mengaliri sawah, dikhawatirkan akan merusak tanaman karena lumpur. “Kalau dialirkan ke sawah, nanti lumpur banyak masuk ke sawah,” terangnya.

Warga mulanya mengira kalau air sungai yang keruh itu akibat maraknya penam­bangan pasir. Tapi setelah diberitahu oleh pemerintah desa dan kecamatan, warga tahu kalau ini karena factor alam.

“Banyak warga yang mengira kalau ini ulah tambang pasir,” ung­kapnya.

Baca Juga :  Lima Desa Rawan Bencana, Warga Diminta Tetap Tenang

Warga lainnya, Fahroji, 28, asal Singojuruh mengaku sangat kerepotan dengan air sungai yang kini berubah warna jadi kecoklatan itu. Sebab, tidak bisa dibuat untuk mandi. “Ini sudah duabulan lebih air sungai keruh,” sebutnya.

Diakui Fahroji, air sungai yang keruh tidak membuat warga kekurangan air bersih. Sebab, banyak warga yang memiliki sumur dan memasang PDAM. “Sekarang mandi di rumah tetangga yang punya sumur dan PDAM, tapi ya antre,” cetusnya.

Fahroji berharap air sungai bisa kembali normal, agar warga bisa memanfaatkan lagi untuk kebu­tuhan sehari-hari. “Kasihan warga yang harus menumpang,” ungkap­nya pada Jawa Pos Radar Genteng.

Seperti yang diberitakan harian sebelumnya, sungai yang ada di Kecamatan Songgon keruh. Dan itu juga terjadi di sepanjang aliran sungai hingga di Keca­matan Singojuruh, Rogojampi, dan Blimbingsari.

Baca Juga :  Warga Hadang Jalan Menuju Kandang Ayam

Selama sungai keruh itu, warga tidak bisa beraktivitas di sungai. Sebab, dengan kondisi air yang keruh hingga berubah warna menjadi kecoklatan itu, dikha­watirkan mengandung bakteri dan membahayakan warga.

Sungai yang keruh itu tidak hanya di sungai besar, tapi juga di sungai yang mengalir di sekitar peru­mahan penduduk. Selama ini, air yang mengandung lumpur itu hanya dibuat untuk mengaliri sawah. “Untungnya tidak sampai meluap dan masuk ke rumah warga,” cetus Subagio, 45, warga Desa Parangharjo, Kecamatan Songgon.

Kepala Desa Parangharjo, Panji Widodo, air sungai yang keruh itu akibat tanah yang longsor di lereng Gunung Raung. Diper­kirakan ada belasan hektare la­han di lereng pegunungan yang long­sor. “Hujan deras terus turun, ini membuat pepohonan juga banyak yang rusak,” terang­nya. (rio/abi)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/