Kamis, 02 Dec 2021
Radar Banyuwangi
Home / Genteng
icon featured
Genteng

Dinas Pertanian Cek Lokasi Pembuangan Jeruk Nipis

04 Februari 2021, 05: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Dinas Pertanian Cek Lokasi Pembuangan Jeruk Nipis

SUDAH BUSUK: Petugas PPL BPP Kecamatan Purwoharjo memeriksa lokasi pembuangan jeruk nipis di hutan jati, Desa Karetan, Kecamatan Purwoharjo, kemarin (2/2). (ARIEF SETIAWAN FOR JPRG)

Share this      

JawaPos.com - Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Banyuwangi mendatangi lokasi pembuangan jeruk nipis di hutan jati RPH Karetan, BKPH Karetan, Perhutani KPH Banyuwangi Selatan, wilayah Desa Karetan, Kecamatan Purwoharjo, kemarin (2/2).

Di lokasi itu Dinas Pertanian dan Pangan yang diwakili petugas Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dari Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Purwoharjo memeriksa ratusan kilogram buah jeruk nipis yang sengaja dibuang petani. “Kami sudah cek lokasi pembuangan jeruk itu,” terang Kepala Dinas Pertanian Banyuwangi, Arief Setiawan melalui Plt. Kepala Bidang (Kabid) Holtikultura dan Perkebunan, Ilham Juanda.

Menurut Ilham, dari hasil cek di lapangan jeruk nipis yang dibuang itu kondisinya sudah tidak segar, kering, dan tak layak dikonsumsi. Diduga, petani setelah memanen jeruk nipis sengaja disimpan menungggu harganya naik. Tapi karena harga tidak kunjung naik, akhirnya dibuang ke tepi hutan. “Ada ratusan kilogram jeruk nipis yang sengaja dibuang petani di tepi hutan jati,” ujarnya.

Ilham menyebut saat ini luas tanaman jeruk siam (jeruk manis) di Kabupaten Banyuwangi ada 12.337 hektare. Untuk di Kecamatan Purwoharjo luas lahan tanaman jeruk siam sekitar 2.106 hektare. Dari laporan petugas lapangan, luas tanaman jeruk nipis di Kecamatan Purwoharjo itu cukup luas, yakni 156 hektare dan itu tersebar di tiga desa, yakni Desa Grajagan, Sumberasri, dan Galagahagung. “Kami menduga yang membuang jeruk nipis itu petani yang ada di Kecamatan Purwoharjo sendiri, mereka membuang pada tengah malam,” ungkapnya.

Saat ini, jelas dia, harga jeruk nipis di tingkat petani Rp 800 hingga Rp 1.000 per kilogram. Sedangkan untuk harga jeruk siam masih stabil, yakni Rp 8.000 per kilogram. Biasanya, jeruk nipis itu dikonsumsi sebagai bahan minuman. Selain itu, juga dapat dimanfaatkan bahan baku sabun cuci pembersih kotoran. “Harga jeruk nipis memang anjlok,” cetusnya.

Ilham meminta pada para petani tidak terlalu lama menyimpan jeruk nipis setelah dipanen. Sebab, jika ditahan terlalu lama dan harganya tidak kunjung naik, buah jeruk nipis cepat kering dan mempengaruhi kualitasnya. “Meski harganya anjlok, petani tidak perlu membuang, pasar jeruk nipis masih banyak dan dibutuhkan pasar,” katanya.(kri/abi)

Baca juga: Seser Petani Tak Pakai Masker

(bw/kri/als/JPR)

©2021 PT. JawaPos Group Multimedia