alexametrics
24 C
Banyuwangi
Wednesday, July 6, 2022

Buka Basecamp dan Layani Kebutuhan Pendaki Gunung Raung

KALIBARU – Daya tarik Gunung Raung yang berada di Kabupaten Banyuwangi dan Bondowoso, memiliki daya tarik yang kuat di kalangan pendaki gunung. Gunung dengan ketinggian 3.344 Mdpl ini, memiliki empat puncak, yakni Puncak Bendera, Puncak 17, Puncak Tusuk Gigi, dan Puncak Sejati. Untuk mencapai puncak itu, pendaki harus melalui medan yang ekstrem.

Jalur pendakian ke Puncak Sejati dibuka tim Pataga Surabaya pada 2002, jalur yang melewati Dusun Wonorejo, Desa Kalibaru Wetan, Kecamatan Kalibaru, itu banyak diminati para penggila pendaki gunung. Akses yang termasuk mudah dan dekat dengan pusat angkutan seperti jalan raya dan Stasiun Kalibaru, dianggap memudahkan para pendaki dari luar daerah.

Menurut kepala Dusun Wonorejo, Hartono, dari data di secretariat pendakian Gunung Raung, jumlah pendaki pada Oktober 2021 mencapai 450 orang, sedangkan pada November 2021 ini, pendaki lebih dari 300 orang. “Kita menghitungnya setiap akhir bulan,” terangnya.

Banyaknya pendaki itu, memacu perekonomian warga Dusun Wonorejo. Mereka banyak yang memanfaatkan rumahnya untuk dijadikan basecamp. Jika sebelumnya hanya rumah milik pasangan Pak Suto-Lilik Sutimbul, 70, yang dijadikan basecamp pendaki, kini di Dusun Wonorejo ada enam basecamp baru yang dikelola warga, yakni basecamp Pak Aldi, basecamp Pak Widi, basecamp Pak Ita, basecamp Pak Breng, basecamp Pak Eko, dan basecamp Pak Yayan. “Jadi sekarang basecamp ada tujuh,” jelasnya.

Pengelola basecamp itu, terang dia, mendapat keuntungan dari menjual kebutuhan pendaki seperti makanan dan keperluan lainnya. Selain itu, mereka juga mendapatkan hasil dari biaya masuk Rp. 50 ribu yang dikenakan kepada setiap pendaki. “Setiap pendaki dikenakan biaya Rp. 50 ribu, dana itu yang Rp. 5.000 untuk basecamp,” jelasnya.

Selain untuk pengelola basecamp, biaya masuk Rp 50 ribu itu juga meliputi asuransi pendaki, dan kepentingan masyarakat. “Uang masuk itu kita alokasikan untuk kepentingan jalur, SAR, kas dusun, sekretariat, Perhutani, dan LMDH,” bebernya.

Dalam pengelolaan pendakian itu, juga disediakan tim pendukung, seperti guide (pemandu) dan porter. Untuk tim pendukung ini, dikenakan biaya tambahan mulai Rp. 450 ribu, dan Rp. 1.5 juta untuk dukungan VIP, menyesuaikan rombongan dan barang yang dibawa. “Biaya itu termasuk ojek ke titik pendakian, kalau VIP barang dibawakan,” terangnya.

Para pendaki diharuskan membekali diri dengan peralatan dan perlengkapan dasar standar. Selain itu, harus menyertakan surat keterangan sehat dari dokter. Selama pandemi, ditambahi keterangan sudah menjalani vaksinasi. “Kami mengupayakan agar surat keterangan bisa diperoleh dari Puskesmas terdekat,” cetusnya.

Untuk pendakian, Hartono menyebut dibutuhkan waktu yang ideal tiga hari. Jika berangkat Jumat pagi, maka Minggu sore pendaki sudah tiba di basecamp. “Berangkat Jumat pagi, sampai di Puncak Sejati pada Sabtu sekitar pukul 09.00,” ungkapnya.

Bagi pengelola basecamp, keberadaan pendaki yang datang sudah menjadi saudara. Mereka tidak lagi dihitung sebagai orang yang menginap. “Kami ini hanya membantu pendaki,” ujar Lilik Sutimbul, pengelola basecamp Pak Suto.

Saat ini pendaki di basecamp tidak seramai pada tahun-tahun awal pendakian. Itu karena jumlah basecamp bertambah. Tapi, ia bersyukur karena bisa menambah pendapatan. Seperti saat ini, pendaki yang singgah di basecamp miliknya hanya empat orang, tapi itu dianggap sudah meski demikian dia merasa sudah untung. “Kita harus berbagi engan semua,” terangnya.

Sekrretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, Choliqul Ridho mengungkapkan sampai saat ini belum mengetahui secara detail pendakian di Gunung Raung. “Laporan kunjungan, kami juga tidak tahu,” jelasnya.

Jika potensi ini ada dan besar, pihaknya akan berusaha melakukan pendekatan agar ada peningkatan kapasitas pengelola. “Kalau seperti ini, mungkin kita akan ke sana,” cetusnya. (abi)

KALIBARU – Daya tarik Gunung Raung yang berada di Kabupaten Banyuwangi dan Bondowoso, memiliki daya tarik yang kuat di kalangan pendaki gunung. Gunung dengan ketinggian 3.344 Mdpl ini, memiliki empat puncak, yakni Puncak Bendera, Puncak 17, Puncak Tusuk Gigi, dan Puncak Sejati. Untuk mencapai puncak itu, pendaki harus melalui medan yang ekstrem.

Jalur pendakian ke Puncak Sejati dibuka tim Pataga Surabaya pada 2002, jalur yang melewati Dusun Wonorejo, Desa Kalibaru Wetan, Kecamatan Kalibaru, itu banyak diminati para penggila pendaki gunung. Akses yang termasuk mudah dan dekat dengan pusat angkutan seperti jalan raya dan Stasiun Kalibaru, dianggap memudahkan para pendaki dari luar daerah.

Menurut kepala Dusun Wonorejo, Hartono, dari data di secretariat pendakian Gunung Raung, jumlah pendaki pada Oktober 2021 mencapai 450 orang, sedangkan pada November 2021 ini, pendaki lebih dari 300 orang. “Kita menghitungnya setiap akhir bulan,” terangnya.

Banyaknya pendaki itu, memacu perekonomian warga Dusun Wonorejo. Mereka banyak yang memanfaatkan rumahnya untuk dijadikan basecamp. Jika sebelumnya hanya rumah milik pasangan Pak Suto-Lilik Sutimbul, 70, yang dijadikan basecamp pendaki, kini di Dusun Wonorejo ada enam basecamp baru yang dikelola warga, yakni basecamp Pak Aldi, basecamp Pak Widi, basecamp Pak Ita, basecamp Pak Breng, basecamp Pak Eko, dan basecamp Pak Yayan. “Jadi sekarang basecamp ada tujuh,” jelasnya.

Pengelola basecamp itu, terang dia, mendapat keuntungan dari menjual kebutuhan pendaki seperti makanan dan keperluan lainnya. Selain itu, mereka juga mendapatkan hasil dari biaya masuk Rp. 50 ribu yang dikenakan kepada setiap pendaki. “Setiap pendaki dikenakan biaya Rp. 50 ribu, dana itu yang Rp. 5.000 untuk basecamp,” jelasnya.

Selain untuk pengelola basecamp, biaya masuk Rp 50 ribu itu juga meliputi asuransi pendaki, dan kepentingan masyarakat. “Uang masuk itu kita alokasikan untuk kepentingan jalur, SAR, kas dusun, sekretariat, Perhutani, dan LMDH,” bebernya.

Dalam pengelolaan pendakian itu, juga disediakan tim pendukung, seperti guide (pemandu) dan porter. Untuk tim pendukung ini, dikenakan biaya tambahan mulai Rp. 450 ribu, dan Rp. 1.5 juta untuk dukungan VIP, menyesuaikan rombongan dan barang yang dibawa. “Biaya itu termasuk ojek ke titik pendakian, kalau VIP barang dibawakan,” terangnya.

Para pendaki diharuskan membekali diri dengan peralatan dan perlengkapan dasar standar. Selain itu, harus menyertakan surat keterangan sehat dari dokter. Selama pandemi, ditambahi keterangan sudah menjalani vaksinasi. “Kami mengupayakan agar surat keterangan bisa diperoleh dari Puskesmas terdekat,” cetusnya.

Untuk pendakian, Hartono menyebut dibutuhkan waktu yang ideal tiga hari. Jika berangkat Jumat pagi, maka Minggu sore pendaki sudah tiba di basecamp. “Berangkat Jumat pagi, sampai di Puncak Sejati pada Sabtu sekitar pukul 09.00,” ungkapnya.

Bagi pengelola basecamp, keberadaan pendaki yang datang sudah menjadi saudara. Mereka tidak lagi dihitung sebagai orang yang menginap. “Kami ini hanya membantu pendaki,” ujar Lilik Sutimbul, pengelola basecamp Pak Suto.

Saat ini pendaki di basecamp tidak seramai pada tahun-tahun awal pendakian. Itu karena jumlah basecamp bertambah. Tapi, ia bersyukur karena bisa menambah pendapatan. Seperti saat ini, pendaki yang singgah di basecamp miliknya hanya empat orang, tapi itu dianggap sudah meski demikian dia merasa sudah untung. “Kita harus berbagi engan semua,” terangnya.

Sekrretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, Choliqul Ridho mengungkapkan sampai saat ini belum mengetahui secara detail pendakian di Gunung Raung. “Laporan kunjungan, kami juga tidak tahu,” jelasnya.

Jika potensi ini ada dan besar, pihaknya akan berusaha melakukan pendekatan agar ada peningkatan kapasitas pengelola. “Kalau seperti ini, mungkin kita akan ke sana,” cetusnya. (abi)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/