alexametrics
27.6 C
Banyuwangi
Thursday, July 7, 2022

Wong Cilik Sebut Pancasila Belum Membumi

RADAR GENTENG – Beragam komentar disampaikan masyarakat terkait Pancasila. Mereka mengetahui hari lahirnya pada 1 Juni, tapi ada yang tidak hapal kelima silanya. Juga ada yang menyebut, Pancasila belum dilaksanakan dengan baik.

Meski menjadi dasar negara, tapi banyak yang tidak memahami dan melaksanakan nilai-nilai yang ada di Pancasila. “Saya tidak hapal dengan lima sila itu,” kata Abdur Rahman, 63, juru parkir (jukir) yang biasa mangkal di Jalan Gajah Mada, Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng, Banyuwangi.

Rahman yang tinggal di Dusun Sawahan, Desa Genteng Kulon, itu mengaku pernah Sekolah Rakyat (SR), dan mengetahui kalau Pancasila itu terdiri lima pasal. “Saya tahu 1 JUni hari lahir Pancasila dari berita di televisi, kalau tidak diberitakan ya tidak tahu,” katanya.

Rahman yang sudah puluhan tahun menjadi jukir itu menyampaikan, Pancasila itu peninggalan Presiden Soekarno. Hanya saja, dia tidak tahu nilai-nila yang ada di dasar negara itu. “Pokoknya kalau baik untuk masyarakat Indonesia ya harus dipertahankan, tapi kalau tidak bermanfaat untuk rakyat, apalagi rakyat kecil seperti saya, lebih baik tidak ada,” ujarnya.

JAGA: Abd Rahman menjaga parkir di Jalan Gajah Mada, Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng, Rabu (1/6). (Irham Muzaki/Radar Genteng)

Beda dengan Yusuf Efendi, 56. tukang servis jam tangan sejak 1983 di Pasar Genteng 1, Desa Genteng Kulon, tahu kelahiran Pancasila pada 1 Juni dari kalender dan siaran di televisi. “Saya waktu sekolah dulu surah hapalan, sampai sekarang tetap hapal,” cetus warga Dusun Kaliputih, Desa Kembiritan, Kecamatan Genteng itu.

Yusuf menyebut keberadaan Pancasila sangat berpengaruh terhadap kemajuan bangsa dan kemakmuran masyarakat, meski belum sepenuhnya makmur. “Pancasila juga belum dilaksanakan sepenuhnya,” cetusnya.

Sila kelima tentang keadilan, terang dia, menurutnya belum terlaksana dengan sempurna. Keadilan di Indonesia, masih belum adil secara merata. “Seorang pejabat korupsi, hukumannya selalu tidak sebanding dengan uang negara yang diambil, mungkin untuk menegakan keadilan di Indonesia memang masih susah,” ungkapnya.(mg5/abi)

RADAR GENTENG – Beragam komentar disampaikan masyarakat terkait Pancasila. Mereka mengetahui hari lahirnya pada 1 Juni, tapi ada yang tidak hapal kelima silanya. Juga ada yang menyebut, Pancasila belum dilaksanakan dengan baik.

Meski menjadi dasar negara, tapi banyak yang tidak memahami dan melaksanakan nilai-nilai yang ada di Pancasila. “Saya tidak hapal dengan lima sila itu,” kata Abdur Rahman, 63, juru parkir (jukir) yang biasa mangkal di Jalan Gajah Mada, Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng, Banyuwangi.

Rahman yang tinggal di Dusun Sawahan, Desa Genteng Kulon, itu mengaku pernah Sekolah Rakyat (SR), dan mengetahui kalau Pancasila itu terdiri lima pasal. “Saya tahu 1 JUni hari lahir Pancasila dari berita di televisi, kalau tidak diberitakan ya tidak tahu,” katanya.

Rahman yang sudah puluhan tahun menjadi jukir itu menyampaikan, Pancasila itu peninggalan Presiden Soekarno. Hanya saja, dia tidak tahu nilai-nila yang ada di dasar negara itu. “Pokoknya kalau baik untuk masyarakat Indonesia ya harus dipertahankan, tapi kalau tidak bermanfaat untuk rakyat, apalagi rakyat kecil seperti saya, lebih baik tidak ada,” ujarnya.

JAGA: Abd Rahman menjaga parkir di Jalan Gajah Mada, Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng, Rabu (1/6). (Irham Muzaki/Radar Genteng)

Beda dengan Yusuf Efendi, 56. tukang servis jam tangan sejak 1983 di Pasar Genteng 1, Desa Genteng Kulon, tahu kelahiran Pancasila pada 1 Juni dari kalender dan siaran di televisi. “Saya waktu sekolah dulu surah hapalan, sampai sekarang tetap hapal,” cetus warga Dusun Kaliputih, Desa Kembiritan, Kecamatan Genteng itu.

Yusuf menyebut keberadaan Pancasila sangat berpengaruh terhadap kemajuan bangsa dan kemakmuran masyarakat, meski belum sepenuhnya makmur. “Pancasila juga belum dilaksanakan sepenuhnya,” cetusnya.

Sila kelima tentang keadilan, terang dia, menurutnya belum terlaksana dengan sempurna. Keadilan di Indonesia, masih belum adil secara merata. “Seorang pejabat korupsi, hukumannya selalu tidak sebanding dengan uang negara yang diambil, mungkin untuk menegakan keadilan di Indonesia memang masih susah,” ungkapnya.(mg5/abi)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/