23.7 C
Banyuwangi
Tuesday, March 28, 2023

Desa Kumendung, Kecamatan Muncar

Sulap Gumuk Tak Terawat Menjadi Destinasi Wisata

MUNCAR, Jawa Pos Radar Genteng – Desa Kumendung, Kecamatan Muncar, hasil pemekaran dari Desa Sumbersewu, Kecamatan Muncar pada 2000. Desa yang berbatasan dengan Selat Bali di sebelah timur itu, memiliki potensi yang tinggi di bidang Pariwisata.

Potensi itu, kini tengah dikembangkan, salah satunya dengan mengembangkan Pantai Warung Doyong yang pengelolaannya diserahkan pada masyarakat. “Kelompok masyarakat menggarap potensi yang tersimpan itu,” cetus Kepala Desa (Kades) Kumendung, Husaini.

Menurut Kades Husaini, warga sejak setahun lalu ingin mengelola potensi wisata yang ada di desanya, karena dianggap memiliki daya tarik sendiri. “Warga membuka wisata baru, Pantai Warung Doyong,” katanya.

Untuk pengelolaan tempat wisata ini, jelas dia, warga membentuk kelompok yang diberi nama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Waruan. Mereka ini menggarap tempat wisata ini secara profesional. “Ini baru berjalan setahun,” ujarnya.

Pengurus Pokdarwis Waruan, Habib Mustofa, 52, mengisahkan Pantai Waru Doyong itu dulunya gumuk yang tidak terurus. Warga yang datang ke tempat itu hanya nelayan yang akan mencari ikan. Di gumuk itu beraneka jenis pepohonan dan tanaman liar. Salah satu pohon di gumuk itu jenis waru. “Dari pohon warung itu, tempat wisata itu dinamai Pantai Waru Doyong,” katanya.

Baca Juga :  Cegah Kamtibmas Terganggu, Tiga Regu Satpamobvit Pantau Tempat Wisata

Menurut Habib, selama ini warga yang kini menjadi pengurus dan anggota Pokdarwis, ingin di desanya memiliki destinasi wisata. “Ide itu disampaikan ke pak kades dan disetujui, akhirnya dibentuk Pokdarwis,” ujarnya,

Pokdarwis yang saat itu hanya beranggotakan enam orang, melakukan penataan di Pantai Waru Doyong. Gumuk yang tidak terawat diratakan. Di tempat itu diberi fasilitas pendukung seperti toilet, lahan parkir, tempat duduk, hingga warung-warung di sekitar pantai. “Ini biayanya banyak, untuk meratakan gumuk saja biayanya jutaan rupiah,” ungkapnya.

Habib menyebut, proses perataan dan melengkapi fasilitas di Pantai Warung Doyong itu membutuhkan waktu sekitar empat bulan. “Lahan kosong di sekitar pantai, kita tawarkan pada warga yang mau membuka warung. Ini kita hanya menyediakan lahannya saja,” katanya.

Baca Juga :  Hari Raya Galungan Digelar di Kalibaru
BERPASIR LEMBUT: Pantai Waru Doyong yang dikembangkan Pokdarwis Waruan di Desa Kumendung, Kecamatan Muncar, Senin (27/2). (Foto: Lugas Rumpakaadi/JPRG)

Saat baru dibuka itu, jelas dia, ada enam warung yang aktif di sekitar Pantai Waru Doyong. Warung itu milik anggota Pokdarwis. Yang dijual di setiap warung berbeda, memiliki ciri khas sendiri. “Ada yang jualan rujak, dan ada yang jualan minuman seperti es cendol,” kata Habib.

Di hari biasa, tidak banyak aktivitas di pantai yang letaknya tak jauh dari Pantai Gumuk Kantong. Untuk masuk, pengelola tidak menarik biaya. “Biaya masuk hanya kami berlakukan saat hari Minggu,” ungkapnya.

Saat liburan dan Minggu, masih kata dia, tarif untuk masuk di Pantai Waru Doyong juga tidak terlalu mahal. Pengelola hanya menghitung jumlah kendaraan yang masuk. “Tarif untuk mobil Rp 10 ribu, sedangkan satu sepeda motor hanya Rp 5 ribu,” imbuhnya.

Setiap Minggu, lanjut dia, ratusan pengunjung datang ke pantai yang memiliki pasir lembut itu. “Kalau Minggu pengunjung sekitar ratusan orang, pendapatan dari parkir sekitar Rp 1,7 juta,” ujar Habib.(gas/abi)

 

MUNCAR, Jawa Pos Radar Genteng – Desa Kumendung, Kecamatan Muncar, hasil pemekaran dari Desa Sumbersewu, Kecamatan Muncar pada 2000. Desa yang berbatasan dengan Selat Bali di sebelah timur itu, memiliki potensi yang tinggi di bidang Pariwisata.

Potensi itu, kini tengah dikembangkan, salah satunya dengan mengembangkan Pantai Warung Doyong yang pengelolaannya diserahkan pada masyarakat. “Kelompok masyarakat menggarap potensi yang tersimpan itu,” cetus Kepala Desa (Kades) Kumendung, Husaini.

Menurut Kades Husaini, warga sejak setahun lalu ingin mengelola potensi wisata yang ada di desanya, karena dianggap memiliki daya tarik sendiri. “Warga membuka wisata baru, Pantai Warung Doyong,” katanya.

Untuk pengelolaan tempat wisata ini, jelas dia, warga membentuk kelompok yang diberi nama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Waruan. Mereka ini menggarap tempat wisata ini secara profesional. “Ini baru berjalan setahun,” ujarnya.

Pengurus Pokdarwis Waruan, Habib Mustofa, 52, mengisahkan Pantai Waru Doyong itu dulunya gumuk yang tidak terurus. Warga yang datang ke tempat itu hanya nelayan yang akan mencari ikan. Di gumuk itu beraneka jenis pepohonan dan tanaman liar. Salah satu pohon di gumuk itu jenis waru. “Dari pohon warung itu, tempat wisata itu dinamai Pantai Waru Doyong,” katanya.

Baca Juga :  Dinas Pengairan Ajak Petani Doa Bersama dan Larung Dawet

Menurut Habib, selama ini warga yang kini menjadi pengurus dan anggota Pokdarwis, ingin di desanya memiliki destinasi wisata. “Ide itu disampaikan ke pak kades dan disetujui, akhirnya dibentuk Pokdarwis,” ujarnya,

Pokdarwis yang saat itu hanya beranggotakan enam orang, melakukan penataan di Pantai Waru Doyong. Gumuk yang tidak terawat diratakan. Di tempat itu diberi fasilitas pendukung seperti toilet, lahan parkir, tempat duduk, hingga warung-warung di sekitar pantai. “Ini biayanya banyak, untuk meratakan gumuk saja biayanya jutaan rupiah,” ungkapnya.

Habib menyebut, proses perataan dan melengkapi fasilitas di Pantai Warung Doyong itu membutuhkan waktu sekitar empat bulan. “Lahan kosong di sekitar pantai, kita tawarkan pada warga yang mau membuka warung. Ini kita hanya menyediakan lahannya saja,” katanya.

Baca Juga :  Reruntuhan Batu Bata Kerajaan Macan Putih Jadi Destinasi Cagar Budaya
BERPASIR LEMBUT: Pantai Waru Doyong yang dikembangkan Pokdarwis Waruan di Desa Kumendung, Kecamatan Muncar, Senin (27/2). (Foto: Lugas Rumpakaadi/JPRG)

Saat baru dibuka itu, jelas dia, ada enam warung yang aktif di sekitar Pantai Waru Doyong. Warung itu milik anggota Pokdarwis. Yang dijual di setiap warung berbeda, memiliki ciri khas sendiri. “Ada yang jualan rujak, dan ada yang jualan minuman seperti es cendol,” kata Habib.

Di hari biasa, tidak banyak aktivitas di pantai yang letaknya tak jauh dari Pantai Gumuk Kantong. Untuk masuk, pengelola tidak menarik biaya. “Biaya masuk hanya kami berlakukan saat hari Minggu,” ungkapnya.

Saat liburan dan Minggu, masih kata dia, tarif untuk masuk di Pantai Waru Doyong juga tidak terlalu mahal. Pengelola hanya menghitung jumlah kendaraan yang masuk. “Tarif untuk mobil Rp 10 ribu, sedangkan satu sepeda motor hanya Rp 5 ribu,” imbuhnya.

Setiap Minggu, lanjut dia, ratusan pengunjung datang ke pantai yang memiliki pasir lembut itu. “Kalau Minggu pengunjung sekitar ratusan orang, pendapatan dari parkir sekitar Rp 1,7 juta,” ujar Habib.(gas/abi)

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/