alexametrics
23.8 C
Banyuwangi
Tuesday, July 5, 2022

Kades Ma’aruf Berdalih Penambangan Meratakan Sawah

SONGGON – Kepala Desa (Kades) Sumberbulu, Kecamatan Songgon yang juga pemilik tambang pasir maut, Sarengat Ma’aruf, mengaku tidak berniat mengkomersilkan sawahnya dengan membuat tambang pasir. Sawahnya yang dikeruk Imam Syafi’i, 37, dan ambrol itu hanya untuk meratakan.

Sawah yang berlokasi tidak jauh dari rumahnya itu, kondisinya seperti tanjakan. Dengan dikeruk, maka sawahnya itu akan bisa rata dengan sawah milik warga lainnya. “Saya suruh ambil pasirnya biar bisa rata,” dalihnya.

Pembagian hasil tambang pasir, terang dia, hanya terjadi di awal-awal penambangan. Malahan, tiga bulan terakhir tidak mendapat bagian dari para penambang pasir yang bekerja di sawahnya itu. “Saya biarkan, yang penting sawah rata,” tuturnya.

Sarengat menyadari akan potensi bahaya dari aktivitas penambangan pasir manual yang dilakukan warga di sawahnya itu. Tapi, ia tidak bisa menghentikan aktivitas penambangan pasir di sawah tersebut. “Kalau dilarang nambang, mereka tidak punya pekerjaan,” katanya.

Istri Imam Syafi’i, Ana Muslimah, 41, mengatakan bekerja sebagai penambang pasir milik Kades Sarengat itu mendapat upah dua kubik pasir dari tiga kubik pasir yang dikumpulkan. “Saya dan suami tidak punya pilihan lain, selain bekerja sebagai penambang pasir,” katanya.

Dengan bekerja sebagai penambang pasir dan pembagiannya sudah ditentukan itu, dapur rumahnya tetap mengepul. “Satu kubik dibeli Rp 85 ribu, biasanya dalam waktu dua hari dapat tiga kubik,” ujarnya.

Kebutuhan untuk hidup itu, jelas dia, mendorong suaminya menggali pasir dengan cara melubangi dinding-dinding galian. Meski dirasa berbahaya, lanjut Ana, suaminya tetap melakukan agar mendapatkan pasir lebih cepat. “Ada empat orang yang menambang pasir,” ujarnya.(mg3/abi)

SONGGON – Kepala Desa (Kades) Sumberbulu, Kecamatan Songgon yang juga pemilik tambang pasir maut, Sarengat Ma’aruf, mengaku tidak berniat mengkomersilkan sawahnya dengan membuat tambang pasir. Sawahnya yang dikeruk Imam Syafi’i, 37, dan ambrol itu hanya untuk meratakan.

Sawah yang berlokasi tidak jauh dari rumahnya itu, kondisinya seperti tanjakan. Dengan dikeruk, maka sawahnya itu akan bisa rata dengan sawah milik warga lainnya. “Saya suruh ambil pasirnya biar bisa rata,” dalihnya.

Pembagian hasil tambang pasir, terang dia, hanya terjadi di awal-awal penambangan. Malahan, tiga bulan terakhir tidak mendapat bagian dari para penambang pasir yang bekerja di sawahnya itu. “Saya biarkan, yang penting sawah rata,” tuturnya.

Sarengat menyadari akan potensi bahaya dari aktivitas penambangan pasir manual yang dilakukan warga di sawahnya itu. Tapi, ia tidak bisa menghentikan aktivitas penambangan pasir di sawah tersebut. “Kalau dilarang nambang, mereka tidak punya pekerjaan,” katanya.

Istri Imam Syafi’i, Ana Muslimah, 41, mengatakan bekerja sebagai penambang pasir milik Kades Sarengat itu mendapat upah dua kubik pasir dari tiga kubik pasir yang dikumpulkan. “Saya dan suami tidak punya pilihan lain, selain bekerja sebagai penambang pasir,” katanya.

Dengan bekerja sebagai penambang pasir dan pembagiannya sudah ditentukan itu, dapur rumahnya tetap mengepul. “Satu kubik dibeli Rp 85 ribu, biasanya dalam waktu dua hari dapat tiga kubik,” ujarnya.

Kebutuhan untuk hidup itu, jelas dia, mendorong suaminya menggali pasir dengan cara melubangi dinding-dinding galian. Meski dirasa berbahaya, lanjut Ana, suaminya tetap melakukan agar mendapatkan pasir lebih cepat. “Ada empat orang yang menambang pasir,” ujarnya.(mg3/abi)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/