alexametrics
24.7 C
Banyuwangi
Friday, August 19, 2022

Seniman Kehilangan Sosok Panutan

JawaPos.com – Kepergian maestro seni lukis Mozes Misdy menimbulkan duka mendalam bagi kalangan seniman-budayawan di Bumi Blambangan. Bukan sekadar kehilangan rekan sesama pelaku seni, melainkan sosok panutan.

Seperti diketahui, Mozes Misdy bukanlah seniman “pupuk bawang”. Dia adalah maestro sekaligus pelopor teknik palet dalam melukis. Melalui karya-karya lukisannya, Mozes dikenal luas di kancah nasional hingga internasional. Tak terhitung banyaknya pejabat tinggi negara yang memiliki koleksi lukisan Moses. Mulai Presiden RI yang kelima Megawati Sukarnoputri, para menteri, hingga pejabat tinggi militer tanah air.

Bahkan, beberapa kali dia mengadakan pameran tunggal di luar negeri. Seperti di Kuala Lumpur, Malaysia sekitar tahun 1969; Darwin, Perth, dan Casaurina, Australia; Bangkok, Thailand; dan sejumlah negara lain.

Meski karya-karyanya sudah mendunia, Moses tidak jemawa. Dia tetap rendah hati. Istilah Osing-nya andhap asor. Di kalangan pelaku seni rupa, dia juga terkenal tidak pelit ilmu. Bahkan di masa senjanya dia masih aktif membina para pelukis Bumi Blambanga. Termasuk pelukis yang bernaung di Langgar Art, Banyuwangi.

Selain itu, perjalanan Mozes mengangkat dunia lukis di tanah kelahirannya, Bumi Blambangan, tidak kalah “epik”. Sekitar tahun 1972, Mozes yang kala itu tinggal di Medan, Sumatera Utara diberi mandat oleh Bupati Banyuwangi kala itu, Djoko Supaat Slamet untuk kembali ke kabupaten ujung timur Pulau Jawa ini untuk “membantu sanggar lukis yang ada di Bumi Blambangan.

Baca Juga :  Empat Desa Terendam Banjir

Oleh Bupati Djoko, Mozes lantas dikontrakkan rumah di wilayah Kelurahan Temenggungan selama dua tahun. Selanjutnya, di tahun 1980-an, Mozes mendirikan sanggar lukis Stinggil Blambangan. “Kala itu pelukisnya hanya dua orang. Sisanya orang biasa, bukan pelukis. Sekitar tahun 1984 Yadi S (juga pelukis kenamaan Banyuwangi, Red) datang. Ikut bergabung,” kenangnya.

Pada periode 1980-an itu pula Mozes kerap menggelar pameran lukisan. Namun sayang, setiap kali menggelar pameran, tidak pernah ada orang yang membeli lukisan-lukisan tersebut. Bahkan di zaman itu, Mozes kerap menukar lukisan karyanya dengan beras.   

Kini, Mozes memiliki seabrek anak didik. Tidak terhitung pelukis yang pernah menimba ilmu kepadanya. Tidak hanya di Banyuwangi, muridnya tersebar di berbagai penjuru tanah air.

Sementara itu, Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB) Hasan Basri menyatakan pihaknya sangat kehilangan sosok Mozes Misdy. “Semoga amal kebaikan Almarhum diterima oleh Allah SWT dan semua dosa-dosanya diampuni oleh Allah SWT,” ujarnya.

Hasan lantas menceritakan beberapa kenangan terakhir dirinya bersama Mozes. Dia menyatakan, beberapa pecan lalu dirinya diundang ke kediaman Moses. “Beliau (Mozes) menyampaikan bahwa dirinya sangat berharap kita semua tetap memperjuangkan dunia seni rupa di Banyuwangi,” kata dia.

Selain itu, pada kesempatan tersebut, Mozes juga menceritakan perjuangannya menekuni dunia seni rupa. Termasuk perjuangan Mozes mengangkat dunia seni lukis di tanah kelahirannya, Banyuwangi.

Hasan menambahkan, walaupun akhir-akhir ini kesehatan Mozes sudah sangat menurun, namun pria kelahiran Banyuwangi, 14 Desember 1941, tersebut masih sangat peduli terhadap teman-teman seniman di Banyuwangi. “Bahkan, beberapa pekan lalu beliau hadir langsung saat para seniman berkumpul di Langgar Art, Banyuwangi,” kenangnya.

Baca Juga :  Orang Misterius Berkeliaran di Kafe Jajag

Masih menekankan, pihaknya sangat kehilangan Moses. “Kami sangat kehilangan Pak Mozes sebagai seorang pejuang seni yang patut diteladani, baik semangatnya, kesederhanaannya, serta kepeduliannya terhadap sesama pelaku seni di Banyuwangi,” kata dia.

Hal senada dilontarkan salah sanu seniman senior Banyuwangi S. Yadi K. Dia mengatakan, dirinya dan para pelukis Banyuwangi sangat kehilangan. “Beliau adalah maestro di Banyuwangi dan Indonesia. Pak Mozes adalah penyemangat kami, para pelukis, untuk eksis dan berkarya lebih jauh lagi,” ujarnya.

Yadi mengaku dirinya sangat meneladani Mozes. Selain merupakan pelukis andal, Moses adalah peluki yang tidak pelit ilmu. “Banyak pelukis menimba ilmu ke beliau,” tuturnya.

Bukan itu saja, kata Yadi, tidak sedikit yang lantaran kagum atas sosok Mozes mencontoh lukisan maestro yang dikenal sengan sabetan pisau paletnya tersebut. Baik dari segi teknik maupun gagasan. “Hasil mencontoh teknik dan gagasan beliau itu mampu menghidupi pelukis-peluki lain. Bukan hanya pelukis Banyuwangi, tetapi berbagai daerah, mulai Gresik, Surabaya, Sidoarjo, Tegal, banyak pelukis yang mengikuti aliran beliau. Dari sana bisa hidup. Untuk menjadi pelukis kan harus ada yang dicontoh dahulu. Setelah itu dikembangkan,” pungkasnya. (sgt/aif)

JawaPos.com – Kepergian maestro seni lukis Mozes Misdy menimbulkan duka mendalam bagi kalangan seniman-budayawan di Bumi Blambangan. Bukan sekadar kehilangan rekan sesama pelaku seni, melainkan sosok panutan.

Seperti diketahui, Mozes Misdy bukanlah seniman “pupuk bawang”. Dia adalah maestro sekaligus pelopor teknik palet dalam melukis. Melalui karya-karya lukisannya, Mozes dikenal luas di kancah nasional hingga internasional. Tak terhitung banyaknya pejabat tinggi negara yang memiliki koleksi lukisan Moses. Mulai Presiden RI yang kelima Megawati Sukarnoputri, para menteri, hingga pejabat tinggi militer tanah air.

Bahkan, beberapa kali dia mengadakan pameran tunggal di luar negeri. Seperti di Kuala Lumpur, Malaysia sekitar tahun 1969; Darwin, Perth, dan Casaurina, Australia; Bangkok, Thailand; dan sejumlah negara lain.

Meski karya-karyanya sudah mendunia, Moses tidak jemawa. Dia tetap rendah hati. Istilah Osing-nya andhap asor. Di kalangan pelaku seni rupa, dia juga terkenal tidak pelit ilmu. Bahkan di masa senjanya dia masih aktif membina para pelukis Bumi Blambanga. Termasuk pelukis yang bernaung di Langgar Art, Banyuwangi.

Selain itu, perjalanan Mozes mengangkat dunia lukis di tanah kelahirannya, Bumi Blambangan, tidak kalah “epik”. Sekitar tahun 1972, Mozes yang kala itu tinggal di Medan, Sumatera Utara diberi mandat oleh Bupati Banyuwangi kala itu, Djoko Supaat Slamet untuk kembali ke kabupaten ujung timur Pulau Jawa ini untuk “membantu sanggar lukis yang ada di Bumi Blambangan.

Baca Juga :  Orang Misterius Berkeliaran di Kafe Jajag

Oleh Bupati Djoko, Mozes lantas dikontrakkan rumah di wilayah Kelurahan Temenggungan selama dua tahun. Selanjutnya, di tahun 1980-an, Mozes mendirikan sanggar lukis Stinggil Blambangan. “Kala itu pelukisnya hanya dua orang. Sisanya orang biasa, bukan pelukis. Sekitar tahun 1984 Yadi S (juga pelukis kenamaan Banyuwangi, Red) datang. Ikut bergabung,” kenangnya.

Pada periode 1980-an itu pula Mozes kerap menggelar pameran lukisan. Namun sayang, setiap kali menggelar pameran, tidak pernah ada orang yang membeli lukisan-lukisan tersebut. Bahkan di zaman itu, Mozes kerap menukar lukisan karyanya dengan beras.   

Kini, Mozes memiliki seabrek anak didik. Tidak terhitung pelukis yang pernah menimba ilmu kepadanya. Tidak hanya di Banyuwangi, muridnya tersebar di berbagai penjuru tanah air.

Sementara itu, Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB) Hasan Basri menyatakan pihaknya sangat kehilangan sosok Mozes Misdy. “Semoga amal kebaikan Almarhum diterima oleh Allah SWT dan semua dosa-dosanya diampuni oleh Allah SWT,” ujarnya.

Hasan lantas menceritakan beberapa kenangan terakhir dirinya bersama Mozes. Dia menyatakan, beberapa pecan lalu dirinya diundang ke kediaman Moses. “Beliau (Mozes) menyampaikan bahwa dirinya sangat berharap kita semua tetap memperjuangkan dunia seni rupa di Banyuwangi,” kata dia.

Selain itu, pada kesempatan tersebut, Mozes juga menceritakan perjuangannya menekuni dunia seni rupa. Termasuk perjuangan Mozes mengangkat dunia seni lukis di tanah kelahirannya, Banyuwangi.

Hasan menambahkan, walaupun akhir-akhir ini kesehatan Mozes sudah sangat menurun, namun pria kelahiran Banyuwangi, 14 Desember 1941, tersebut masih sangat peduli terhadap teman-teman seniman di Banyuwangi. “Bahkan, beberapa pekan lalu beliau hadir langsung saat para seniman berkumpul di Langgar Art, Banyuwangi,” kenangnya.

Baca Juga :  Pelukis Gelar Khataman, Kapolresta dan Kajari Didaulat Melukis

Masih menekankan, pihaknya sangat kehilangan Moses. “Kami sangat kehilangan Pak Mozes sebagai seorang pejuang seni yang patut diteladani, baik semangatnya, kesederhanaannya, serta kepeduliannya terhadap sesama pelaku seni di Banyuwangi,” kata dia.

Hal senada dilontarkan salah sanu seniman senior Banyuwangi S. Yadi K. Dia mengatakan, dirinya dan para pelukis Banyuwangi sangat kehilangan. “Beliau adalah maestro di Banyuwangi dan Indonesia. Pak Mozes adalah penyemangat kami, para pelukis, untuk eksis dan berkarya lebih jauh lagi,” ujarnya.

Yadi mengaku dirinya sangat meneladani Mozes. Selain merupakan pelukis andal, Moses adalah peluki yang tidak pelit ilmu. “Banyak pelukis menimba ilmu ke beliau,” tuturnya.

Bukan itu saja, kata Yadi, tidak sedikit yang lantaran kagum atas sosok Mozes mencontoh lukisan maestro yang dikenal sengan sabetan pisau paletnya tersebut. Baik dari segi teknik maupun gagasan. “Hasil mencontoh teknik dan gagasan beliau itu mampu menghidupi pelukis-peluki lain. Bukan hanya pelukis Banyuwangi, tetapi berbagai daerah, mulai Gresik, Surabaya, Sidoarjo, Tegal, banyak pelukis yang mengikuti aliran beliau. Dari sana bisa hidup. Untuk menjadi pelukis kan harus ada yang dicontoh dahulu. Setelah itu dikembangkan,” pungkasnya. (sgt/aif)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/