alexametrics
24.5 C
Banyuwangi
Saturday, August 13, 2022

Rayakan Waisak, Lepas Seratus Lampion

GAMBIRAN- Penutupan sebulan penghayatan umat Buddha di Kecamatan Gambiran dan sekitarnya dilakukan dengan melepas 100 lampion ke langit, Senin malam (28/5).  Acara yang digelar pada pukul 22.00, itu dipusatkan di halaman Vihara Dhamma Harja di Dusun Krajan, Desa Yosomulyo, Kecamatan Gambiran.

Ketua Panitia Tahunan Leo Harianto mengatakan, dalam perayaan Waisak 2562 BE 2018 itu umat Buddha yang hadir menggunakan busana khusus, yaitu atasan putih dan bawahan hitam. ”Warna putih melambangkan kesucian, sedangkan warna hitam melambangkan keberanian. Dengan arti itu umat Buddha tidak akan takut lagi menghadapi kelamnya dunia karena ada kesucian,” jelasnya.

Bagi umat Buddha, terang dia, api diartikan semangat dalam diri manusia dalam menjalani kehidupan, dan mengharapkan petunjuk. Dengan demikian, api merupakan unsur penting dalam perayaan Waisak. Lampion yang dilepaskan ke udara, itu juga memiliki arti yang sangat penting. ”Pelepasan lampion itu menjadi simbol yang sakral. Itu maksudnya melepaskan hal-hal yang bersifat negatif di dalam diri setiap umat Buddha,” katanya.

Baca Juga :  Lapas Banyuwangi Bentuk Tim Satopspatnal

Pelepasan lampion menjadi acara puncak dari rangkaian upacara Waisak di Vihara Dhamma Harja, Desa Yosomulyo. Setiap lampion yang diterbangkan, berisi doa dan harapan bagi setiap umat Buddha, dan itu menjadi simbol harapan yang lebih baik dalam menjalani kehidupan.

Sebelum dilakukan pelepasan lampion, umat Buddha menggelar puja-puji dengan memanjatkan doa dan harapan pada Tuhan. Itu dilakukan untuk mendapatkan keberkahan dalam hidup yang lebih baik. Setelah pemanjatan doa selesai, barulah pelepasan lampion dilakukan secara berurutan. ”Pelepasan kita atur bergantian biar tidak tabrakan,” ujarnya.

Prosesi pelepasan lampion saat perayaan Tri Suci Waisak, terang dia, memiliki makna yang penting. Di dalam setiap lampion yang dilepaskan, berisi harapan dan doa bagi umat Buddha sendiri, orang yang dicintai, maupun negara dan bangsa. Selain itu, ratusan lampion yang diterbangkan saat perayaan berlangsung, akan menciptakan pemandangan langit yang sangat indah. ”Seluruh langit gelap dihiasi oleh titik-titik cahaya warna-warni dari lampu lampion dengan latar belakang Vihara Dhamma Harja,” tuturnya.

Baca Juga :  Resiko Jembatan Rel KA, Fondasi DAS Direhab

GAMBIRAN- Penutupan sebulan penghayatan umat Buddha di Kecamatan Gambiran dan sekitarnya dilakukan dengan melepas 100 lampion ke langit, Senin malam (28/5).  Acara yang digelar pada pukul 22.00, itu dipusatkan di halaman Vihara Dhamma Harja di Dusun Krajan, Desa Yosomulyo, Kecamatan Gambiran.

Ketua Panitia Tahunan Leo Harianto mengatakan, dalam perayaan Waisak 2562 BE 2018 itu umat Buddha yang hadir menggunakan busana khusus, yaitu atasan putih dan bawahan hitam. ”Warna putih melambangkan kesucian, sedangkan warna hitam melambangkan keberanian. Dengan arti itu umat Buddha tidak akan takut lagi menghadapi kelamnya dunia karena ada kesucian,” jelasnya.

Bagi umat Buddha, terang dia, api diartikan semangat dalam diri manusia dalam menjalani kehidupan, dan mengharapkan petunjuk. Dengan demikian, api merupakan unsur penting dalam perayaan Waisak. Lampion yang dilepaskan ke udara, itu juga memiliki arti yang sangat penting. ”Pelepasan lampion itu menjadi simbol yang sakral. Itu maksudnya melepaskan hal-hal yang bersifat negatif di dalam diri setiap umat Buddha,” katanya.

Baca Juga :  Layanan Bandara Tetap Dibuka Khusus Pesawat Latih

Pelepasan lampion menjadi acara puncak dari rangkaian upacara Waisak di Vihara Dhamma Harja, Desa Yosomulyo. Setiap lampion yang diterbangkan, berisi doa dan harapan bagi setiap umat Buddha, dan itu menjadi simbol harapan yang lebih baik dalam menjalani kehidupan.

Sebelum dilakukan pelepasan lampion, umat Buddha menggelar puja-puji dengan memanjatkan doa dan harapan pada Tuhan. Itu dilakukan untuk mendapatkan keberkahan dalam hidup yang lebih baik. Setelah pemanjatan doa selesai, barulah pelepasan lampion dilakukan secara berurutan. ”Pelepasan kita atur bergantian biar tidak tabrakan,” ujarnya.

Prosesi pelepasan lampion saat perayaan Tri Suci Waisak, terang dia, memiliki makna yang penting. Di dalam setiap lampion yang dilepaskan, berisi harapan dan doa bagi umat Buddha sendiri, orang yang dicintai, maupun negara dan bangsa. Selain itu, ratusan lampion yang diterbangkan saat perayaan berlangsung, akan menciptakan pemandangan langit yang sangat indah. ”Seluruh langit gelap dihiasi oleh titik-titik cahaya warna-warni dari lampu lampion dengan latar belakang Vihara Dhamma Harja,” tuturnya.

Baca Juga :  Banjir Sidoarjo Mulai Surut, Jalur KA Kembali Normal

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/