alexametrics
23.5 C
Banyuwangi
Friday, August 12, 2022

Lima Koperasi di Banyuwangi Terjerat Kasus Hukum

RADAR BANYUWANGI – Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Tinara yang merugikan ratusan nasabahnya ternyata bukan satu-satunya koperasi yang terjerat kasus hukum. Setidaknya, ada empat koperasi terlibat kasus yang sama hingga mengantarkan pucuk pimpinannya meringkuk di jeruji besi.

Keempat koperasi tersebut yakni KSP Asri yang beralamat di Desa Sumbersari, Kecamatan Srono; Koperasi Unit Desa (KUD) Tri Jaya, Desa Sraten, Kecamatan Cluring; KSP Mutiara di Pesanggaran; dan KSP Artha Srikandi yang terletak di Jalan Jaksa Agung Suprapto, Kelurahan Penganjuran, Kecamatan Banyuwangi.

Dari lima koperasi yang tersandung kasus tersebut, hanya dua koperasi yang status perkaranya sudah tuntas, yakni kasus KSP Arta Srikandi dan KSP Mutiara Sedangkan ketiga koperasi lainnya belum ada kejelasan hukum alias mengambang. Satu koperasi masih dalam proses persidangan di Pengadilan Negeri Banyuwangi.

Dalam kasus KSP Arta Srikandi, Manajer KSP Robby Silistio Handoko harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Ada Rp 6,5 miliar dari sepuluh nasabah yang diduga digelapkan. Sedangkan KSP Mutiara telah mengantarkan pimpinannya, Gimin Supranoto, meringkuk di penjara.

Dalam dua kasus tersebut, Pengadilan Negeri (PN) Banyuwangi malah menjatuhkan vonis bebas. Sebaliknya, dalam putusan kasasi, keduanya tetap divonis bersalah.

Sementara, dua kasus koperasi yang tidak kunjung ada kejelasan adalah KSP Asri dan KUD Trijaya. Padahal, KSP Asri banyak merugikan nasabah hingga ratusan juta. Sedangkan KUD Trijaya menelan kerugian hingga Rp 60 miliar.

”Sebenarnya ada beberapa koperasi yang terlibat kasus hukum. Koperasi tersebut membuat manajer atau pimpinannya harus mempertanggungjawabkannya,” ujar pemerhati hukum koperasi, Abdul Malik.

Baca Juga :  Waspadai Banjir di Jalur Kereta Api

Malik mengatakan, kasus yang menjerat koperasi   kebanyakan akibat terjadinya pailit. Nasabah harus merugi dan kehilangan tabungannya di KSP tersebut. ”Ada beberapa KSP yang mengakibatkan kerugian material mulai ratusan juta, bahkan miliaran rupiah,” katanya.

Dalam kasus tersebut, kebanyakan korbannya melaporkan aksi penipuan dan penggelapan. Tabungan mereka banyak yang tidak bisa dicairkan. ”Terjadinya kepailitan inilah yang mengakibatkan para nasabah harus kehilangan uang tabungan. Mereka akhirnya menempuh jalur hukum,” terang Malik.

Untuk menjerat pucuk pimpinan koperasi, imbuh Malik, harus bisa dibuktikan tindak pidana penggelapan maupun penipuan. Jika memang terjadi pailit, KSP juga harus tetap mempertanggungjawabkannya dengan menjual aset-aset untuk mengganti kerugian nasabah. ”Tergantung perbuatan hukum yang dilakukan oleh pimpinan KSP.  Makanya, banyak yang menilai jika KSP pailit tentunya ranah hukum yang harus dilakukan mengarah ke perdata. Padahal, belum tentu semuanya mengarah ke perdata,” ungkapnya.

Malik menambahkan, sebenarnya cukup banyak koperasi yang tersandung kasus. Setidaknya, ada dua kasus koperasi yang belum kunjung tuntas, yaitu KSP Asri yang berlokasi di Desa Sumbersari, Kecamatan Srono dan KUD Trijaya Desa Sraten, Kecamatan Cluring. ”Dua koperasi tersebut masih dalam proses penyelesaian. Untuk Koperasi Asri sudah dilakukan penyegelan pada tahun 2009 lalu, namun polisi belum menangkap pimpinan koperasi,” tegasnya.

Humas Pengadilan Negeri (PN) Banyuwangi Agus Pancara mencatat ada tiga koperasi yang berlanjut ke meja hijau. Tiga koperasi tersebut yakni KSP Artha Srikandi, KSP Mutiara, dan KSP Tinara. ”Semua pimpinan KSP tersebut menjadi terdakwa dan harus mempertanggungjawabkan perbuatannya,” katanya.

Baca Juga :  Masih Ada Warga yang Membawa Arak

Untuk kasus KSP Artha Srikandi dan KSP Mutiara, perkaranya sudah tuntas. Sedangkan KSP Tinara masih dalam proses persidangan. ”Perkara hukum KSP Artha Srikandi dan KSP Mutiara hingga proses kasasi. Kedua pimpinan koperasi tersebut divonis 2,5 tahun dan 1 tahun penjara,” ungkapnya.

Agus menambahkan, jika nasabah ingin tabungannya kembali, harus menempuh upaya perdata. Harapannya, kerugian yang dialami nasabah bisa dibayar oleh pimpinan koperasi. ”Kami majelis hakim hanya menilai fakta-fakta di persidangan serta menilai keadilan yang harus diterapkan,” tegasnya.

Seperti diketahui, Manajer KSP Tinara, Linggawati Wijaya, tampaknya akan lebih lama tinggal di dalam tahanan. Setelah dituntut lima tahun penjara atas laporan sepuluh nasabah, kini laporan baru muncul. Jumat lalu (17/6) giliran 29 nasabah melaporkan bos KSP Tinara tersebut ke Polresta Banyuwangi. Laporan tersebut terkait dugaan penipuan dan penggelapan uang nasabah yang diduga dilakukan oleh Linggawati Wijaya. Kali ini total kerugian nasabah Rp 15 miliar. Nilai kerugian yang dialami nasabah cukup variatif.

Salah satu korban, Anip Haryadi mewakili teman-temannya datang ke Polresta didampingi kuasa hukumnya, Abdul Malik. Mereka melapor ke SPKT Polresta Banyuwangi. Laporan tersebut atas dugaan penipuan dan penggelapan yang dilakukan oleh Linggawati Wijaya. Total kerugian yang dialami para nasabah sekitar Rp 15 miliar. ”Satu orang ada yang rugi Rp 2 miliar. Saya sendiri Rp 500 juta,” kata Anip kala itu. (rio/aif/c1)

RADAR BANYUWANGI – Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Tinara yang merugikan ratusan nasabahnya ternyata bukan satu-satunya koperasi yang terjerat kasus hukum. Setidaknya, ada empat koperasi terlibat kasus yang sama hingga mengantarkan pucuk pimpinannya meringkuk di jeruji besi.

Keempat koperasi tersebut yakni KSP Asri yang beralamat di Desa Sumbersari, Kecamatan Srono; Koperasi Unit Desa (KUD) Tri Jaya, Desa Sraten, Kecamatan Cluring; KSP Mutiara di Pesanggaran; dan KSP Artha Srikandi yang terletak di Jalan Jaksa Agung Suprapto, Kelurahan Penganjuran, Kecamatan Banyuwangi.

Dari lima koperasi yang tersandung kasus tersebut, hanya dua koperasi yang status perkaranya sudah tuntas, yakni kasus KSP Arta Srikandi dan KSP Mutiara Sedangkan ketiga koperasi lainnya belum ada kejelasan hukum alias mengambang. Satu koperasi masih dalam proses persidangan di Pengadilan Negeri Banyuwangi.

Dalam kasus KSP Arta Srikandi, Manajer KSP Robby Silistio Handoko harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Ada Rp 6,5 miliar dari sepuluh nasabah yang diduga digelapkan. Sedangkan KSP Mutiara telah mengantarkan pimpinannya, Gimin Supranoto, meringkuk di penjara.

Dalam dua kasus tersebut, Pengadilan Negeri (PN) Banyuwangi malah menjatuhkan vonis bebas. Sebaliknya, dalam putusan kasasi, keduanya tetap divonis bersalah.

Sementara, dua kasus koperasi yang tidak kunjung ada kejelasan adalah KSP Asri dan KUD Trijaya. Padahal, KSP Asri banyak merugikan nasabah hingga ratusan juta. Sedangkan KUD Trijaya menelan kerugian hingga Rp 60 miliar.

”Sebenarnya ada beberapa koperasi yang terlibat kasus hukum. Koperasi tersebut membuat manajer atau pimpinannya harus mempertanggungjawabkannya,” ujar pemerhati hukum koperasi, Abdul Malik.

Baca Juga :  Waspadai Banjir di Jalur Kereta Api

Malik mengatakan, kasus yang menjerat koperasi   kebanyakan akibat terjadinya pailit. Nasabah harus merugi dan kehilangan tabungannya di KSP tersebut. ”Ada beberapa KSP yang mengakibatkan kerugian material mulai ratusan juta, bahkan miliaran rupiah,” katanya.

Dalam kasus tersebut, kebanyakan korbannya melaporkan aksi penipuan dan penggelapan. Tabungan mereka banyak yang tidak bisa dicairkan. ”Terjadinya kepailitan inilah yang mengakibatkan para nasabah harus kehilangan uang tabungan. Mereka akhirnya menempuh jalur hukum,” terang Malik.

Untuk menjerat pucuk pimpinan koperasi, imbuh Malik, harus bisa dibuktikan tindak pidana penggelapan maupun penipuan. Jika memang terjadi pailit, KSP juga harus tetap mempertanggungjawabkannya dengan menjual aset-aset untuk mengganti kerugian nasabah. ”Tergantung perbuatan hukum yang dilakukan oleh pimpinan KSP.  Makanya, banyak yang menilai jika KSP pailit tentunya ranah hukum yang harus dilakukan mengarah ke perdata. Padahal, belum tentu semuanya mengarah ke perdata,” ungkapnya.

Malik menambahkan, sebenarnya cukup banyak koperasi yang tersandung kasus. Setidaknya, ada dua kasus koperasi yang belum kunjung tuntas, yaitu KSP Asri yang berlokasi di Desa Sumbersari, Kecamatan Srono dan KUD Trijaya Desa Sraten, Kecamatan Cluring. ”Dua koperasi tersebut masih dalam proses penyelesaian. Untuk Koperasi Asri sudah dilakukan penyegelan pada tahun 2009 lalu, namun polisi belum menangkap pimpinan koperasi,” tegasnya.

Humas Pengadilan Negeri (PN) Banyuwangi Agus Pancara mencatat ada tiga koperasi yang berlanjut ke meja hijau. Tiga koperasi tersebut yakni KSP Artha Srikandi, KSP Mutiara, dan KSP Tinara. ”Semua pimpinan KSP tersebut menjadi terdakwa dan harus mempertanggungjawabkan perbuatannya,” katanya.

Baca Juga :  Benahi Pipa PDAM, Pekerja Kena Setrum

Untuk kasus KSP Artha Srikandi dan KSP Mutiara, perkaranya sudah tuntas. Sedangkan KSP Tinara masih dalam proses persidangan. ”Perkara hukum KSP Artha Srikandi dan KSP Mutiara hingga proses kasasi. Kedua pimpinan koperasi tersebut divonis 2,5 tahun dan 1 tahun penjara,” ungkapnya.

Agus menambahkan, jika nasabah ingin tabungannya kembali, harus menempuh upaya perdata. Harapannya, kerugian yang dialami nasabah bisa dibayar oleh pimpinan koperasi. ”Kami majelis hakim hanya menilai fakta-fakta di persidangan serta menilai keadilan yang harus diterapkan,” tegasnya.

Seperti diketahui, Manajer KSP Tinara, Linggawati Wijaya, tampaknya akan lebih lama tinggal di dalam tahanan. Setelah dituntut lima tahun penjara atas laporan sepuluh nasabah, kini laporan baru muncul. Jumat lalu (17/6) giliran 29 nasabah melaporkan bos KSP Tinara tersebut ke Polresta Banyuwangi. Laporan tersebut terkait dugaan penipuan dan penggelapan uang nasabah yang diduga dilakukan oleh Linggawati Wijaya. Kali ini total kerugian nasabah Rp 15 miliar. Nilai kerugian yang dialami nasabah cukup variatif.

Salah satu korban, Anip Haryadi mewakili teman-temannya datang ke Polresta didampingi kuasa hukumnya, Abdul Malik. Mereka melapor ke SPKT Polresta Banyuwangi. Laporan tersebut atas dugaan penipuan dan penggelapan yang dilakukan oleh Linggawati Wijaya. Total kerugian yang dialami para nasabah sekitar Rp 15 miliar. ”Satu orang ada yang rugi Rp 2 miliar. Saya sendiri Rp 500 juta,” kata Anip kala itu. (rio/aif/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/