alexametrics
23 C
Banyuwangi
Wednesday, August 17, 2022

Mayoritas Desa di Wongsorejo Rawan Banjir

RadarBanyuwangi.id – Kawasan Wongsorejo selama ini merupakan wilayah kering dengan curah hujan yang rendah. Tiap musim kemarau, wilayah ini sering kali kekurangan air bersih. Namun belakangan, BPDB Banyuwangi memetakan bahwa hampir semua desa –terutama yang dekat dengan wilayah pesisir di Kecamatan Wongsorejo— masuk sebagai kategori desa rawan banjir.

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Banyuwangi Eka Muharam mengatakan, setidaknya potensi tersebut berlaku selama musim penghujan masih berlangsung. Sebelumnya, Eka menjelaskan bahwa hanya ada dua desa yang masuk kategori rawan banjir. Yaitu Desa Bimorejo dan Desa Bajulmati. Setiap musim hujan, dipastikan kedua daerah tersebut menjadi langganan banjir karena posisinya yang memang rendah dan dekat dengan pesisir.

Namun sejak tahun 2021, daftar desa yang masuk kawasan rawan banjir bertambah. Eka mengatakan beberapa desa seperti Sumberbuluh, Sumberkencono, Sidodado, Alasbuluh, Bengkak, dan Bangsring kini ikut masuk kategori desa rawan banjir. Hanya beberapa desa seperti Watukebo saja yang dianggap aman karena posisinya berdekatan dengan kaki Gunung Ijen. ”Hampir seluruhnya dari 12 desa yang ada (di Kecamatan Wongsorejo). Padahal tahun 2020 lalu, cuma Desa Bimorejo dan Bajulmati saja yang masuk kategori rawan banjir,” kata Eka.

Baca Juga :  Digerebek Saat Asyik Pesta Sabu

Bertambahnya desa yang menjadi kawasan rawan banjir itu, menurut Eka, tak lepas dari terbukanya lahan di Ijen akibat kebakaran tahun 2019 lalu. Luasnya wilayah hutan yang terbakar membuat kawasan resapan hujan menjadi berkurang. Ditambah lagi dengan alih fungsi lahan yang membuat kondisi semakin parah. Sehingga begitu hujan lebat datang di area hulu, maka air akan langsung mengalir ke wilayah desa-desa yang ada di hilir. ”Banyaknya perubahan tata guna lagan membuat volume air yang turun membesar sehingga sulit diserap,” jelasnya.

Situasi itu diperparah dengan banyaknya jembatan yang memiliki gorong-gorong sempit. Begitu ada air besar bercampur dengan material seperti kayu dan sisa tanaman panen, maka air akan langsung meluap ke jalan-jalan. Jembatan yang ada di sepanjang jalan di desa-desa itu sendiri mayoritas adalah jembatan yang dibuat sejak zaman Belanda. Sehingga ukurannya sudah tidak sesuai dengan kebutuhan dan kondisi saat ini.

Baca Juga :  Intensitas Hujan Meninggi, Peralatan Penanggulangan Bencana Disiagakan

Terkait masalah tersebut, Eka mengaku sudah mengagendakan perbaikan jembatan untuk masuk ke perencanaan anggaran tahun selanjutnya. ”Kita berharap bisa segera diperbaiki. Sebab sekarang banyak corah yang dialiri air dari atas, tapi kondisi gorong-gorong jembatan terlalu sempit,” tandasnya. (fre/afi/c1)

RadarBanyuwangi.id – Kawasan Wongsorejo selama ini merupakan wilayah kering dengan curah hujan yang rendah. Tiap musim kemarau, wilayah ini sering kali kekurangan air bersih. Namun belakangan, BPDB Banyuwangi memetakan bahwa hampir semua desa –terutama yang dekat dengan wilayah pesisir di Kecamatan Wongsorejo— masuk sebagai kategori desa rawan banjir.

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Banyuwangi Eka Muharam mengatakan, setidaknya potensi tersebut berlaku selama musim penghujan masih berlangsung. Sebelumnya, Eka menjelaskan bahwa hanya ada dua desa yang masuk kategori rawan banjir. Yaitu Desa Bimorejo dan Desa Bajulmati. Setiap musim hujan, dipastikan kedua daerah tersebut menjadi langganan banjir karena posisinya yang memang rendah dan dekat dengan pesisir.

Namun sejak tahun 2021, daftar desa yang masuk kawasan rawan banjir bertambah. Eka mengatakan beberapa desa seperti Sumberbuluh, Sumberkencono, Sidodado, Alasbuluh, Bengkak, dan Bangsring kini ikut masuk kategori desa rawan banjir. Hanya beberapa desa seperti Watukebo saja yang dianggap aman karena posisinya berdekatan dengan kaki Gunung Ijen. ”Hampir seluruhnya dari 12 desa yang ada (di Kecamatan Wongsorejo). Padahal tahun 2020 lalu, cuma Desa Bimorejo dan Bajulmati saja yang masuk kategori rawan banjir,” kata Eka.

Baca Juga :  Eksekusi Rumah Berlangsung Dramatis, Pemilik Hadang Kendaraan Berat

Bertambahnya desa yang menjadi kawasan rawan banjir itu, menurut Eka, tak lepas dari terbukanya lahan di Ijen akibat kebakaran tahun 2019 lalu. Luasnya wilayah hutan yang terbakar membuat kawasan resapan hujan menjadi berkurang. Ditambah lagi dengan alih fungsi lahan yang membuat kondisi semakin parah. Sehingga begitu hujan lebat datang di area hulu, maka air akan langsung mengalir ke wilayah desa-desa yang ada di hilir. ”Banyaknya perubahan tata guna lagan membuat volume air yang turun membesar sehingga sulit diserap,” jelasnya.

Situasi itu diperparah dengan banyaknya jembatan yang memiliki gorong-gorong sempit. Begitu ada air besar bercampur dengan material seperti kayu dan sisa tanaman panen, maka air akan langsung meluap ke jalan-jalan. Jembatan yang ada di sepanjang jalan di desa-desa itu sendiri mayoritas adalah jembatan yang dibuat sejak zaman Belanda. Sehingga ukurannya sudah tidak sesuai dengan kebutuhan dan kondisi saat ini.

Baca Juga :  Wapres Ma’ruf Apresiasi Pelayanan Publik Banyuwangi

Terkait masalah tersebut, Eka mengaku sudah mengagendakan perbaikan jembatan untuk masuk ke perencanaan anggaran tahun selanjutnya. ”Kita berharap bisa segera diperbaiki. Sebab sekarang banyak corah yang dialiri air dari atas, tapi kondisi gorong-gorong jembatan terlalu sempit,” tandasnya. (fre/afi/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/