25 C
Banyuwangi
Tuesday, November 29, 2022

Bersikukuh Tolak Jadi TPA, Warga Bangsring Deadline DLH sampai Kamis

WONGSOREJO, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Negosiasi antara Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dengan warga Desa Bangsring yang menolak aktivitas tempat pembuangan sampah akhir (TPSA) berjalan alot. Warga tetap bersikukuh tidak mengizinkan truk DLH membuang sampah di bekas galian C tersebut.

Warga memberikan deadline kepada DLH sampai Kamis besok (24/11) untuk membuang sampah. Camat Wongsorejo Nuril Falah mengatakan, pihaknya bersama DLH sudah menemui warga Senin (21/11). Hasilnya, warga tidak menuntut agar aktivitas pembuangan sampah di TPA Bangsring dihentikan.

Warga memberikan tenggat hingga hari Kamis besok. DLH bersama pihak kecamatan kini sedang mencari lokasi lain yang cocok untuk tempat pembuangan sampah sementara. Di wilayah Wongsorejo sebenarnya ada dua lokasi yang menjadi referensi pembuangan sampah, yaitu Desa Alasrejo dan Bajulmati. ”Kebetulan di Bajulmati ada eks lahan waduk milik Perhutani. Cukup ideal untuk pembuangan sampah sementara. Lokasinya jauh dari permukiman warga,” kata Nuril.

Baca Juga :  Satpolair Sosialisasi Penggunaan Alat Keselamatan

Terkait reaksi masyarakat yang masih menolak aktivitas TPA, DLH masih berusaha melakukan pendekatan kepada masyarakat. Sesuai harapan awal, DLH tetap bisa membuang sampah di TPA Bangsring sampai selesai operasional pada akhir Desember 2022 atau awal Januari 2023. ”Perwakilan dari 21 warga masih menolak. Kami coba lagi melakukan pendekatan,” ujar Plt Kepala DLH Banyuwangi Dwi Handayani.

Saat ini pihaknya tengah menyiapkan lahan seluas 15 hektare di Desa Sidowangi untuk pembangunan TPSA. Hingga kini proses perizinan masih berjalan. ”Kami tergetkan mulai dibangun pada 2023 nanti. Sembari menunggu TPA baru, kami butuh tempat sementara,” imbuh Dwi.

Kades Bangsring Singhan berusaha mencari solusi terkait warganya yang menolak TPSA. Dia membenarkan sejak pekan lalu warganya memprotes pembuangan sampah di Desa Bangsring. Meski tumpukan sampah telah ditutup dan disemprot, tetap menebarkan aroma tidak sedap.

Baca Juga :  Indofood Dukung Edukasi Pelestarian Penyu

Singhan menceritakan, saat TPSA beroperasi tidak ada sosialisasi dari DLH. Lokasi TPSA merupakan lahan milik perorangan. ”Kami akan bantu cari solusi. Apa pun bentuknya, ini untuk kepentingan bersama,” tandasnya. (fre/aif/c1)

WONGSOREJO, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Negosiasi antara Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dengan warga Desa Bangsring yang menolak aktivitas tempat pembuangan sampah akhir (TPSA) berjalan alot. Warga tetap bersikukuh tidak mengizinkan truk DLH membuang sampah di bekas galian C tersebut.

Warga memberikan deadline kepada DLH sampai Kamis besok (24/11) untuk membuang sampah. Camat Wongsorejo Nuril Falah mengatakan, pihaknya bersama DLH sudah menemui warga Senin (21/11). Hasilnya, warga tidak menuntut agar aktivitas pembuangan sampah di TPA Bangsring dihentikan.

Warga memberikan tenggat hingga hari Kamis besok. DLH bersama pihak kecamatan kini sedang mencari lokasi lain yang cocok untuk tempat pembuangan sampah sementara. Di wilayah Wongsorejo sebenarnya ada dua lokasi yang menjadi referensi pembuangan sampah, yaitu Desa Alasrejo dan Bajulmati. ”Kebetulan di Bajulmati ada eks lahan waduk milik Perhutani. Cukup ideal untuk pembuangan sampah sementara. Lokasinya jauh dari permukiman warga,” kata Nuril.

Baca Juga :  Indofood Dukung Edukasi Pelestarian Penyu

Terkait reaksi masyarakat yang masih menolak aktivitas TPA, DLH masih berusaha melakukan pendekatan kepada masyarakat. Sesuai harapan awal, DLH tetap bisa membuang sampah di TPA Bangsring sampai selesai operasional pada akhir Desember 2022 atau awal Januari 2023. ”Perwakilan dari 21 warga masih menolak. Kami coba lagi melakukan pendekatan,” ujar Plt Kepala DLH Banyuwangi Dwi Handayani.

Saat ini pihaknya tengah menyiapkan lahan seluas 15 hektare di Desa Sidowangi untuk pembangunan TPSA. Hingga kini proses perizinan masih berjalan. ”Kami tergetkan mulai dibangun pada 2023 nanti. Sembari menunggu TPA baru, kami butuh tempat sementara,” imbuh Dwi.

Kades Bangsring Singhan berusaha mencari solusi terkait warganya yang menolak TPSA. Dia membenarkan sejak pekan lalu warganya memprotes pembuangan sampah di Desa Bangsring. Meski tumpukan sampah telah ditutup dan disemprot, tetap menebarkan aroma tidak sedap.

Baca Juga :  Lima Tahun Keponakan Jadi Budak Nafsu sang Paman

Singhan menceritakan, saat TPSA beroperasi tidak ada sosialisasi dari DLH. Lokasi TPSA merupakan lahan milik perorangan. ”Kami akan bantu cari solusi. Apa pun bentuknya, ini untuk kepentingan bersama,” tandasnya. (fre/aif/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/