alexametrics
23.3 C
Banyuwangi
Wednesday, August 17, 2022

Banjir Bandang Masih Mengintai

JawaPos.com – Peringatan bagi warga yang tinggal di kawasan aliran Sungai Badeng. Banjir bandang yang akhir-akhir kerap terjadi di sungai yang mengaliri empat kecamatan di Banyuwangi tersebut, masih berpotensi kembali terjadi.

Bahkan, banjir serupa berpeluang terjadi setiap kali hujan deras melanda hulu Sungai Badeng hingga beberapa tahun ke depan. Sebab, saat ini terdapat sekitar 2 juta meter kubik material tanah longsor di hulu sungai tersebut, tepatnya di lereng Gunung Raung.

Hal itu terungkap saat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyuwangi menggelar sosialisasi dan laporan hasil kajian pemeriksaan gerakan tanah/longsor oleh Tim Kajian Tanah Longsor Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) kemarin (22/5). Sosialisasi yang diikuti para kepala desa, camat, serta unsur satuan kerja perangkat daerah (SKPD) terkait tersebut dihadiri langsung Ketua Tim Kajian Tanah Longsor PVMBG Imam Santosa.

Imam mengatakan, pihaknya telah melakukan observasi langsung di hulu Sungai Badeng untuk mengetahui penyebab pasti banjir bandang yang terjadi di sungai yang mengaliri Kecamatan Songgon, Singojuruh, Rogojampi, hingga Blimbingsari tersebut. Selain itu, tim juga telah melakukan analisis serta kajian terhadap peristiwa banjir bandang yang disebabkan longsor di wilayah hulu Sungai Badeng tersebut.

Baca Juga :  Kuota Listrik Bermasalah, PLN Minta Pelanggan Gunakan Aplikasi

Dikatakan, tanah longsor bisa disebabkan beberapa faktor, mulai faktor alam hingga faktor manusia, termasuk perubahan tata guna lahan. ”Pada peristiwa longsor di hulu Sungai Badeng, penyebabnya murni karena faktor alam, yakni curah hujan yang sangat tinggi. Hujan mengakibatkan lereng setinggi sekitar 40 meter longsor. Padahal, tanaman keras di sana masih terjaga. Belum ’terjamah’ manusia. Hutannya sangat lebat,” ujarnya.

Imam menuturkan, area longsor tersebut berjarak sekitar 11,5 kilometer (km) dari permukiman terdekat yang berada di Desa Sumberarum, Kecamatan Songgon. ”Namun, ancaman selanjutnya adalah banjir bandang. Jika ada hujan, material longsoran akan mengakibatkan banjir bandang,” tuturnya.

Tidak tanggung-tanggung, material tanah longsor tersebut mencapai sekitar 1,5 juta sampai 2 juta meter kubik. Banjir bandang di Sungai Badeng masih terus berpotensi terjadi sampai material longsor tersebut habis. ”Kapan material longsor ini akan habis, itu tergantung hujan,” kata Imam.

Mengacu hasil observasi, analisis, dan kajian tersebut, Imam memberikan sejumlah rekomendasi kepada Pemkab Banyuwangi. Rekomendasi pertama adalah membentuk semacam komunitas peduli banjir bandang di sepanjang aliran Sungai Badeng.

”Caranya dengan melibatkan kades dan kepala dusun (kasun). Juga melibatkan orang-orang pencari madu atau burung yang biasa beroperasi di hulu Sungai Badeng. Nah, jika hujan lebat melanda hulu, mereka bisa langsung memberikan informasi kepada kasun atau kades, misalnya dengan memanfaatkan handy talkie (HT). Informasi itu bisa langsung diteruskan kepada masyarakat di sepanjang aliran Sungai Badeng,” paparnya.

Baca Juga :  Berlaku Larangan Mudik, Pelabuhan Ketapang Lengang

Rekomendasi selanjutnya, pemkab bisa memasang close circuit television (CCTV) di hulu Sungai Badeng. Pemkab juga direkomendasikan untuk mengintensifkan sosialisasi potensi dan bahaya banjir bandang kepada masyarakat. ”Rekomendasi selanjutnya, lakukan normalisasi sungai. Dan rekomendasi yang paling akhir sekaligus yang paling mahal adalah membuat cek dam di hulu Sungai Badeng,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Banyuwangi Fajar Suasana mengatakan, rekomendasi untuk membentuk komunitas peduli tanah longsor bisa segera dilaksanakan. Selain itu, normalisasi sungai juga sudah dilaksanakan di beberapa titik.

”Kami juga akan berkoordinasi dengan instansi lain untuk melaksanakan rekomendasi lain, misalnya perbaikan dam-dam yang rusak akibat banjir bandang beberapa waktu lalu. Begitu pula dengan rekomendasi pembangunan cek dam, akan kami koordinasikan. Semoga bisa terwujud, walaupun mungkin tidak bisa terealisasi tahun ini,” pungkasnya.

JawaPos.com – Peringatan bagi warga yang tinggal di kawasan aliran Sungai Badeng. Banjir bandang yang akhir-akhir kerap terjadi di sungai yang mengaliri empat kecamatan di Banyuwangi tersebut, masih berpotensi kembali terjadi.

Bahkan, banjir serupa berpeluang terjadi setiap kali hujan deras melanda hulu Sungai Badeng hingga beberapa tahun ke depan. Sebab, saat ini terdapat sekitar 2 juta meter kubik material tanah longsor di hulu sungai tersebut, tepatnya di lereng Gunung Raung.

Hal itu terungkap saat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyuwangi menggelar sosialisasi dan laporan hasil kajian pemeriksaan gerakan tanah/longsor oleh Tim Kajian Tanah Longsor Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) kemarin (22/5). Sosialisasi yang diikuti para kepala desa, camat, serta unsur satuan kerja perangkat daerah (SKPD) terkait tersebut dihadiri langsung Ketua Tim Kajian Tanah Longsor PVMBG Imam Santosa.

Imam mengatakan, pihaknya telah melakukan observasi langsung di hulu Sungai Badeng untuk mengetahui penyebab pasti banjir bandang yang terjadi di sungai yang mengaliri Kecamatan Songgon, Singojuruh, Rogojampi, hingga Blimbingsari tersebut. Selain itu, tim juga telah melakukan analisis serta kajian terhadap peristiwa banjir bandang yang disebabkan longsor di wilayah hulu Sungai Badeng tersebut.

Baca Juga :  Gandeng Disnakertrans, BPJS TK Target 60.000 Pekerja

Dikatakan, tanah longsor bisa disebabkan beberapa faktor, mulai faktor alam hingga faktor manusia, termasuk perubahan tata guna lahan. ”Pada peristiwa longsor di hulu Sungai Badeng, penyebabnya murni karena faktor alam, yakni curah hujan yang sangat tinggi. Hujan mengakibatkan lereng setinggi sekitar 40 meter longsor. Padahal, tanaman keras di sana masih terjaga. Belum ’terjamah’ manusia. Hutannya sangat lebat,” ujarnya.

Imam menuturkan, area longsor tersebut berjarak sekitar 11,5 kilometer (km) dari permukiman terdekat yang berada di Desa Sumberarum, Kecamatan Songgon. ”Namun, ancaman selanjutnya adalah banjir bandang. Jika ada hujan, material longsoran akan mengakibatkan banjir bandang,” tuturnya.

Tidak tanggung-tanggung, material tanah longsor tersebut mencapai sekitar 1,5 juta sampai 2 juta meter kubik. Banjir bandang di Sungai Badeng masih terus berpotensi terjadi sampai material longsor tersebut habis. ”Kapan material longsor ini akan habis, itu tergantung hujan,” kata Imam.

Mengacu hasil observasi, analisis, dan kajian tersebut, Imam memberikan sejumlah rekomendasi kepada Pemkab Banyuwangi. Rekomendasi pertama adalah membentuk semacam komunitas peduli banjir bandang di sepanjang aliran Sungai Badeng.

”Caranya dengan melibatkan kades dan kepala dusun (kasun). Juga melibatkan orang-orang pencari madu atau burung yang biasa beroperasi di hulu Sungai Badeng. Nah, jika hujan lebat melanda hulu, mereka bisa langsung memberikan informasi kepada kasun atau kades, misalnya dengan memanfaatkan handy talkie (HT). Informasi itu bisa langsung diteruskan kepada masyarakat di sepanjang aliran Sungai Badeng,” paparnya.

Baca Juga :  Rayakan Waisak, Lepas Seratus Lampion

Rekomendasi selanjutnya, pemkab bisa memasang close circuit television (CCTV) di hulu Sungai Badeng. Pemkab juga direkomendasikan untuk mengintensifkan sosialisasi potensi dan bahaya banjir bandang kepada masyarakat. ”Rekomendasi selanjutnya, lakukan normalisasi sungai. Dan rekomendasi yang paling akhir sekaligus yang paling mahal adalah membuat cek dam di hulu Sungai Badeng,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Banyuwangi Fajar Suasana mengatakan, rekomendasi untuk membentuk komunitas peduli tanah longsor bisa segera dilaksanakan. Selain itu, normalisasi sungai juga sudah dilaksanakan di beberapa titik.

”Kami juga akan berkoordinasi dengan instansi lain untuk melaksanakan rekomendasi lain, misalnya perbaikan dam-dam yang rusak akibat banjir bandang beberapa waktu lalu. Begitu pula dengan rekomendasi pembangunan cek dam, akan kami koordinasikan. Semoga bisa terwujud, walaupun mungkin tidak bisa terealisasi tahun ini,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Oleng, Avanza Seruduk Rumah Warga

Bangun Pribadi Siswa Berkarakter

Permintaan Selada Meningkat

Artikel Terbaru

/