alexametrics
28.9 C
Banyuwangi
Friday, August 12, 2022

Banjir Hutan Gundul Kian Parah, BPBD Minta PT Lidjen Bangun Irigasi

BANYUWANGI –  Hutan gundul di lereng Ijen terus memicu banjir bandang. Untuk kali kedua,  hutan gundul yang kini ditanami bawang putih itu mengakibatkan banjir besar yang melanda tiga desa.

Tiga desa yang kena dampak banjir lumpur tersebut adalah  Desa Tamansari Kecamatan Licin, Desa Kampunganyar Kecamatan Glagah, dan Desa Bulusari Kecamatan Kalipuro. Sungai Kalibendo yang tadinya bersih, kini tampak kotor.

Kayu kering dari atas gunung ikut hanyut hingga menyumbat aliran sungai. Banjir bandang yang melanda tiga desa tersebut semakin mengkhawatirkan. 

Banjir pertama terjadi dua pekan lalu (3/12) dan banjir kedua terjadi pada Minggu kemarin (17/12). Namun, volume banjir pertama lebih besar dibandingkan bencana banjir yang kedua. Kerusakan lahan yang terjadi meliputi Desa Tamansari, Desa Kampunganyar, dan Desa Bulusari. Meski tak sampai memasuki permukiman penduduk, banjir bandang membawa material berupa lumpur serta batang pohon.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyuwangi Eka Muharam mengatakan, pihak PT Lidjen belum mengkaji dan menganalisis risiko bencana di area perkebunan bawang putih tersebut. Sebab, lahan seluas 85 hektare tersebut kini sudah gundul dan tidak area untuk resapan air.

Baca Juga :  Polisi Imbau Pemilik Gerandong Tidak Melintas di Jalan Raya

”Kami berharap PT Lidjen bisa lebih mengkaji lagi dampak bencana yang terjadi. Sistem irigasi agar cepat dibenahi dan segera dibuatkan bendungan atau kanal untuk aliran air hujan,” pinta Eka.

Sampai saat ini, PT Lidjen belum berkoordinasi dengan BPBD terkait bencana banjir bandang tersebut. Banjir bandang tidak sampai merambah ke permukiman penduduk. Namun, persawahan milik warga Desa Bulusari terkena dampak banjir tersebut.

Sedangkan Desa Kampunganyar banjir hanya berjarak tiga kilometer dari permukiman.

Untuk Desa Tamansari banjir mengalir dan mengotori sungai Kalibendo dan menerjang beberapa fasilitas wisata. ”Yang ditakutkan jika curah hujan tinggi, aliran air bertambah besar. Hal ini bisa berdampak banjir lebih parah lagi dan mengakibatkan erosi di aliran banjir sejauh tujuh kilometer,” papar Eka.

Sejauh pemantauan BPBD, seharusnya ada mitigasi di area lahan bawang putih tersebut. Sehingga meminimalkan dampak bencana yang terjadi di area tersebut. ”Kami belum berkoordinasi dengan PT Lidjen terkait mitigasi. Dalam beberapa bulan ke depan, hujan masih melanda wilayah Banyuwangi dan risiko banjir bandang masih bisa terjadi hingga bulan Februari,” tandas Eka.

Baca Juga :  Sambut Natal dan Tahun Baru, Dermaga Ponton Ketapang Diperbaiki

Diberitakan sebelumnya, lahan bawang putih dengan total luas 108 hektare disebut-sebut berdampak buruk bagi lingkungan sekitar. Saat hujan deras mengguyur kawasan tersebut pekan lalu, telah mengakibatkan banjir kiriman dari atas Gunung Ijen.

Air limpahan dari Gunung Ijen tersebut melanda tiga desa yang terletak di bawah lahan tanaman bawang putih tersebut. Tiga desa yang terdampak, yakni Tamansari, Bulusari, dan Kampunganyar.

Ansori, 50, petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Lidjen Makmur mengaku tidak ada banjir di kawasan lahan pertanian. Para petani kini lebih sejahtera lantaran lahan bawang putih banyak menyerap tenaga kerja di kawasan Desa Tamansari dan sekitarnya. ”Kami diberi upah Rp 35.000 per hari oleh PT Lidjen. Dari pada dulu kami harus mencari kayu dan tidak jelas pendapatan yang didapatkan,” ujar Ansori.

BANYUWANGI –  Hutan gundul di lereng Ijen terus memicu banjir bandang. Untuk kali kedua,  hutan gundul yang kini ditanami bawang putih itu mengakibatkan banjir besar yang melanda tiga desa.

Tiga desa yang kena dampak banjir lumpur tersebut adalah  Desa Tamansari Kecamatan Licin, Desa Kampunganyar Kecamatan Glagah, dan Desa Bulusari Kecamatan Kalipuro. Sungai Kalibendo yang tadinya bersih, kini tampak kotor.

Kayu kering dari atas gunung ikut hanyut hingga menyumbat aliran sungai. Banjir bandang yang melanda tiga desa tersebut semakin mengkhawatirkan. 

Banjir pertama terjadi dua pekan lalu (3/12) dan banjir kedua terjadi pada Minggu kemarin (17/12). Namun, volume banjir pertama lebih besar dibandingkan bencana banjir yang kedua. Kerusakan lahan yang terjadi meliputi Desa Tamansari, Desa Kampunganyar, dan Desa Bulusari. Meski tak sampai memasuki permukiman penduduk, banjir bandang membawa material berupa lumpur serta batang pohon.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyuwangi Eka Muharam mengatakan, pihak PT Lidjen belum mengkaji dan menganalisis risiko bencana di area perkebunan bawang putih tersebut. Sebab, lahan seluas 85 hektare tersebut kini sudah gundul dan tidak area untuk resapan air.

Baca Juga :  Warga Jembrana Bobol Toko Kosmetik

”Kami berharap PT Lidjen bisa lebih mengkaji lagi dampak bencana yang terjadi. Sistem irigasi agar cepat dibenahi dan segera dibuatkan bendungan atau kanal untuk aliran air hujan,” pinta Eka.

Sampai saat ini, PT Lidjen belum berkoordinasi dengan BPBD terkait bencana banjir bandang tersebut. Banjir bandang tidak sampai merambah ke permukiman penduduk. Namun, persawahan milik warga Desa Bulusari terkena dampak banjir tersebut.

Sedangkan Desa Kampunganyar banjir hanya berjarak tiga kilometer dari permukiman.

Untuk Desa Tamansari banjir mengalir dan mengotori sungai Kalibendo dan menerjang beberapa fasilitas wisata. ”Yang ditakutkan jika curah hujan tinggi, aliran air bertambah besar. Hal ini bisa berdampak banjir lebih parah lagi dan mengakibatkan erosi di aliran banjir sejauh tujuh kilometer,” papar Eka.

Sejauh pemantauan BPBD, seharusnya ada mitigasi di area lahan bawang putih tersebut. Sehingga meminimalkan dampak bencana yang terjadi di area tersebut. ”Kami belum berkoordinasi dengan PT Lidjen terkait mitigasi. Dalam beberapa bulan ke depan, hujan masih melanda wilayah Banyuwangi dan risiko banjir bandang masih bisa terjadi hingga bulan Februari,” tandas Eka.

Baca Juga :  Polisi Imbau Pemilik Gerandong Tidak Melintas di Jalan Raya

Diberitakan sebelumnya, lahan bawang putih dengan total luas 108 hektare disebut-sebut berdampak buruk bagi lingkungan sekitar. Saat hujan deras mengguyur kawasan tersebut pekan lalu, telah mengakibatkan banjir kiriman dari atas Gunung Ijen.

Air limpahan dari Gunung Ijen tersebut melanda tiga desa yang terletak di bawah lahan tanaman bawang putih tersebut. Tiga desa yang terdampak, yakni Tamansari, Bulusari, dan Kampunganyar.

Ansori, 50, petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Lidjen Makmur mengaku tidak ada banjir di kawasan lahan pertanian. Para petani kini lebih sejahtera lantaran lahan bawang putih banyak menyerap tenaga kerja di kawasan Desa Tamansari dan sekitarnya. ”Kami diberi upah Rp 35.000 per hari oleh PT Lidjen. Dari pada dulu kami harus mencari kayu dan tidak jelas pendapatan yang didapatkan,” ujar Ansori.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/