alexametrics
24.3 C
Banyuwangi
Thursday, August 11, 2022

Penyebab Paus Orca Terdampar Karena Lepas dari Kawanan saat Berburu

RadarBanyuwangi.id – Masih ingat dengan paus orca (Orcinus orca) yang mati terdampar di perairan Pantai Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi pada awal bulan lalu (2/4)? Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Denpasar bersama Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga (FKH Unair) melihat ada beberapa fakta baru terkait penyebab kematian mamalia laut itu.

Meski belum memberikan analisis secara gamblang, ada beberapa temuan awal yang layak dicermati. Kepala BPSPL Denpasar Permada Yudiarso mengatakan, pihaknya masih menunggu hasil analisis secara utuh dari FKH Unair. Namun, ada beberapa temuan awal yang menurutnya sudah dilaporkan oleh dokter dari FKH Unair, drh Aditya Yudhana. Di antaranya dalam pencernaan paus orca tersebut ditemukan sisa gurita.

Menurut Permana Yudiarso, hal ini merujuk kemungkinan bahwa hewan berwarna hitam putih ini sebelum ditemukan mati, masuk ke perairan Selat Bali dalam masa berburu makanan. Paus ini juga terlihat terpisah dari kawanannya ketika sedang berburu makanan. Pria yang akrab disapa Yudi itu menambahkan, dari ciri corak putihnya, dia menduga paus orca ini adalah yang biasa ditemukan di benua Antartika (kutub selatan).

Baca Juga :  Angkutan di Banyuwangi Semakin Lengkap

Permana Yudiarso menjelaskan, biasanya paus orca berkelompok (disebut pod) dalam jumlah kecil yakni sekitar satu sampai tujuh individu, maupun jumlah banyak antara lima sampai 25 individu. Jumlah kelompok kecil biasanya merupakan paus orca transients yakni dengan karakter menjelajah lintas benua/berjarak jauh. Sementara jumlah banyak biasanya paus orca yang disebut residents dengan jarak jelajah pendek atau di sekitar wilayah pesisir pantai.

Kedua tipe paus orca ini ketika berburu bekerja sama antara individu dalam kelompok. Dengan tugas setiap individu paus yang sudah dibagi misal ada yang mengejar mangsa, ada yang mengasuh anak, dan sebagainya. Komposisi kelompoknya biasanya juga ada polanya, yaitu campuran antara jantan, betina, bayi. Jumlah betina dewasa biasanya dominan dalam kelompok dibanding jumlah jantan dewasa, minimal terdiri satu individu jantan dan beberapa betina yang soliter.

Baca Juga :  Kiai Kholil Ngabuburit di Bunder

Namun, kata Permana, jika dilihat dari makanannya, paus orca ini dapat digolongkan pada paus yang residents atau yang berada di sekitar perairan Indonesia dan memiliki jangkauan jelajah (home range) tidak seluas paus orca lintas benua/transients. ”Tapi untuk memastikan, kami harus buktikan dengan uji biologi molekuler DNA pada dagingnya. Dalam proses nekropsi atau pengambilan sampel pada bangkai paus kemarin tidak bisa dilakukan secara optimal karena banyak bagian tubuh paus yang sudah membusuk. Kemarin sudah disampaikan hasil awal, tapi perlu didalami lagi di FKH Unair Surabaya,” jelasnya. (fre/bay/c1)

RadarBanyuwangi.id – Masih ingat dengan paus orca (Orcinus orca) yang mati terdampar di perairan Pantai Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi pada awal bulan lalu (2/4)? Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Denpasar bersama Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga (FKH Unair) melihat ada beberapa fakta baru terkait penyebab kematian mamalia laut itu.

Meski belum memberikan analisis secara gamblang, ada beberapa temuan awal yang layak dicermati. Kepala BPSPL Denpasar Permada Yudiarso mengatakan, pihaknya masih menunggu hasil analisis secara utuh dari FKH Unair. Namun, ada beberapa temuan awal yang menurutnya sudah dilaporkan oleh dokter dari FKH Unair, drh Aditya Yudhana. Di antaranya dalam pencernaan paus orca tersebut ditemukan sisa gurita.

Menurut Permana Yudiarso, hal ini merujuk kemungkinan bahwa hewan berwarna hitam putih ini sebelum ditemukan mati, masuk ke perairan Selat Bali dalam masa berburu makanan. Paus ini juga terlihat terpisah dari kawanannya ketika sedang berburu makanan. Pria yang akrab disapa Yudi itu menambahkan, dari ciri corak putihnya, dia menduga paus orca ini adalah yang biasa ditemukan di benua Antartika (kutub selatan).

Baca Juga :  Sehari, Bandara Banyuwangi Batasi 200 Unit GeNose

Permana Yudiarso menjelaskan, biasanya paus orca berkelompok (disebut pod) dalam jumlah kecil yakni sekitar satu sampai tujuh individu, maupun jumlah banyak antara lima sampai 25 individu. Jumlah kelompok kecil biasanya merupakan paus orca transients yakni dengan karakter menjelajah lintas benua/berjarak jauh. Sementara jumlah banyak biasanya paus orca yang disebut residents dengan jarak jelajah pendek atau di sekitar wilayah pesisir pantai.

Kedua tipe paus orca ini ketika berburu bekerja sama antara individu dalam kelompok. Dengan tugas setiap individu paus yang sudah dibagi misal ada yang mengejar mangsa, ada yang mengasuh anak, dan sebagainya. Komposisi kelompoknya biasanya juga ada polanya, yaitu campuran antara jantan, betina, bayi. Jumlah betina dewasa biasanya dominan dalam kelompok dibanding jumlah jantan dewasa, minimal terdiri satu individu jantan dan beberapa betina yang soliter.

Baca Juga :  Kopaska Free Fall di Pantai Bangsring

Namun, kata Permana, jika dilihat dari makanannya, paus orca ini dapat digolongkan pada paus yang residents atau yang berada di sekitar perairan Indonesia dan memiliki jangkauan jelajah (home range) tidak seluas paus orca lintas benua/transients. ”Tapi untuk memastikan, kami harus buktikan dengan uji biologi molekuler DNA pada dagingnya. Dalam proses nekropsi atau pengambilan sampel pada bangkai paus kemarin tidak bisa dilakukan secara optimal karena banyak bagian tubuh paus yang sudah membusuk. Kemarin sudah disampaikan hasil awal, tapi perlu didalami lagi di FKH Unair Surabaya,” jelasnya. (fre/bay/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/