alexametrics
26.8 C
Banyuwangi
Sunday, August 14, 2022

Jembatan Tambong Kabat, Rawan Laka, Biang Macet

ROGOJAMPI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Jalan poros Banyuwangi – Rogojampi dikenal sebagai jalur cepat dan lebar. Hanya ada satu titik penyempitan di jalur ini, yakni jembatan Tambong di Kecamatan Kabat.

Jembatan Tambong yang menjadi penghubung Desa Pakistaji dengan Desa/ Kecamatan Kabat kerap menjadi salah satu pemicu penumpukan kendaraan dan rawan macet. Hal itu dipicu adanya penyempitan jalan di atas jembatan.

Kendaraan dari ruas jalur utama jurusan Banyuwangi–Rogojampi umumnya terdiri dari empat lajur. Begitu memasuki Jembatan Tambong, kondisi jalan sedikit berkelok menurun, dan menyempit menjadi dua lajur. Penyempitan ruas jalan di atas jembatan itulah yang memicu antrean kendaraan.

Parahnya, jika di bibir jembatan ada kendaraan yang berhenti mendadak atau ada kegiatan perbaikan jalan dapat memicu kemacetan. Kendaraan dari arah Banyuwangi yang awalnya melaju kencang, mulai berjalan melambat begitu mendekati Kantor Desa Kabat. Arus lalu lintas berjalan merayap, dan berhenti 500 meter sebelum jembatan. “Kalau titik rawan macet tidak, hanya jika ada kejadian tertentu saja di atas jembatan yang bisa memicu kemacetan,” ungkap Kanit Penegakkan Hukum (gakkum) Satlantas Polresta Banyuwangi, Ipda Wahid Hasyim.

Baca Juga :  Konflik Tak Kunjung Tuntas, Buruh Bumisari Datangi Kantor Pemkab

Saat ada kunjungan perwakilan dari Kementerian Pekerjaan Umum (PU) tahun 2019 lalu, Pemkab Banyuwangi sempat mengusulkan pelebaran jalan di atas Jembatan Tambong tersebut. Namun hingga kini masih belum ada realisasi. “Sepengetahuan kami yang tahun ini akan dikerjakan justru jembatan di dekat Mapolsek Glenmore yang sedikit menikung, bukan jembatan Tambong, Kecamatan Kabat,” tegasnya.

Jembatan yang berada di Kecamatan Kabat ini tampak terlihat cantik, indah dan romantis jika malam hari. Gemerlap lampu warna-warni menyambut para pengendara yang hendak melintas yang merupakan jembatan utama di jalur poros jalan nasional ini.

Jembatan yang membentang sepanjang kurang lebih 20 meter ini menjadi objek vital, karena merupakan satu-satunya jalan nasional dari Jember menuju Banyuwangi kota, sehingga jembatan Tambong sangat penting bagi mobilitas sehari-hari masyarakat yang melintas.

Baca Juga :  Ikawangi Jember Bantu Penjual Sapu

Pemasangan hiasan lampu strip full colour yakni Red (merah), Green (hijau), dan Blue (biru) pada bagian rangka Jembatan Tambong makin memperindah jika malam hari. Jembatan Tambong dinilai strategis dan memiliki konstruksi kerangka artistik

Jembatan Tambong memang sebagai pintu gerbang menuju Kota Banyuwangi. Tak ayal jika lokasi ini terus dibenahi dan menjadi ikon baru, sehingga para pengendara dari dalam maupun luar Banyuwangi bisa memandang keelokan jembatan ini di malam hari.

Sementara itu, salah seorang pengendara mobil, Mohamad Ali Wafa mengaku kerap terjebak macet saat memasuki Jembatan Tambong. Kemacetan biasanya terjadi pada jam-jam sibuk waktu pulang kerja maupun akhir pekan. Dia berharap jembatan tersebut segera diperlebar. ”Sudah saatnya jalan diperlebar dan dibuat dua lajur. Mungkin bisa menjadi solusi agar tidak sampai terjadi kepadatan arus lalu lintas seperti ini,” tandas warga Kecamatan Srono, Banyuwangi itu.

ROGOJAMPI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Jalan poros Banyuwangi – Rogojampi dikenal sebagai jalur cepat dan lebar. Hanya ada satu titik penyempitan di jalur ini, yakni jembatan Tambong di Kecamatan Kabat.

Jembatan Tambong yang menjadi penghubung Desa Pakistaji dengan Desa/ Kecamatan Kabat kerap menjadi salah satu pemicu penumpukan kendaraan dan rawan macet. Hal itu dipicu adanya penyempitan jalan di atas jembatan.

Kendaraan dari ruas jalur utama jurusan Banyuwangi–Rogojampi umumnya terdiri dari empat lajur. Begitu memasuki Jembatan Tambong, kondisi jalan sedikit berkelok menurun, dan menyempit menjadi dua lajur. Penyempitan ruas jalan di atas jembatan itulah yang memicu antrean kendaraan.

Parahnya, jika di bibir jembatan ada kendaraan yang berhenti mendadak atau ada kegiatan perbaikan jalan dapat memicu kemacetan. Kendaraan dari arah Banyuwangi yang awalnya melaju kencang, mulai berjalan melambat begitu mendekati Kantor Desa Kabat. Arus lalu lintas berjalan merayap, dan berhenti 500 meter sebelum jembatan. “Kalau titik rawan macet tidak, hanya jika ada kejadian tertentu saja di atas jembatan yang bisa memicu kemacetan,” ungkap Kanit Penegakkan Hukum (gakkum) Satlantas Polresta Banyuwangi, Ipda Wahid Hasyim.

Baca Juga :  Cabut Motor Nasabah, CS Finance Digugat Rp 1,8 Miliar

Saat ada kunjungan perwakilan dari Kementerian Pekerjaan Umum (PU) tahun 2019 lalu, Pemkab Banyuwangi sempat mengusulkan pelebaran jalan di atas Jembatan Tambong tersebut. Namun hingga kini masih belum ada realisasi. “Sepengetahuan kami yang tahun ini akan dikerjakan justru jembatan di dekat Mapolsek Glenmore yang sedikit menikung, bukan jembatan Tambong, Kecamatan Kabat,” tegasnya.

Jembatan yang berada di Kecamatan Kabat ini tampak terlihat cantik, indah dan romantis jika malam hari. Gemerlap lampu warna-warni menyambut para pengendara yang hendak melintas yang merupakan jembatan utama di jalur poros jalan nasional ini.

Jembatan yang membentang sepanjang kurang lebih 20 meter ini menjadi objek vital, karena merupakan satu-satunya jalan nasional dari Jember menuju Banyuwangi kota, sehingga jembatan Tambong sangat penting bagi mobilitas sehari-hari masyarakat yang melintas.

Baca Juga :  Tim Gabungan Tidak Temukan Handak dan Narkoba

Pemasangan hiasan lampu strip full colour yakni Red (merah), Green (hijau), dan Blue (biru) pada bagian rangka Jembatan Tambong makin memperindah jika malam hari. Jembatan Tambong dinilai strategis dan memiliki konstruksi kerangka artistik

Jembatan Tambong memang sebagai pintu gerbang menuju Kota Banyuwangi. Tak ayal jika lokasi ini terus dibenahi dan menjadi ikon baru, sehingga para pengendara dari dalam maupun luar Banyuwangi bisa memandang keelokan jembatan ini di malam hari.

Sementara itu, salah seorang pengendara mobil, Mohamad Ali Wafa mengaku kerap terjebak macet saat memasuki Jembatan Tambong. Kemacetan biasanya terjadi pada jam-jam sibuk waktu pulang kerja maupun akhir pekan. Dia berharap jembatan tersebut segera diperlebar. ”Sudah saatnya jalan diperlebar dan dibuat dua lajur. Mungkin bisa menjadi solusi agar tidak sampai terjadi kepadatan arus lalu lintas seperti ini,” tandas warga Kecamatan Srono, Banyuwangi itu.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/