alexametrics
23.5 C
Banyuwangi
Friday, August 12, 2022

Mucikari Penyedia Janda Dibekuk, Sekali Kencan Rp 600 Ribu

JawaPos.com – Polresta Banyuwangi mengungkap praktik prostitusi online kemarin. Dalam kasus ini, polisi menetapkan satu tersangka yang berperan sebagai mucikari. Dia adalah N, 33, warga Desa Karangharjo, Kecamatan Glenmore.

Prostitusi online itu ditawarkan melalui media sosial (medsos). Tarifnya cukup bervariasi, yaitu Rp 600 ribu hingga Rp 800 ribu. Dengan tarif itu, penyedia jasa tersebut mendapatkan imbalan sebesar Rp 200 ribu.

Selain mengungkap prostitusi online, Polresta Banyuwangi juga mengamankan 17 pelaku kejahatan. Empat tersangka terlibat kasus pencurian, tujuh orang tindak pidana pengeroyokan, dan tiga orang kasus persetubuhan. Juga tersangka kasus penganiayaan, jambret, dan curanmor yang masing-masing berjumlah satu.

Pengungkapan kasus tersebut dibeber Kapolresta Kombespol Arman Asmara Syarifuddin dalam konferensi pers di halaman Polresta Banyuwangi kemarin (15/1). Arman mengungkapkan, pengungkapan kasus tersebut terhitung sejak November 2019 lalu. ”Pengungkapan kasus ini terhitung tiga bulan dan mengamankan belasan tersangka,” ujar Arman didampingi Kasatreskrim AKP Mustijat Priyambodo kemarin.

Baca Juga :  Ramai-Ramai Zakat ke Baznas

Setidaknya ada 18 tersangka dengan 12 laporan polisi (LP). Dari 18 tersangka itu, salah satunya kasus prostitusi online. ”Terungkapnya praktik prostitusi online ini berawal dari patroli cyber di media sosial. Melalui akun Facebook, pelaku menawarkan jasa ranjang berbayar kepada pria hidung belang,” katanya.

Dalam penyediaan jasa, tersangka N menawarkan para perempuan yang berstatus janda. Tersangka juga menawarkan dengan tarif yang cukup bervariasi, yaitu Rp 600 ribu hingga Rp 800 ribu. ”Dari harga itu, tersangka mendapatkan imbalan sebesar Rp 200 ribu setiap transaksi,” terangnya.

Setelah adanya kesepakatan, masih kata Arman, tersangka langsung merancang pertemuan antara pria hidung belang dengan perempuan yang dipesan. Biasanya, tersangka mem-booking hotel di wilayah Gambiran. ”Kita amankan barang bukti (BB) satu unit handphone, uang sebesar Rp 600 ribu, dua kondom belum dipakai, dan satu kondom yang sudah dipakai,” ungkapnya.

Baca Juga :  Sepekan Jelang Lebaran, Harga Kebutuhan Pokok Stabil

Di hadapan Kapolresta, tersangka N mengaku melakukan bisnis prostitusi tersebut selama enam bulan. Rata-rata yang meminta bantuan adalah wanita yang berstatus janda. ”Kebanyakan memang janda,” akunya.

N mengaku hanya mendapatkan imbalan sebesar Rp 200 ribu. Sedangkan tarifnya Rp 600 ribu hingga Rp 800 ribu. ”Tergantung kesepakatan,” pungkasnya. (rio/aif/c1)

JawaPos.com – Polresta Banyuwangi mengungkap praktik prostitusi online kemarin. Dalam kasus ini, polisi menetapkan satu tersangka yang berperan sebagai mucikari. Dia adalah N, 33, warga Desa Karangharjo, Kecamatan Glenmore.

Prostitusi online itu ditawarkan melalui media sosial (medsos). Tarifnya cukup bervariasi, yaitu Rp 600 ribu hingga Rp 800 ribu. Dengan tarif itu, penyedia jasa tersebut mendapatkan imbalan sebesar Rp 200 ribu.

Selain mengungkap prostitusi online, Polresta Banyuwangi juga mengamankan 17 pelaku kejahatan. Empat tersangka terlibat kasus pencurian, tujuh orang tindak pidana pengeroyokan, dan tiga orang kasus persetubuhan. Juga tersangka kasus penganiayaan, jambret, dan curanmor yang masing-masing berjumlah satu.

Pengungkapan kasus tersebut dibeber Kapolresta Kombespol Arman Asmara Syarifuddin dalam konferensi pers di halaman Polresta Banyuwangi kemarin (15/1). Arman mengungkapkan, pengungkapan kasus tersebut terhitung sejak November 2019 lalu. ”Pengungkapan kasus ini terhitung tiga bulan dan mengamankan belasan tersangka,” ujar Arman didampingi Kasatreskrim AKP Mustijat Priyambodo kemarin.

Baca Juga :  Razia Mal, Kafe, dan Rumah Makan Terus Digencarkan

Setidaknya ada 18 tersangka dengan 12 laporan polisi (LP). Dari 18 tersangka itu, salah satunya kasus prostitusi online. ”Terungkapnya praktik prostitusi online ini berawal dari patroli cyber di media sosial. Melalui akun Facebook, pelaku menawarkan jasa ranjang berbayar kepada pria hidung belang,” katanya.

Dalam penyediaan jasa, tersangka N menawarkan para perempuan yang berstatus janda. Tersangka juga menawarkan dengan tarif yang cukup bervariasi, yaitu Rp 600 ribu hingga Rp 800 ribu. ”Dari harga itu, tersangka mendapatkan imbalan sebesar Rp 200 ribu setiap transaksi,” terangnya.

Setelah adanya kesepakatan, masih kata Arman, tersangka langsung merancang pertemuan antara pria hidung belang dengan perempuan yang dipesan. Biasanya, tersangka mem-booking hotel di wilayah Gambiran. ”Kita amankan barang bukti (BB) satu unit handphone, uang sebesar Rp 600 ribu, dua kondom belum dipakai, dan satu kondom yang sudah dipakai,” ungkapnya.

Baca Juga :  Kampung Tangguh Tingkat RT, Ampuh Tangkal Korona

Di hadapan Kapolresta, tersangka N mengaku melakukan bisnis prostitusi tersebut selama enam bulan. Rata-rata yang meminta bantuan adalah wanita yang berstatus janda. ”Kebanyakan memang janda,” akunya.

N mengaku hanya mendapatkan imbalan sebesar Rp 200 ribu. Sedangkan tarifnya Rp 600 ribu hingga Rp 800 ribu. ”Tergantung kesepakatan,” pungkasnya. (rio/aif/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/