alexametrics
26.7 C
Banyuwangi
Friday, August 12, 2022

Siaran Mengatasnamakan MNCTV, Teddy UT Ditahan Kejati Jatim

BANYUWANGI – Teddy Anugriyanto alias Teddy UT, pengusaha TV kabel asal Desa Wonosobo, Kecamatan Srono, terbelit persoalan hukum. Pemilik Rafi Vision tersebut ditahan penyidik Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jatim. Teddy kesandung kasus Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Teddy ditahan jaksa penuntut umum dari Kejati Jatim dan Kejari Gresik sejak Selasa (4/1) lalu. Kasi Penkum Kejati Jatim Fathur Rochman menyatakan, tersangka yang dijerat dengan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik ini ditahan selama 20 hari.

Penahanan itu dilakukan setelah tersangka Teddy dilimpahkan penyidik ke Kejati. Jaksa memutuskan untuk menahan Teddy yang sebelumnya tidak ditahan penyidik agar tidak melarikan diri. ”Karena domisilinya jauh di Banyuwangi untuk mengantisipasi agar tidak melarikan diri,” kata Fathur, Selasa (14/1).

Kini perkara tersebut telah dilimpahkan kejaksaan ke Pengadilan Negeri Gresik. Pelimpahan itu sejak Kamis (6/1). Kini jaksa masih menunggu jadwal persidangan dari pengadilan. ”Sebagaimana dakwaan jaksa dianggap melanggar Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik,” ujarnya.

Teddy dikenakan pasal 32 jo pasal 48 UU ITE dengan ancaman hukuman sembilan tahun penjara dan denda Rp 3 miliar lantaran melakukan siaran dengan mengatasnamakan MNCTV. ”Berkas sudah kita nyatakan P-21 di Kejati Jatim, sehingga Teddy langsung dilakukan penahanan dengan dititipkan ke Rutan Gresik,” ujar Fathur.

Baca Juga :  Warga Curahjati Keluhkan Jalan Rusak

Fathur mengatakan, ada beberapa alasan dilakukannya penahanan. Secara formil memenuhi syarat untuk ditahan karena yang bersangkutan diancam pidana penjara lebih dari lima tahun. ”Alasan lainnya, jaksa juga khawatir jika Teddy melarikan diri dan menghilangkan alat bukti,” katanya.

Fathur menambahkan, pelaksanaan sidang masih menunggu penetapan dari pengadilan. ”Kita akan beberkan kronologi lengkapnya dalam pembacaan dakwaan di pengadilan,” terangnya seraya menolak untuk menjelaskan kronologi kejadian.

Kuasa hukum Teddy, Agus Dwi Hariyanto mengatakan, kasus yang menjerat kliennya tersebut sebenarnya murni urusan bisnis. Penahanan yang dilakukan oleh Kejati Jatim atas dasar laporan K-Vision pada 31 Maret 2021. ”Klien kami awalnya kontrak siar dengan pihak MNCTV, pada 2019 kontrak itu habis dan oleh MNCTV kontrak siar tayangan televisi premium atau berbayar dialihkan ke K-Vision,” bebernya.

Saat itu, jelas Agus, Teddy pernah disomasi oleh pihak MNCTV karena masih menayangkan siaran televisi swasta yang free on air. Gara-gara disomasi akhirnya tayangan dihentikan. Teddy meminta agar TV kabel lain yang masih menyiarkan tayangan free on air, yang menjadi hak penayangan televisi swasta ikut diperingatkan agar menghentikan tayangannya.

”Karena tidak punya kontrak lagi dengan MNCTV, Teddy selaku pemilik Rafi Vision berusaha menjalin kontrak dengan K-Vision. Sayangnya usaha itu tidak ada kesepakatan,” terangnya.

Baca Juga :  Merasa Jadi Korban Rekayasa Relawan, Andik Ajukan Keberatan

Teddy akhirnya membangun kontrak kerja sama dengan pihak TV parabola. Dalam siaran TV parabola itu ada tayangan premium alias berbayar dan free on air atau gratis. Kebetulan saluran RCTI, Grup MNCTV, ada di TV parabola tempat Rafi Vision membangun kontrak baru. ”Ini yang kemudian dipersoalkan oleh K-Vision, sehingga dilaporkan,” ungkapnya.

Agus menjelaskan, kliennya berusaha membangun komunikasi bisnis yang baik dengan pihak MNCTV. Pihaknya pernah mendampingi kliennya ke Jakarta untuk menemui manajemen MNCTV tapi gagal bertemu. ”Kami juga pernah menawarkan diri agar dilakukan mediasi di Polda Jatim, karena ini kan urusan bisnis yang sebetulnya bisa diselesaikan di meja perundingan. Tapi upaya mediasi tidak terlaksana,” ungkapnya.

Agus menambahkan, sepertinya ada kejanggalan dalam kasus tersebut. Sebab, dasar laporan justru siaran free on air bukan yang premium. Selama ini, pihak Rafi Vision tidak pernah mengubah sistem pada saluran TV kabelnya. Kliennya menjalankan bisnis TV kabel sesuai kontrak dengan TV parabola. ”Siaran gratis yang dipersoalkan, padahal klien kami menayangkan siaran RCTI (Grup MNCTV) karena di TV parabola ada salurannya,” jelasnya. (gas/rio/aif/c1)

BANYUWANGI – Teddy Anugriyanto alias Teddy UT, pengusaha TV kabel asal Desa Wonosobo, Kecamatan Srono, terbelit persoalan hukum. Pemilik Rafi Vision tersebut ditahan penyidik Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jatim. Teddy kesandung kasus Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Teddy ditahan jaksa penuntut umum dari Kejati Jatim dan Kejari Gresik sejak Selasa (4/1) lalu. Kasi Penkum Kejati Jatim Fathur Rochman menyatakan, tersangka yang dijerat dengan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik ini ditahan selama 20 hari.

Penahanan itu dilakukan setelah tersangka Teddy dilimpahkan penyidik ke Kejati. Jaksa memutuskan untuk menahan Teddy yang sebelumnya tidak ditahan penyidik agar tidak melarikan diri. ”Karena domisilinya jauh di Banyuwangi untuk mengantisipasi agar tidak melarikan diri,” kata Fathur, Selasa (14/1).

Kini perkara tersebut telah dilimpahkan kejaksaan ke Pengadilan Negeri Gresik. Pelimpahan itu sejak Kamis (6/1). Kini jaksa masih menunggu jadwal persidangan dari pengadilan. ”Sebagaimana dakwaan jaksa dianggap melanggar Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik,” ujarnya.

Teddy dikenakan pasal 32 jo pasal 48 UU ITE dengan ancaman hukuman sembilan tahun penjara dan denda Rp 3 miliar lantaran melakukan siaran dengan mengatasnamakan MNCTV. ”Berkas sudah kita nyatakan P-21 di Kejati Jatim, sehingga Teddy langsung dilakukan penahanan dengan dititipkan ke Rutan Gresik,” ujar Fathur.

Baca Juga :  Polisi Sterilkan Sejumlah Gereja

Fathur mengatakan, ada beberapa alasan dilakukannya penahanan. Secara formil memenuhi syarat untuk ditahan karena yang bersangkutan diancam pidana penjara lebih dari lima tahun. ”Alasan lainnya, jaksa juga khawatir jika Teddy melarikan diri dan menghilangkan alat bukti,” katanya.

Fathur menambahkan, pelaksanaan sidang masih menunggu penetapan dari pengadilan. ”Kita akan beberkan kronologi lengkapnya dalam pembacaan dakwaan di pengadilan,” terangnya seraya menolak untuk menjelaskan kronologi kejadian.

Kuasa hukum Teddy, Agus Dwi Hariyanto mengatakan, kasus yang menjerat kliennya tersebut sebenarnya murni urusan bisnis. Penahanan yang dilakukan oleh Kejati Jatim atas dasar laporan K-Vision pada 31 Maret 2021. ”Klien kami awalnya kontrak siar dengan pihak MNCTV, pada 2019 kontrak itu habis dan oleh MNCTV kontrak siar tayangan televisi premium atau berbayar dialihkan ke K-Vision,” bebernya.

Saat itu, jelas Agus, Teddy pernah disomasi oleh pihak MNCTV karena masih menayangkan siaran televisi swasta yang free on air. Gara-gara disomasi akhirnya tayangan dihentikan. Teddy meminta agar TV kabel lain yang masih menyiarkan tayangan free on air, yang menjadi hak penayangan televisi swasta ikut diperingatkan agar menghentikan tayangannya.

”Karena tidak punya kontrak lagi dengan MNCTV, Teddy selaku pemilik Rafi Vision berusaha menjalin kontrak dengan K-Vision. Sayangnya usaha itu tidak ada kesepakatan,” terangnya.

Baca Juga :  Pengelola Kuliner Ikan Bakar Diminta Patuhi Prokes

Teddy akhirnya membangun kontrak kerja sama dengan pihak TV parabola. Dalam siaran TV parabola itu ada tayangan premium alias berbayar dan free on air atau gratis. Kebetulan saluran RCTI, Grup MNCTV, ada di TV parabola tempat Rafi Vision membangun kontrak baru. ”Ini yang kemudian dipersoalkan oleh K-Vision, sehingga dilaporkan,” ungkapnya.

Agus menjelaskan, kliennya berusaha membangun komunikasi bisnis yang baik dengan pihak MNCTV. Pihaknya pernah mendampingi kliennya ke Jakarta untuk menemui manajemen MNCTV tapi gagal bertemu. ”Kami juga pernah menawarkan diri agar dilakukan mediasi di Polda Jatim, karena ini kan urusan bisnis yang sebetulnya bisa diselesaikan di meja perundingan. Tapi upaya mediasi tidak terlaksana,” ungkapnya.

Agus menambahkan, sepertinya ada kejanggalan dalam kasus tersebut. Sebab, dasar laporan justru siaran free on air bukan yang premium. Selama ini, pihak Rafi Vision tidak pernah mengubah sistem pada saluran TV kabelnya. Kliennya menjalankan bisnis TV kabel sesuai kontrak dengan TV parabola. ”Siaran gratis yang dipersoalkan, padahal klien kami menayangkan siaran RCTI (Grup MNCTV) karena di TV parabola ada salurannya,” jelasnya. (gas/rio/aif/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Surat untuk Calon Presiden

Tugu Macan Dicat Ulang

Harga Daging Ayam Terus Turun

/