30.8 C
Banyuwangi
Tuesday, March 21, 2023

Tiga Pendekar Buron, 14 Tersangka Terancam Hukuman Lima Tahun

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Penyidik Reskrim Polresta Banyuwangi menetapkan tiga orang sebagai buron terkait kasus pengeroyokan yang melibatkan tiga perguruan silat di Bumi Blambangan. Tiga buron tersebut diduga menjadi provokator kerusuhan.

Sedangkan 14 orang yang sudah ditetapkan sebagai tersangka terancam hukuman maksimal lima tahun penjara. Dalam perkara ini, penyidik Reskrim Polresta Banyuwangi menerapkan Pasal 170 ayat 1 KUHP subpasal 351 ayat 1 KUHP jo Pasal 55 ayat 1 tentang Penganiayaan. Pasal tersebut berlaku untuk 14 pendekar yang telah ditetapkan sebagai tersangka. Dua tersangka lain yang masih di bawah umur juga diterapkan pasal serupa.

”Tiga tersangka masih buron, sedangan semua tersangka yang telah kita amankan diterapkan pasal yang sama. Tidak bisa diberikan ruang untuk restorative justice (penanganan perkara lebih mengedepankan mediasi),” ujar Kasatreskrim Polresta Banyuwangi Kompol Agus Sobarnapraja.

Penerapan hukum tersebut, kata Agus, untuk memberikan efek deterrent (efek menakuti orang lain agar tidak membuat pelanggaran yang sama) kepada anggota perguruan silat. ”Sesuai atensi Kapolda Jatim kasus ini harus ditangani menurut prosedur hukum. Dengan penegakan hukum seperti itu diharapkan bisa memberikan pembelajaran kepada yang lain agar tidak menyalahgunakan ilmu atau kekuatan silatnya untuk kegiatan yang merugikan,” katanya.

Pihaknya terus mengembangkan kasus tersebut serta tetap menahan semua tersangka. ”Kami tetap amankan di ruang tahanan Polresta Banyuwangi untuk mengantisipasi serangan balasan,” tegas Agus.

Agus meminta kepada warga maupun siswa-siswi di bawahnya yang saat ini masih menempuh latihan, agar ikut menjaga kondusivitas dan pengawasan terhadap segala aktivitas perguruan dengan lebih ketat lagi. ”Jika memang para anggota perguruan silat tidak ingin berurusan dengan hukum, sebaiknya menyalurkan kemampuannya dalam hal-hal yang positif,” tegasnya.

Baca Juga :  Naik Pesawat Tak Perlu Tes PCR dan Antigen

Polresta Banyuwangi juga menggelar audiensi bersama di Command Center Mapolresta Banyuwangi, Selasa (14/3). Seluruh perwakilan perguruan silat se-Banyuwangi dihadirkan. Audiensi dipimpin langsung oleh Kasatreskrim Kompol Agus Sobarnapraja, Kasat Intelkam Kompol Edy Sudarto, dan Ketua Harian IPSI (Ikatan Perguruan Silat Indonesia) Banyuwangi Janotok.

Audiensi tersebut merupakan buntut dari konflik yang terjadi antarperguruan silat. Kericuhan di tiga tempat tersebut mengakibatkan sejumlah korban luka-luka dan 14 orang kini ditetapkan sebagai tersangka. ”Audiensi  dilakukan untuk menentukan langkah pencegahan terjadinya konflik antarperguruan silat agar tidak terulang lagi,” ujar Agus.

Dalam kesempatan tersebut, Agus menyampaikan kepada pimpinan perguruan silat jika ada anggotanya yang melakukan tindak pidana akan tetap diproses secara hukum. ”Penekanan ini dilakukan karena perintah Kapolda Jatim. Seluruh kasus yang berkaitan dengan perguruan silat tidak bisa diselesaikan dengan cara restorative justice,” katanya.

Agus berharap, konflik perguruan silat tidak terulang lagi. Dia meminta kepada seluruh ketua perguruan silat agar bisa memberikan pemahaman kepada anggotanya untuk tidak terlibat kasus apa pun. ”Semua berharap konflik yang terjadi saat ini bisa menjadi yang terakhir agar ke depan seluruh perguruan silat bisa sama-sama mengedepankan kondusivitas wilayah bersama-sama,” bebernya.

Ketua Harian IPSI Banyuwangi Janotok mengatakan, saat ini kampung pesilat sudah terbentuk. Dengan demikian diharapkan bisa meredam gejolak anggota lain di lapangan. ”Kami juga menekankan kepada pendidik agar bisa memberikan wawasan hukum kepada para pendekarnya,” ucapnya.

Baca Juga :  Bus Shawalat Stop Operasi, Jemaah Diminta Jaga Kesehatan untuk Persiapan Haji

Janotok meminta kepada seluruh perguruan silat se-Banyuwangi untuk meningkatkan kegiatannya di kampung pesilat. ”Kami akan meningkatkan kegiatan dengan pertemuan rutin dan latihan bersama,” ucapnya.

Kasat Intelkam Polresta Banyuwangi Kompol Edy Sudarto meminta semua perguruan silat membuat grup diskusi. Tujuannya, untuk saling komunikasi antarperguruan. Masing-masing perguruan silat bisa mengundang Polresta untuk memberikan wawasan hukum. ”Adanya kampung pesilat diharapkan selalu ada komunikasi untuk meminimalkan persoalan terkait dengan perguruan silat, sehingga tidak terjadi salah paham atau konflik kembali,” tambahnya.

Ketua PSHT Cabang Banyuwangi Lilik Sukaryadi menjelaskan, kejadian di Kecamatan Tegalsari menjadi pembelajaran bagi semua pesilat agar tidak mengulangi hal serupa. Untuk kampung pesilat, kata dia, ada beberapa yang belum terbentuk. ”Kami harapkan Polresta Banyuwangi bisa memfasilitasi untuk jenjang prestasi dengan memfasilitasi kegiatan kejuaraan untuk di Banyuwangi,” pintanya.

Seperti diberitakan sebelumnya, tiga perguruan silat di Banyuwangi terlibat bentrok. Selain insiden pada Kamis 10 Maret 2022 lalu, bentrokan antaranggota perguruan silat kembali terjadi. Keributan tersebut terjadi hingga tiga kali. Kejadian pertama meletus pada 16 Februari. Selanjutnya kasus pengeroyokan terjadi pada 5 Maret dan 10 Maret 2023. Dari tiga kejadian tersebut, Polresta Banyuwangi mengamankan 14 orang tersangka. Dua di antaranya merupakan anak berkonflik dengan hukum (ABH). (rio/aif/c1)

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Penyidik Reskrim Polresta Banyuwangi menetapkan tiga orang sebagai buron terkait kasus pengeroyokan yang melibatkan tiga perguruan silat di Bumi Blambangan. Tiga buron tersebut diduga menjadi provokator kerusuhan.

Sedangkan 14 orang yang sudah ditetapkan sebagai tersangka terancam hukuman maksimal lima tahun penjara. Dalam perkara ini, penyidik Reskrim Polresta Banyuwangi menerapkan Pasal 170 ayat 1 KUHP subpasal 351 ayat 1 KUHP jo Pasal 55 ayat 1 tentang Penganiayaan. Pasal tersebut berlaku untuk 14 pendekar yang telah ditetapkan sebagai tersangka. Dua tersangka lain yang masih di bawah umur juga diterapkan pasal serupa.

”Tiga tersangka masih buron, sedangan semua tersangka yang telah kita amankan diterapkan pasal yang sama. Tidak bisa diberikan ruang untuk restorative justice (penanganan perkara lebih mengedepankan mediasi),” ujar Kasatreskrim Polresta Banyuwangi Kompol Agus Sobarnapraja.

Penerapan hukum tersebut, kata Agus, untuk memberikan efek deterrent (efek menakuti orang lain agar tidak membuat pelanggaran yang sama) kepada anggota perguruan silat. ”Sesuai atensi Kapolda Jatim kasus ini harus ditangani menurut prosedur hukum. Dengan penegakan hukum seperti itu diharapkan bisa memberikan pembelajaran kepada yang lain agar tidak menyalahgunakan ilmu atau kekuatan silatnya untuk kegiatan yang merugikan,” katanya.

Pihaknya terus mengembangkan kasus tersebut serta tetap menahan semua tersangka. ”Kami tetap amankan di ruang tahanan Polresta Banyuwangi untuk mengantisipasi serangan balasan,” tegas Agus.

Agus meminta kepada warga maupun siswa-siswi di bawahnya yang saat ini masih menempuh latihan, agar ikut menjaga kondusivitas dan pengawasan terhadap segala aktivitas perguruan dengan lebih ketat lagi. ”Jika memang para anggota perguruan silat tidak ingin berurusan dengan hukum, sebaiknya menyalurkan kemampuannya dalam hal-hal yang positif,” tegasnya.

Baca Juga :  Laju Inflasi Indonesia Tahun 2021 Tetap Terkendali Rendah dan Stabil

Polresta Banyuwangi juga menggelar audiensi bersama di Command Center Mapolresta Banyuwangi, Selasa (14/3). Seluruh perwakilan perguruan silat se-Banyuwangi dihadirkan. Audiensi dipimpin langsung oleh Kasatreskrim Kompol Agus Sobarnapraja, Kasat Intelkam Kompol Edy Sudarto, dan Ketua Harian IPSI (Ikatan Perguruan Silat Indonesia) Banyuwangi Janotok.

Audiensi tersebut merupakan buntut dari konflik yang terjadi antarperguruan silat. Kericuhan di tiga tempat tersebut mengakibatkan sejumlah korban luka-luka dan 14 orang kini ditetapkan sebagai tersangka. ”Audiensi  dilakukan untuk menentukan langkah pencegahan terjadinya konflik antarperguruan silat agar tidak terulang lagi,” ujar Agus.

Dalam kesempatan tersebut, Agus menyampaikan kepada pimpinan perguruan silat jika ada anggotanya yang melakukan tindak pidana akan tetap diproses secara hukum. ”Penekanan ini dilakukan karena perintah Kapolda Jatim. Seluruh kasus yang berkaitan dengan perguruan silat tidak bisa diselesaikan dengan cara restorative justice,” katanya.

Agus berharap, konflik perguruan silat tidak terulang lagi. Dia meminta kepada seluruh ketua perguruan silat agar bisa memberikan pemahaman kepada anggotanya untuk tidak terlibat kasus apa pun. ”Semua berharap konflik yang terjadi saat ini bisa menjadi yang terakhir agar ke depan seluruh perguruan silat bisa sama-sama mengedepankan kondusivitas wilayah bersama-sama,” bebernya.

Ketua Harian IPSI Banyuwangi Janotok mengatakan, saat ini kampung pesilat sudah terbentuk. Dengan demikian diharapkan bisa meredam gejolak anggota lain di lapangan. ”Kami juga menekankan kepada pendidik agar bisa memberikan wawasan hukum kepada para pendekarnya,” ucapnya.

Baca Juga :  Stage Pertama Jadi Ajang Pertarungan Benjamin Dyball dan Thomas Lebas

Janotok meminta kepada seluruh perguruan silat se-Banyuwangi untuk meningkatkan kegiatannya di kampung pesilat. ”Kami akan meningkatkan kegiatan dengan pertemuan rutin dan latihan bersama,” ucapnya.

Kasat Intelkam Polresta Banyuwangi Kompol Edy Sudarto meminta semua perguruan silat membuat grup diskusi. Tujuannya, untuk saling komunikasi antarperguruan. Masing-masing perguruan silat bisa mengundang Polresta untuk memberikan wawasan hukum. ”Adanya kampung pesilat diharapkan selalu ada komunikasi untuk meminimalkan persoalan terkait dengan perguruan silat, sehingga tidak terjadi salah paham atau konflik kembali,” tambahnya.

Ketua PSHT Cabang Banyuwangi Lilik Sukaryadi menjelaskan, kejadian di Kecamatan Tegalsari menjadi pembelajaran bagi semua pesilat agar tidak mengulangi hal serupa. Untuk kampung pesilat, kata dia, ada beberapa yang belum terbentuk. ”Kami harapkan Polresta Banyuwangi bisa memfasilitasi untuk jenjang prestasi dengan memfasilitasi kegiatan kejuaraan untuk di Banyuwangi,” pintanya.

Seperti diberitakan sebelumnya, tiga perguruan silat di Banyuwangi terlibat bentrok. Selain insiden pada Kamis 10 Maret 2022 lalu, bentrokan antaranggota perguruan silat kembali terjadi. Keributan tersebut terjadi hingga tiga kali. Kejadian pertama meletus pada 16 Februari. Selanjutnya kasus pengeroyokan terjadi pada 5 Maret dan 10 Maret 2023. Dari tiga kejadian tersebut, Polresta Banyuwangi mengamankan 14 orang tersangka. Dua di antaranya merupakan anak berkonflik dengan hukum (ABH). (rio/aif/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/