alexametrics
24.9 C
Banyuwangi
Monday, August 8, 2022

Desa Kandangan-Sarongan Damai

Aksi penyerangan yang dilakukan Suliono, 23, pada jemaat gereja Katolik Santa Lidwina, Dukuh Jambon, Desa Trihanggo, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Jogjakarta, pada Minggu (11/2), tidak berpengaruh di kampung pelaku yang ada di Desa Kandangan, Kecamatan Pesanggaran, kemarin (12/2).

Sehari setelah pasca-aksi penyerangan itu, kondisi di Desa Kandangan dan Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggaran, tetap damai. Malahan, di dua desa yang terpencil itu masyarakatnya tetap bekerja seperti biasa. ”Aman dan tidak ada masalah,” ujar Kapolsek Pesanggaran, AKP Hery Purnomo kemarin (12/2).

        Kapolsek memastikan pasca-aksi Suliono hingga melukai empat jemaat gereja, juga tidak berdampak pada keluarga Suliono.  Kemungkinan buruk, hanya berupa perasaan kurang suka dari tetangga, dan itu pun bisa dipastikan akan hilang dengan sendirinya dalam waktu yang singkat. ”Kalau perasaan kurang suka dari tetangga, mungkin ada,” ucapnya.

        Untuk tetap menjaga kondisi tetap kondusif, Kapolsek menyampaikan petugas keamanan hanya memberlakukan siaga antar-tiga pilar, agar koordinasi di lapangan lebih mudah dan cepat. ”Kita siagakan Babinkamtibmas, Babinsa, dan kepala desa selama 24 jam,” jelasnya.

Baca Juga :  Antisipasi Covid-19, Enam Napi Dapat Asimilasi

        Kondisi aman dan damai itu juga disampaikan oleh Ketua Badan Musyawarah Antar Gereja (Bamag) Kabupaten Banyuwangi Pdt Anang Sugeng. Menurutnya, Desa Kandangan dan Sarongan serta di Kabupaten Banyuwangi secara umum, selama ini tetap aman dan jauh dari upaya radikalisme. Kegiatan peribadatan yang dilakukan, bisa berjalan lancar tanpa ada kekhawatiran sedikit pun. ”Tidak ada kekhawatiran, karena kita percaya Banyuwangi aman,” terangnya.

        Selain itu, terang dia, hubungan warga masyarakat terutama lintas agama, juga tetap terjaga dengan baik, tidak ada masalah dan tidak terpengaruh dengan kejadian yang dipicu oleh aksi Suliono itu. ”Semuanya kondusif, kita sama lintas agama tetap baik,” jelasnya.

        Pendeta Anang mengungkapkan apa yang terjadi pada Suliono diyakini bukan dari Desa Kandangan. Sebab, tidak ada model gerakan agama di Desa Kandangan yang seperti diikuti oleh Suliono. ”Di desa tidak ada aliran seperti yang diikuti Suliono,” ungkapnya.

Baca Juga :  Truk Tangki Hajar Mobil Boks, Timpa Motor, 1 Tewas

        Suliono yang menghabiskan masa kecil dan remaja di Desa Kandangan dikenal sebagai anak yang pandai dan sopan. Perubahan mulai terlihat saat kembali dari Sulawesi. ”Kalau sama kita sopan, cuma setelah pulang dari Sulawesi ada perubahan, dia suka menutup diri,” terangnya.

        Dari kejadian ini, Pdt Anang beharap keluarga serta lingkungan lebih jeli dalam mendeteksi dini terhadap perubahan yang terjadi pada warganya. Dia berharap, untuk tidak segan menyampaikan kondisi perubahan tersebut kepada petugas yang berwenang agar segera tertangani. ”Kalau mendeteksi secara dini itu lebih untung,” katanya.

        Mewakili warga Kandangan dan Banyuwangi, Pdt Anang juga menyampaikan permohonan maaf atas perbuatan yang dilakukan Suliono. ”Kami warga Banyuwangi minta maaf kepada umat  Katolik itu di luar jangkauan kami,” pungkasnya.

Aksi penyerangan yang dilakukan Suliono, 23, pada jemaat gereja Katolik Santa Lidwina, Dukuh Jambon, Desa Trihanggo, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Jogjakarta, pada Minggu (11/2), tidak berpengaruh di kampung pelaku yang ada di Desa Kandangan, Kecamatan Pesanggaran, kemarin (12/2).

Sehari setelah pasca-aksi penyerangan itu, kondisi di Desa Kandangan dan Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggaran, tetap damai. Malahan, di dua desa yang terpencil itu masyarakatnya tetap bekerja seperti biasa. ”Aman dan tidak ada masalah,” ujar Kapolsek Pesanggaran, AKP Hery Purnomo kemarin (12/2).

        Kapolsek memastikan pasca-aksi Suliono hingga melukai empat jemaat gereja, juga tidak berdampak pada keluarga Suliono.  Kemungkinan buruk, hanya berupa perasaan kurang suka dari tetangga, dan itu pun bisa dipastikan akan hilang dengan sendirinya dalam waktu yang singkat. ”Kalau perasaan kurang suka dari tetangga, mungkin ada,” ucapnya.

        Untuk tetap menjaga kondisi tetap kondusif, Kapolsek menyampaikan petugas keamanan hanya memberlakukan siaga antar-tiga pilar, agar koordinasi di lapangan lebih mudah dan cepat. ”Kita siagakan Babinkamtibmas, Babinsa, dan kepala desa selama 24 jam,” jelasnya.

Baca Juga :  Nge-Fly, Pria Bersajam Masuk Masjid, Jemaah Ketakutan

        Kondisi aman dan damai itu juga disampaikan oleh Ketua Badan Musyawarah Antar Gereja (Bamag) Kabupaten Banyuwangi Pdt Anang Sugeng. Menurutnya, Desa Kandangan dan Sarongan serta di Kabupaten Banyuwangi secara umum, selama ini tetap aman dan jauh dari upaya radikalisme. Kegiatan peribadatan yang dilakukan, bisa berjalan lancar tanpa ada kekhawatiran sedikit pun. ”Tidak ada kekhawatiran, karena kita percaya Banyuwangi aman,” terangnya.

        Selain itu, terang dia, hubungan warga masyarakat terutama lintas agama, juga tetap terjaga dengan baik, tidak ada masalah dan tidak terpengaruh dengan kejadian yang dipicu oleh aksi Suliono itu. ”Semuanya kondusif, kita sama lintas agama tetap baik,” jelasnya.

        Pendeta Anang mengungkapkan apa yang terjadi pada Suliono diyakini bukan dari Desa Kandangan. Sebab, tidak ada model gerakan agama di Desa Kandangan yang seperti diikuti oleh Suliono. ”Di desa tidak ada aliran seperti yang diikuti Suliono,” ungkapnya.

Baca Juga :  Pemkab Lamban Terbitkan Perbup, Perda Janur Hanya Jadi Simbol 

        Suliono yang menghabiskan masa kecil dan remaja di Desa Kandangan dikenal sebagai anak yang pandai dan sopan. Perubahan mulai terlihat saat kembali dari Sulawesi. ”Kalau sama kita sopan, cuma setelah pulang dari Sulawesi ada perubahan, dia suka menutup diri,” terangnya.

        Dari kejadian ini, Pdt Anang beharap keluarga serta lingkungan lebih jeli dalam mendeteksi dini terhadap perubahan yang terjadi pada warganya. Dia berharap, untuk tidak segan menyampaikan kondisi perubahan tersebut kepada petugas yang berwenang agar segera tertangani. ”Kalau mendeteksi secara dini itu lebih untung,” katanya.

        Mewakili warga Kandangan dan Banyuwangi, Pdt Anang juga menyampaikan permohonan maaf atas perbuatan yang dilakukan Suliono. ”Kami warga Banyuwangi minta maaf kepada umat  Katolik itu di luar jangkauan kami,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/