alexametrics
23.5 C
Banyuwangi
Friday, August 12, 2022

Mahasiswa Tolak Penundaan Pemilu dan Kenaikan Harga BBM

BANYUWANGI – DPRD Banyuwangi dihantam dua ”gelombang” demonstrasi dalam waktu nyaris bersamaan Senin (11/4). Dua kelompok pengunjuk rasa tersebut menyuarakan sejumlah tuntutan, di antaranya menolak perpanjangan masa jabatan presiden dan penundaan pemilihan umum (pemilu), menolak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), serta mendesak pemerintah mengendalikan harga minyak goreng.

Massa pertama berasal dari Forum Cipayung. Dalam aksinya, para mahasiswa dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Gerakan Mahasiswa Nasionalis Indonesia (GMNI), dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) berangkat dari kawasan kampus Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Banyuwangi menuju kantor dewan.

Sesampai di simpang tiga sebelah utara kantor DPRD, massa sempat melakukan aksi bakar ban. Beruntung, aksi bakar ban ini tak berlanjut dan tak sampai menimbulkan aksi anarki. Terlebih, sejumlah Polwan diterjunkan untuk membagi bunga kepada peserta aksi. Sejurus kemudian, massa bergerak menuju halaman depan kantor DPRD dan melakukan orasi di lokasi tersebut.

Sementara itu, beberapa menit berselang, massa kedua juga datang ke kantor lembaga wakil rakyat Banyuwangi tersebut. Kali ini, peserta aksi adalah mahasiswa asal Forum Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) lintas kampus di kabupaten the Sunrise of Java. Begitu tiba di kawasan kantor DPRD, massa menggelar mimbar bebas di depan pintu gerbang sebelah utara kantor dewan.

Baca Juga :  Paus Terdampar Mati, Dikubur di Tepi Pantai

Pantauan wartawan Jawa Pos Radar Banyuwangi, meski berbeda kelompok, para mahasiswa tersebut menyuarakan tuntutan-tuntutan senada. Di antaranya menolak wacana penundaan pemilihan umum (pemilu) dan perpanjangan masa jabatan presiden, mendesak pemerintah menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM), meminta pemerintah mengendalikan harga minyak goreng, serta menolak kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dari 10 persen menjadi 11 persen.

Dalam orasinya, salah satu mahasiswa asal Forum BEM Banyuwangi mengatakan, kenaikan harga BBM jenis pertamax tidak hanya berdampak pada orang-orang berduit. Sebab, kenaikan BBM nonsubsidi itu menyebabkan konsumsi pertalite meningkat sehingga membuat BBM bersubsidi tersebut menjadi langka. ”Imbasnya, membuat rakyat kecil kesulitan mendapatkan BBM. Karena itu, kami meminta harga pertamax diturunkan,” ujarnya.

Orator yang lain menyatakan, aksi yang mereka lakukan merupakan bukti bahwa mahasiswa, khususnya BEM Banyuwangi tidak tinggal diam atas berbagai persoalan yang membelit rakyat. ”Meskipun persoalan-persoalan yang membuat rakyat menjerit ini merupakan ranah pemerintah pusat, kami meminta DPRD sebagai representasi rakyat Banyuwangi tidak tinggal diam. Teruskan aspirasi kami ke pusat,” kata dia.

Rombongan mahasiswa tersebut lantas ditemui pimpinan dan anggota DPRD asal lintas fraksi. Di antaranya dua wakil ketua DPRD, yakni Michael Edy Hariyanto dan M. Ali Mahrus, serta anggota dewan Patemo, Eko Hariyono, dan Khusnan Abadi.

Baca Juga :  Kerap Di-Bully Tetangga, Pelajar SMP Tusuk Pemilik Rumah Kos

Michael menyatakan, sebagai perwakilan DPRD pihaknya telah menampung aspirasi para mahasiswa dan akan meneruskan aspirasi tersebut ke pusat. ”Kami juga memikirkan rakyat. Kami di DPRD Banyuwangi juga menyuarakan bahwa kenaikan BBM dan kenaikan harga minyak goreng memberatkan rakyat. Kami berkomitmen meneruskan aspirasi teman-teman mahasiswa ke pusat,” tegasnya.

Hal senada dilontarkan Wakil Ketua DPRD M. Ali Mahrus. Dikatakan, unjuk rasa yang dilakukan para mahasiswa menjadi bagian penting bagi dewan untuk menyuarakan aspirasi rakyat Banyuwangi ke pusat. ”Ini adalah gerakan riil menyuarakan aspirasi masyarakat. Prosedur untuk menyuarakan aspirasi rakyat Banyuwangi ke pusat akan kita lakukan,” kata dia.

Sementara itu, unjuk rasa yang digelar kalangan mahasiswa kemarin mendapat pengawalan ketat aparat keamanan. Sekitar 250 personel Polri dan TNI diterjunkan untuk mengamankan aksi tersebut.

Menariknya, sejumlah personel polisi wanita (Polwan) yang juga diterjunkan untuk mengamankan aksi unjuk rasa tampak membawa bunga. Bunga tersebut lantas diberikan kepada para mahasiswa yang melakukan demonstrasi. ”Polwan bawa bunga sebagai tanda rasa cinta kita semua,” kata Kapolresta Banyuwangi Kombespol Nasrun Pasaribu. 

BANYUWANGI – DPRD Banyuwangi dihantam dua ”gelombang” demonstrasi dalam waktu nyaris bersamaan Senin (11/4). Dua kelompok pengunjuk rasa tersebut menyuarakan sejumlah tuntutan, di antaranya menolak perpanjangan masa jabatan presiden dan penundaan pemilihan umum (pemilu), menolak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), serta mendesak pemerintah mengendalikan harga minyak goreng.

Massa pertama berasal dari Forum Cipayung. Dalam aksinya, para mahasiswa dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Gerakan Mahasiswa Nasionalis Indonesia (GMNI), dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) berangkat dari kawasan kampus Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Banyuwangi menuju kantor dewan.

Sesampai di simpang tiga sebelah utara kantor DPRD, massa sempat melakukan aksi bakar ban. Beruntung, aksi bakar ban ini tak berlanjut dan tak sampai menimbulkan aksi anarki. Terlebih, sejumlah Polwan diterjunkan untuk membagi bunga kepada peserta aksi. Sejurus kemudian, massa bergerak menuju halaman depan kantor DPRD dan melakukan orasi di lokasi tersebut.

Sementara itu, beberapa menit berselang, massa kedua juga datang ke kantor lembaga wakil rakyat Banyuwangi tersebut. Kali ini, peserta aksi adalah mahasiswa asal Forum Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) lintas kampus di kabupaten the Sunrise of Java. Begitu tiba di kawasan kantor DPRD, massa menggelar mimbar bebas di depan pintu gerbang sebelah utara kantor dewan.

Baca Juga :  Paus Terdampar Mati, Dikubur di Tepi Pantai

Pantauan wartawan Jawa Pos Radar Banyuwangi, meski berbeda kelompok, para mahasiswa tersebut menyuarakan tuntutan-tuntutan senada. Di antaranya menolak wacana penundaan pemilihan umum (pemilu) dan perpanjangan masa jabatan presiden, mendesak pemerintah menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM), meminta pemerintah mengendalikan harga minyak goreng, serta menolak kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dari 10 persen menjadi 11 persen.

Dalam orasinya, salah satu mahasiswa asal Forum BEM Banyuwangi mengatakan, kenaikan harga BBM jenis pertamax tidak hanya berdampak pada orang-orang berduit. Sebab, kenaikan BBM nonsubsidi itu menyebabkan konsumsi pertalite meningkat sehingga membuat BBM bersubsidi tersebut menjadi langka. ”Imbasnya, membuat rakyat kecil kesulitan mendapatkan BBM. Karena itu, kami meminta harga pertamax diturunkan,” ujarnya.

Orator yang lain menyatakan, aksi yang mereka lakukan merupakan bukti bahwa mahasiswa, khususnya BEM Banyuwangi tidak tinggal diam atas berbagai persoalan yang membelit rakyat. ”Meskipun persoalan-persoalan yang membuat rakyat menjerit ini merupakan ranah pemerintah pusat, kami meminta DPRD sebagai representasi rakyat Banyuwangi tidak tinggal diam. Teruskan aspirasi kami ke pusat,” kata dia.

Rombongan mahasiswa tersebut lantas ditemui pimpinan dan anggota DPRD asal lintas fraksi. Di antaranya dua wakil ketua DPRD, yakni Michael Edy Hariyanto dan M. Ali Mahrus, serta anggota dewan Patemo, Eko Hariyono, dan Khusnan Abadi.

Baca Juga :  Polisi Bagi-Bagi Mawar, Mahasiswa Bakar Ban Bekas

Michael menyatakan, sebagai perwakilan DPRD pihaknya telah menampung aspirasi para mahasiswa dan akan meneruskan aspirasi tersebut ke pusat. ”Kami juga memikirkan rakyat. Kami di DPRD Banyuwangi juga menyuarakan bahwa kenaikan BBM dan kenaikan harga minyak goreng memberatkan rakyat. Kami berkomitmen meneruskan aspirasi teman-teman mahasiswa ke pusat,” tegasnya.

Hal senada dilontarkan Wakil Ketua DPRD M. Ali Mahrus. Dikatakan, unjuk rasa yang dilakukan para mahasiswa menjadi bagian penting bagi dewan untuk menyuarakan aspirasi rakyat Banyuwangi ke pusat. ”Ini adalah gerakan riil menyuarakan aspirasi masyarakat. Prosedur untuk menyuarakan aspirasi rakyat Banyuwangi ke pusat akan kita lakukan,” kata dia.

Sementara itu, unjuk rasa yang digelar kalangan mahasiswa kemarin mendapat pengawalan ketat aparat keamanan. Sekitar 250 personel Polri dan TNI diterjunkan untuk mengamankan aksi tersebut.

Menariknya, sejumlah personel polisi wanita (Polwan) yang juga diterjunkan untuk mengamankan aksi unjuk rasa tampak membawa bunga. Bunga tersebut lantas diberikan kepada para mahasiswa yang melakukan demonstrasi. ”Polwan bawa bunga sebagai tanda rasa cinta kita semua,” kata Kapolresta Banyuwangi Kombespol Nasrun Pasaribu. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/