alexametrics
27.7 C
Banyuwangi
Tuesday, August 9, 2022

Puluhan Desa Masuk Kategori Rawan Banjir

JawaPos.com – Ratusan hektare area hutan di sekitar TWA Ijen yang terbakar pada 2019 lalu, masih menyisakan ancaman bagi sejumlah wilayah di Banyuwangi. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyuwangi memprediksi ada 30 desa dari 10 kecamatan yang termasuk kawasan rawan banjir bandang.

Enam desa atau kelurahan di antaranya berada di kawasan Kecamatan Banyuwangi. Wilayah tersebut menjadi muara dari sungai-sungai yang berasal dari kaki Ijen.

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Banyuwangi, Eka Muharam mengatakan, wilayah yang diprediksi paling parah menerima dampak banjir bandang adalah kawasan muara sungai. Seperti di sekitar Kelurahan Lateng, Kampung Mandar, dan Karangrejo.

”Ada 10 kecamatan, tapi basis data kita dari desa. Jadi ada 30 desa yang rawan banjir saat musim hujan ini. Kondisi ini diperparah dengan wilayah sisa kebakaran Ijen yang cukup luas,” kata Eka.

Baca Juga :  Disperta-Pangan Warning Dampak Penggunaan Pestisida Berlebihan

Eka menambahkan, dampak dari lahan terbuka yang cukup luas itu membuat desa-desa yang menjadi lokasi aliran sungai rawan terdampak banjir. Bahkan, kawasan yang memiliki sungai kering atau curah juga masuk kategori rawan banjir.

Eka melihat perubahan itu di sekitar wilayah Kecamatan Wongsorejo. Desa-desa di wilayah itu dulunya aman dari banjir karena sungai-sungainya kering. Namun pasca kebakaran hebat di Ijen, kawasan tersebut ikut terdampak banjir. ”Yang paling parah masih di daerah muara. Apalagi ketika di saat yang bersamaan air laut tengah pasang,” imbuhnya.

Untuk mengantisipasi bencana yang lebih luas, Eka mengatakan BPBD sudah menerapkan protap kesiapsiagaan. Di antaranya melakukan kajian kawasan rawan bencana untuk mengetahui titik lokasi rawan bencana. Selain itu, penyiapan personel yang harus siaga jika sewaktu-waktu dibutuhkan. Mereka merupakan personel kombinasi dari BPBD dan TNI Polri. Juga penyiapan logistik jika dibutuhkan saat darurat.

Baca Juga :  Nenek Berusia 71 Tahun Tertimpa Rumah Ambruk

BPBD juga terus meng-update kondisi perubahan cuaca terkini melalui BMKG. Termasuk memantau potensi bencana lain seperti angin kencang dan tanah longsor. ”Kita sudah lakukan konsolidasi dan rapat koordinasi dengan instasi yang berwenang. Baik dari TNI-Polri, Dinas PUPR, dan Dinas PU Pengairan bahkan Dinas PU Jawa Timur. Karena mereka juga memiliki peralatan untuk itu,” tandasnya. (fre/afi/c1)

JawaPos.com – Ratusan hektare area hutan di sekitar TWA Ijen yang terbakar pada 2019 lalu, masih menyisakan ancaman bagi sejumlah wilayah di Banyuwangi. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyuwangi memprediksi ada 30 desa dari 10 kecamatan yang termasuk kawasan rawan banjir bandang.

Enam desa atau kelurahan di antaranya berada di kawasan Kecamatan Banyuwangi. Wilayah tersebut menjadi muara dari sungai-sungai yang berasal dari kaki Ijen.

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Banyuwangi, Eka Muharam mengatakan, wilayah yang diprediksi paling parah menerima dampak banjir bandang adalah kawasan muara sungai. Seperti di sekitar Kelurahan Lateng, Kampung Mandar, dan Karangrejo.

”Ada 10 kecamatan, tapi basis data kita dari desa. Jadi ada 30 desa yang rawan banjir saat musim hujan ini. Kondisi ini diperparah dengan wilayah sisa kebakaran Ijen yang cukup luas,” kata Eka.

Baca Juga :  Tiang Miring Diperbaiki, PLN Pastikan Tidak Ada Pemadaman

Eka menambahkan, dampak dari lahan terbuka yang cukup luas itu membuat desa-desa yang menjadi lokasi aliran sungai rawan terdampak banjir. Bahkan, kawasan yang memiliki sungai kering atau curah juga masuk kategori rawan banjir.

Eka melihat perubahan itu di sekitar wilayah Kecamatan Wongsorejo. Desa-desa di wilayah itu dulunya aman dari banjir karena sungai-sungainya kering. Namun pasca kebakaran hebat di Ijen, kawasan tersebut ikut terdampak banjir. ”Yang paling parah masih di daerah muara. Apalagi ketika di saat yang bersamaan air laut tengah pasang,” imbuhnya.

Untuk mengantisipasi bencana yang lebih luas, Eka mengatakan BPBD sudah menerapkan protap kesiapsiagaan. Di antaranya melakukan kajian kawasan rawan bencana untuk mengetahui titik lokasi rawan bencana. Selain itu, penyiapan personel yang harus siaga jika sewaktu-waktu dibutuhkan. Mereka merupakan personel kombinasi dari BPBD dan TNI Polri. Juga penyiapan logistik jika dibutuhkan saat darurat.

Baca Juga :  Polresta Dirikan Pos Pengamanan Jelang Nataru

BPBD juga terus meng-update kondisi perubahan cuaca terkini melalui BMKG. Termasuk memantau potensi bencana lain seperti angin kencang dan tanah longsor. ”Kita sudah lakukan konsolidasi dan rapat koordinasi dengan instasi yang berwenang. Baik dari TNI-Polri, Dinas PUPR, dan Dinas PU Pengairan bahkan Dinas PU Jawa Timur. Karena mereka juga memiliki peralatan untuk itu,” tandasnya. (fre/afi/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/