alexametrics
27.5 C
Banyuwangi
Sunday, October 2, 2022

Cari Penyu Bertelur, Sisir Pantai di Alas Purwo

TEGALDLIMO, Jawa Pos Radar Genteng – Kekayaan biota laut, khususnya hewan penyu di Laut Selatan, tampaknya tak perlu dikhawatirkan. Apalagi, upaya konservasi hewan yang mampu hidup hingga usia 70 tahun itu banyak dilakukan di wilayah Kabupaten Banyuwangi, seperti di Pantai Ngagelan, wilayah Taman Nasional Alas Purwo (TNAP), Desa Kalipait, Kecamatan Tegaldlimo, Rabu (10/8).

Setiap pagi, para petugas Seksi Pengelolaan Penyu Semi Alami (PPSA) di Pantai Ngagelan, sigap dengan mengamankan telur-telur penyu yang baru dikeluarkan oleh indukan. “Patrolinya tiap laut surut, biasanya pagi. Pukul 05.00 kita mulai menyisir pantai,” ucap salah satu anggota PPSA, M. Ali Usman, 41, kepada Jawa Pos Radar Genteng.

Di musim bertelur penyu pada rentang April hingga Agustus, petugas PPSA bisa mengamankan dua sarang telur. Setiap sarang telur itu biasanya berisi 60 butir penyu setiap paginya. Penyu yang bertelur di pantai, kebanyakan jenis abu-abu. “Setelah kami amankan, telur penyu dibawa ke pos untuk kami tetaskan,” jelasnya.

Baca Juga :  Perbaiki Drainase Sekitar Perlintasan KA

Menurut Usman, telur penyu perlu segera diamankan dan ditetaskan, bila tidak akan menjadi makanan hewan  “Kalau perburuan manusia, alhamdulillah di sini aman. Tapi kalau predator banyak, makanya harus ditetaskan di tempat khusus,” kata pria asli Dusun Kutorejo, Desa Kalipait, Kecamatan Tegaldlimo itu.

Meski tidak ditetaskan secara alami, tempat penetasan telur di PPSA Ngagelan tetap dibuat seperti sarang telur penyu pada umumnya. “Kami tetap tetaskan di dalam pasir, bukan diinkubator. Kedalaman dan diameter lubang sarang juga sama dengan sarang aslinya,” ucapnya seraya menyebut kedalaman sarang telur 40 sentimeter dan diameter 20 sentimeter.

Setelah dimasukkan dalam lubang yang sudah dibuat, jelas dia, petugas akan memberi catatan pada lubang sarang penetasan telur tersebut. “Dicatat berapa jumlah telur dan kapan telur itu dimasukkan ke dalam lubang penetasan,” ungkapnya.

Baca Juga :  KNKT Investigasi Kecelakaan Pesawat Latih di Alas Purwo

Baru setelah 60 hari, telur-telur penyu itu akan menetas, tukik mungil akan keluar dari lubang yang sudah dibuat oleh petugas. Tak jarang, petugas membantu tukik keluar lubang dengan menggali lubang penetasan. “Setelah menetas harus langsung dilepasliarkan. Hanya beberapa yang ditaruh penangkaran, biasanya untuk keperluan edukasi,” tandasnya.

Ketika musim penetasan tiba, masih kata Usman, petugas PPSA mengaku bisa melepas 300 tukik ke laut lepas dalam sekali rilis. “Itu sehari saja, belum lagi kalau ada yang menetas lagi,” katanya.

Jumlah telur penyu kini mulai menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya. Penyebabnya, kata Usman, masifnya perburuan benur lobster. “Mereka (pencari benur) menggunakan lampu. Itu bisa membuat takut penyu untuk menepi dan bertelur,” jelasnya.(sas/abi)

TEGALDLIMO, Jawa Pos Radar Genteng – Kekayaan biota laut, khususnya hewan penyu di Laut Selatan, tampaknya tak perlu dikhawatirkan. Apalagi, upaya konservasi hewan yang mampu hidup hingga usia 70 tahun itu banyak dilakukan di wilayah Kabupaten Banyuwangi, seperti di Pantai Ngagelan, wilayah Taman Nasional Alas Purwo (TNAP), Desa Kalipait, Kecamatan Tegaldlimo, Rabu (10/8).

Setiap pagi, para petugas Seksi Pengelolaan Penyu Semi Alami (PPSA) di Pantai Ngagelan, sigap dengan mengamankan telur-telur penyu yang baru dikeluarkan oleh indukan. “Patrolinya tiap laut surut, biasanya pagi. Pukul 05.00 kita mulai menyisir pantai,” ucap salah satu anggota PPSA, M. Ali Usman, 41, kepada Jawa Pos Radar Genteng.

Di musim bertelur penyu pada rentang April hingga Agustus, petugas PPSA bisa mengamankan dua sarang telur. Setiap sarang telur itu biasanya berisi 60 butir penyu setiap paginya. Penyu yang bertelur di pantai, kebanyakan jenis abu-abu. “Setelah kami amankan, telur penyu dibawa ke pos untuk kami tetaskan,” jelasnya.

Baca Juga :  Pohon di Jalur Alas Purwo Rawan Tumbang

Menurut Usman, telur penyu perlu segera diamankan dan ditetaskan, bila tidak akan menjadi makanan hewan  “Kalau perburuan manusia, alhamdulillah di sini aman. Tapi kalau predator banyak, makanya harus ditetaskan di tempat khusus,” kata pria asli Dusun Kutorejo, Desa Kalipait, Kecamatan Tegaldlimo itu.

Meski tidak ditetaskan secara alami, tempat penetasan telur di PPSA Ngagelan tetap dibuat seperti sarang telur penyu pada umumnya. “Kami tetap tetaskan di dalam pasir, bukan diinkubator. Kedalaman dan diameter lubang sarang juga sama dengan sarang aslinya,” ucapnya seraya menyebut kedalaman sarang telur 40 sentimeter dan diameter 20 sentimeter.

Setelah dimasukkan dalam lubang yang sudah dibuat, jelas dia, petugas akan memberi catatan pada lubang sarang penetasan telur tersebut. “Dicatat berapa jumlah telur dan kapan telur itu dimasukkan ke dalam lubang penetasan,” ungkapnya.

Baca Juga :  Perbaiki Drainase Sekitar Perlintasan KA

Baru setelah 60 hari, telur-telur penyu itu akan menetas, tukik mungil akan keluar dari lubang yang sudah dibuat oleh petugas. Tak jarang, petugas membantu tukik keluar lubang dengan menggali lubang penetasan. “Setelah menetas harus langsung dilepasliarkan. Hanya beberapa yang ditaruh penangkaran, biasanya untuk keperluan edukasi,” tandasnya.

Ketika musim penetasan tiba, masih kata Usman, petugas PPSA mengaku bisa melepas 300 tukik ke laut lepas dalam sekali rilis. “Itu sehari saja, belum lagi kalau ada yang menetas lagi,” katanya.

Jumlah telur penyu kini mulai menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya. Penyebabnya, kata Usman, masifnya perburuan benur lobster. “Mereka (pencari benur) menggunakan lampu. Itu bisa membuat takut penyu untuk menepi dan bertelur,” jelasnya.(sas/abi)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/