alexametrics
28.9 C
Banyuwangi
Friday, August 12, 2022

Sidowangi Hasilkan 5 Ton Tembakau Per Hektare

RadarBanyuwangi.id – Para petani di Dusun Pancoran, Desa Sidowangi, kemarin (9/6) mulai mengawali panen raya tembakau. Wakil Bupati Banyuwangi Sugirah turun langsung menyaksikan proses panen dan pengolahan daun tembakau sebelum dijual ke Jawa Tengah.

Selain melihat ladang-ladang tembakau, Sugirah juga melihat langsung proses perajangan tembakau yang mayoritas dilakukan oleh kaum wanita. Dia juga sempat ikut turun merajang daun tembakau sembari mencampurkan gula pasir ke daun-daun tembakau.

”Kita hadir untuk memberikan support kepada para petani agar mereka tidak lelah menjadi petani. Karena kehidupan masyarakat ini tidak lepas dari pertanian,” kata Sugirah.

Secara umum, Sugirah melihat stabilitas ketahanan tanaman pangan di Banyuwangi cukup terjaga. Selain tanaman pangan, pemerintah juga menjaga stabilitas tanaman sela seperti tembakau, buah-buahan, dan tanaman hortikultura lainnya. Karena itu, melihat panen tembakau di Banyuwangi, pemkab berupaya untuk tetap mendukung produktivitas yang ada di sana. Salah satunya dengan upaya menyediakan sumur bor untuk menjaga stok air pertanian.

Baca Juga :  Berlaku Tiga Bulan, 124.047 Keluarga Terima BLT Migor

Selama iniyang menjadi keluhan para petani tembakau salah satunya adalah minimnya sumber air bagi pertanian. Sugirah juga menyarankan agar petani menanam tanaman penyimpan air di sekitar lahan-lahan produktif. ”Insya Allah menjadi prioritas untuk kita sediakan sumur bor. Kalau melihat kondisi Sidowangi, kita memang harus menjaga sumber mata air di sini,” ungkap Sugirah kepada RadarBanyuwangi.id.

Kepala Dinas Pertanian Banyuwangi Arief Setiawan yang ikut memantau proses panen tembakau menambahkan, potensi tembakau di Sidowangi cukup besar. Tanaman itu menurutnya juga memberikan dampak langsung yang luar biasa secara ekonomi bagi masyarakat. ”Kualitasnya juga cukup bagus. Sehingga permintaan dari Temanggung, Jawa Tengah, terus berjalan.Tanaman ini juga tahan di musim kering. Berbeda dengan jagung yang masih membutuhkan air untuk di awal masa tanam,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Desa Sidowangi Muansin mengatakan, ada 534 hektare lahan pertanian yang ada di Sidowangi. Tujuh puluh persen di antaranya ditanami tembakau. Setiap tahun, petani di Sidowangi mengalami sekali masa panen tembakau. Dengan rentang waktu sampai dua bulan.

Baca Juga :  Pembuang Limbah Medis Harus Ditindak Tegas

”Sebenarnya mungkin jika irigasinya bagus kita bisa panen dua kali setahun. Tapi karena keterbatasan air, kita hanya bisa panen setahun sekali. Itu pun dari 17 sampai 19 daun, hanya 14 daun yang bisa dipanen,” terang Muansin.

Meski demikian, Muansin mengatakan dalam sekali panen para petani bisa menghasilkan 5 ton tembakau basah dari 1 hektare lahan pertanian Tembakau-tembakau hasil panen itu dijual ke Temanggung, Jawa Tengah.

Sebelumnya para petani sempat bekerja sama dengan produsen rokok. Namun karena pertimbangan harga yang kurang menarik, akhirnya petani lebih memilih untuk menjualnya sendiri. ”Saat ini harga tembakau sekitar Rp 25 ribu per kilogram. Saat panen hampir semua warga terlibat, bahkan jika kewalahan banyak pekerja dari luar kecamatan yang ikut bekerja di sini,” pungkas Muansin. (fre/afi/c1)

RadarBanyuwangi.id – Para petani di Dusun Pancoran, Desa Sidowangi, kemarin (9/6) mulai mengawali panen raya tembakau. Wakil Bupati Banyuwangi Sugirah turun langsung menyaksikan proses panen dan pengolahan daun tembakau sebelum dijual ke Jawa Tengah.

Selain melihat ladang-ladang tembakau, Sugirah juga melihat langsung proses perajangan tembakau yang mayoritas dilakukan oleh kaum wanita. Dia juga sempat ikut turun merajang daun tembakau sembari mencampurkan gula pasir ke daun-daun tembakau.

”Kita hadir untuk memberikan support kepada para petani agar mereka tidak lelah menjadi petani. Karena kehidupan masyarakat ini tidak lepas dari pertanian,” kata Sugirah.

Secara umum, Sugirah melihat stabilitas ketahanan tanaman pangan di Banyuwangi cukup terjaga. Selain tanaman pangan, pemerintah juga menjaga stabilitas tanaman sela seperti tembakau, buah-buahan, dan tanaman hortikultura lainnya. Karena itu, melihat panen tembakau di Banyuwangi, pemkab berupaya untuk tetap mendukung produktivitas yang ada di sana. Salah satunya dengan upaya menyediakan sumur bor untuk menjaga stok air pertanian.

Baca Juga :  Gandeng Relawan Pajak, Beri Asistensi Pengisian SPT

Selama iniyang menjadi keluhan para petani tembakau salah satunya adalah minimnya sumber air bagi pertanian. Sugirah juga menyarankan agar petani menanam tanaman penyimpan air di sekitar lahan-lahan produktif. ”Insya Allah menjadi prioritas untuk kita sediakan sumur bor. Kalau melihat kondisi Sidowangi, kita memang harus menjaga sumber mata air di sini,” ungkap Sugirah kepada RadarBanyuwangi.id.

Kepala Dinas Pertanian Banyuwangi Arief Setiawan yang ikut memantau proses panen tembakau menambahkan, potensi tembakau di Sidowangi cukup besar. Tanaman itu menurutnya juga memberikan dampak langsung yang luar biasa secara ekonomi bagi masyarakat. ”Kualitasnya juga cukup bagus. Sehingga permintaan dari Temanggung, Jawa Tengah, terus berjalan.Tanaman ini juga tahan di musim kering. Berbeda dengan jagung yang masih membutuhkan air untuk di awal masa tanam,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Desa Sidowangi Muansin mengatakan, ada 534 hektare lahan pertanian yang ada di Sidowangi. Tujuh puluh persen di antaranya ditanami tembakau. Setiap tahun, petani di Sidowangi mengalami sekali masa panen tembakau. Dengan rentang waktu sampai dua bulan.

Baca Juga :  Sarana Sidang Online di Lapas Dipastikan Berfungsi

”Sebenarnya mungkin jika irigasinya bagus kita bisa panen dua kali setahun. Tapi karena keterbatasan air, kita hanya bisa panen setahun sekali. Itu pun dari 17 sampai 19 daun, hanya 14 daun yang bisa dipanen,” terang Muansin.

Meski demikian, Muansin mengatakan dalam sekali panen para petani bisa menghasilkan 5 ton tembakau basah dari 1 hektare lahan pertanian Tembakau-tembakau hasil panen itu dijual ke Temanggung, Jawa Tengah.

Sebelumnya para petani sempat bekerja sama dengan produsen rokok. Namun karena pertimbangan harga yang kurang menarik, akhirnya petani lebih memilih untuk menjualnya sendiri. ”Saat ini harga tembakau sekitar Rp 25 ribu per kilogram. Saat panen hampir semua warga terlibat, bahkan jika kewalahan banyak pekerja dari luar kecamatan yang ikut bekerja di sini,” pungkas Muansin. (fre/afi/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/