alexametrics
29.2 C
Banyuwangi
Sunday, October 2, 2022

Limit Harga Rp 32,5 Miliar Dinilai Terlalu Mahal, RM Pondok Wina Gagal Dilelang

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Rumah Makan (RM) Pondok Wina yang terletak di Jalan Basuki Rahmat, Kelurahan Lateng, gagal dilelang. Pada proses lelang pertama yang digelar oleh Pengadilan Agama (PA) Banyuwangi bersama Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Jember kemarin (9/8) tidak ada peminat sama sekali.

Bangunan seluas 8.915 meter persegi tersebut dilelang  dengan limit harga mencapai Rp 32,5 miliar. Lima dari tujuh ahli waris almarhum Djohanah Soekirno berharap rumah makan yang berdiri sejak tahun 1953 itu bisa terjual.

Ketua PA Banyuwangi Mohammad Alirido menjelaskan, proses lelang yang pertama ini dinyatakan sudah gagal. Pasalnya, tidak ada pembeli atau peminat sama sekali. ”Tidak ada peminat, padahal kami sudah umumkan melalui koran Radar Banyuwangi maupun situs resmi milik PA Banyuwangi,” katanya.

Lelang ini, jelas Alirido, memang mengacu pada putusan PA Banyuwangi Nomor 5577/Pdt.G/2017/PA.Bwi tertanggal 30 Agustus 2018. Selain putusan PA, Pengadilan Tinggi Agama Surabaya juga menguatkan putusan PA Banyuwangi dengan putusan Nomor 37/Pdt.G/2019/PTA.Sby tertanggal 14 Februari 2019. ”Ini juga sesuai putusan dari Mahkamah Agung (MA) dengan Nomor 619 K/Ag/2019 tertanggal 30 September 2019 lalu, yang diajukan oleh lima orang ahli waris dari tujuh anak almarhum Djohanah,” katanya.

Baca Juga :  Mirip Asli, Konjen Amerika Pastikan Dolar Palsu

Seluruh bangunan yang dilelang tersebut, masih kata Alirido, sudah bersertifikat hak milik (SHM) atas nama Djohanah. Sedangkan dalam proses lelang sendiri, sebenarnya sudah dibuka secara umum melalui KPKNL. ”Kami sudah membuka secara umum maupun online, ternyata belum ada yang minat. Kami nyatakan lelang pertama gagal dan harus dilakukan lelang kedua. Hal itu tergantung dari pemohon lelang atau eksekusi,” terangnya.

Petugas KPNL Jember Guntar Arifin menjelaskan, proses lelang dilakukan secara online. Para peserta lelang bisa melakukan penawaran maupun melihat limit harga objek lelang. ”Untuk objek Pondok Wina sendiri dengan luas 8.915 meter persegi limit harganya Rp 32,5 miliar, sedangkan uang muka atau uang jaminan lelang sekitar Rp 7,5 miliar,” terangnya.

Guntar mengatakan, sampai batas waktu pelaksanaan lelang pertama ini, tidak ada penawaran yang masuk dari pembeli. ”Makanya, harus dilakukan lelang kedua, tentunya dengan limit harganya lebih rendah dari lelang pertama. Kita berharap dalam pelaksanaan lelang kedua nantinya bisa langsung laku,” harapnya.

Guntar menambahkan, sebenarnya objek lelang terdiri dari tiga bidang tanah dengan luas total 8.915 meter persegi. Makanya, limit harganya cukup tinggi. ”Kita lihat dari beberapa objek bidang di sekitar lokasi, tentunya harga dilelang cukup rendah dari harga pasaran. Biasanya dengan total luas tersebut, bisa terjual hingga Rp 38 miliar,” paparnya.

Baca Juga :  Keluarga Besar Pondok Wina Tak Kunjung Ajukan Lelang Kedua

Sementara itu, perwakilan pemohon eksekusi, Emy Kurniawan mengaku akan berembuk dengan pemohon lainnya. Sebab, ada lima orang pemohon, sedangkan beberapa tidak bisa hadir langsung. ”Kita belum ambil keputusan akan mengajukan permohonan kembali atau tidak, karena memang harus dimusyawarahkan terlebih dahulu,” jawabnya secara singkat.

Seperti diberitakan sebelumnya, Rumah Makan Pondok Wina yang terletak di Jalan Basuki Rahmat, Kelurahan Lateng, segera dilelang. Proses lelang harus ditempuh oleh para ahli waris lantaran tidak menuai kesepakatan setelah dilakukan mediasi.

Rumah makan yang dibangun sejak tahun 1953 oleh almarhum Djohanah Soekirno itu, kini diperebutkan oleh ketujuh anaknya. Dari tujuh ahli waris tersebut, ada lima anak yang mengajukan eksekusi untuk dilakukan penjualan di Pengadilan Agama (PA) Banyuwangi. Sedangkan dua anak lainnya, menolak untuk dilakukan eksekusi sebagai proses lelang.

Bangunan seluas 8.915 meter persegi itu tampaknya akan tetap dilelang. Keputusan itu mengacu putusan PA Banyuwangi Nomor 5577/Pdt.G/2017/PA.Bwi tertanggal 30 Agustus 2018. Selain putusan PA, Pengadilan Tinggi Agama Surabaya juga menguatkan putusan PA Banyuwangi dengan putusan Nomor 37/Pdt.G/2019/PTA.Sby tertanggal 14 Februari 2019. (rio/aif/c1)

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Rumah Makan (RM) Pondok Wina yang terletak di Jalan Basuki Rahmat, Kelurahan Lateng, gagal dilelang. Pada proses lelang pertama yang digelar oleh Pengadilan Agama (PA) Banyuwangi bersama Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Jember kemarin (9/8) tidak ada peminat sama sekali.

Bangunan seluas 8.915 meter persegi tersebut dilelang  dengan limit harga mencapai Rp 32,5 miliar. Lima dari tujuh ahli waris almarhum Djohanah Soekirno berharap rumah makan yang berdiri sejak tahun 1953 itu bisa terjual.

Ketua PA Banyuwangi Mohammad Alirido menjelaskan, proses lelang yang pertama ini dinyatakan sudah gagal. Pasalnya, tidak ada pembeli atau peminat sama sekali. ”Tidak ada peminat, padahal kami sudah umumkan melalui koran Radar Banyuwangi maupun situs resmi milik PA Banyuwangi,” katanya.

Lelang ini, jelas Alirido, memang mengacu pada putusan PA Banyuwangi Nomor 5577/Pdt.G/2017/PA.Bwi tertanggal 30 Agustus 2018. Selain putusan PA, Pengadilan Tinggi Agama Surabaya juga menguatkan putusan PA Banyuwangi dengan putusan Nomor 37/Pdt.G/2019/PTA.Sby tertanggal 14 Februari 2019. ”Ini juga sesuai putusan dari Mahkamah Agung (MA) dengan Nomor 619 K/Ag/2019 tertanggal 30 September 2019 lalu, yang diajukan oleh lima orang ahli waris dari tujuh anak almarhum Djohanah,” katanya.

Baca Juga :  Keluarga Besar Pondok Wina Tak Kunjung Ajukan Lelang Kedua

Seluruh bangunan yang dilelang tersebut, masih kata Alirido, sudah bersertifikat hak milik (SHM) atas nama Djohanah. Sedangkan dalam proses lelang sendiri, sebenarnya sudah dibuka secara umum melalui KPKNL. ”Kami sudah membuka secara umum maupun online, ternyata belum ada yang minat. Kami nyatakan lelang pertama gagal dan harus dilakukan lelang kedua. Hal itu tergantung dari pemohon lelang atau eksekusi,” terangnya.

Petugas KPNL Jember Guntar Arifin menjelaskan, proses lelang dilakukan secara online. Para peserta lelang bisa melakukan penawaran maupun melihat limit harga objek lelang. ”Untuk objek Pondok Wina sendiri dengan luas 8.915 meter persegi limit harganya Rp 32,5 miliar, sedangkan uang muka atau uang jaminan lelang sekitar Rp 7,5 miliar,” terangnya.

Guntar mengatakan, sampai batas waktu pelaksanaan lelang pertama ini, tidak ada penawaran yang masuk dari pembeli. ”Makanya, harus dilakukan lelang kedua, tentunya dengan limit harganya lebih rendah dari lelang pertama. Kita berharap dalam pelaksanaan lelang kedua nantinya bisa langsung laku,” harapnya.

Guntar menambahkan, sebenarnya objek lelang terdiri dari tiga bidang tanah dengan luas total 8.915 meter persegi. Makanya, limit harganya cukup tinggi. ”Kita lihat dari beberapa objek bidang di sekitar lokasi, tentunya harga dilelang cukup rendah dari harga pasaran. Biasanya dengan total luas tersebut, bisa terjual hingga Rp 38 miliar,” paparnya.

Baca Juga :  Berburu Belalang Malam Hari Diminati

Sementara itu, perwakilan pemohon eksekusi, Emy Kurniawan mengaku akan berembuk dengan pemohon lainnya. Sebab, ada lima orang pemohon, sedangkan beberapa tidak bisa hadir langsung. ”Kita belum ambil keputusan akan mengajukan permohonan kembali atau tidak, karena memang harus dimusyawarahkan terlebih dahulu,” jawabnya secara singkat.

Seperti diberitakan sebelumnya, Rumah Makan Pondok Wina yang terletak di Jalan Basuki Rahmat, Kelurahan Lateng, segera dilelang. Proses lelang harus ditempuh oleh para ahli waris lantaran tidak menuai kesepakatan setelah dilakukan mediasi.

Rumah makan yang dibangun sejak tahun 1953 oleh almarhum Djohanah Soekirno itu, kini diperebutkan oleh ketujuh anaknya. Dari tujuh ahli waris tersebut, ada lima anak yang mengajukan eksekusi untuk dilakukan penjualan di Pengadilan Agama (PA) Banyuwangi. Sedangkan dua anak lainnya, menolak untuk dilakukan eksekusi sebagai proses lelang.

Bangunan seluas 8.915 meter persegi itu tampaknya akan tetap dilelang. Keputusan itu mengacu putusan PA Banyuwangi Nomor 5577/Pdt.G/2017/PA.Bwi tertanggal 30 Agustus 2018. Selain putusan PA, Pengadilan Tinggi Agama Surabaya juga menguatkan putusan PA Banyuwangi dengan putusan Nomor 37/Pdt.G/2019/PTA.Sby tertanggal 14 Februari 2019. (rio/aif/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/