alexametrics
29.2 C
Banyuwangi
Sunday, October 2, 2022

Hasil Kebun Dijarah Preman, Warga Kalibaru Marah

KALIBARU, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Aksi penyerangan yang dilakukan warga Kalibaru kepada warga Desa Mulyorejo, Kecamatan Silo, Jember, ternyata bukan tanpa sebab. Setelah belasan warga Kalibaru diamankan Polres Jember, sejumlah warga Kalibaru mulai berani buka suara.

Menurut keterangan tokoh masyarakat Kalibaru, Mohammad Taufan alias Ivan, aksi tersebut merupakan buntut kekesalan masyarakat atas aksi yang dilakukan oleh oknum pendatang asal Lampung yang tinggal di Kecamatan Silo. Betapa tidak, oknum pendatang yang tinggal di Desa Mulyorejo tersebut melakukan aksi penjarahan serta pemalakan beberapa kali kepada warga  Kalibaru.

Bukan hanya itu, oknum tersebut kerap meminta upeti kepada warga Kalibaru sebagai pengelola perkebunan di lahan milik Perhutani. ”Sebenarnya masyarakat Kalibaru  cinta damai. Masyarakat sudah geram dengan ulah oknum pendatang yang disebut-sebut preman kebun tersebut,” ujar Ivan.

Ivan mengatakan, oknum tersebut yang memicu terjadinya konflik antarmasyarakat. Sebab, warga sudah geram dengan ulah oknum tersebut. ”Masyarakat perkebunan sering dipalak, kadang hasil kebun mereka  dijarah oleh oknum tersebut,” katanya.

Padahal, jelas Ivan, oknum tersebut sebagai pendatang di Kecamatan Silo sudah menarik biaya sewa lahan perkebunan dengan tarif Rp 500 ribu per hektare. Sedangkan, lahan yang disewakan oleh oknum tersebut kepada masyarakat Kalibaru ada puluhan hektare.

Baca Juga :  Kapolsek Wongsorejo Minta Pelaku Penjarahan Kapuk Hentikan Aksinya

”Hampir empat tahun lamanya masyarakat Kalibaru tidak bisa menikmati hasil kebunnya. Setiap hampir panen, tanamannya, termasuk kopi maupun durian, habis dijarah oleh oknum tersebut,” ungkapnya.

Dari situlah, masih kata Ivan, kesabaran masyarakat Kalibaru habis. Masyarakat yang sering dipalak akhirnya  memberanikan diri untuk melawan. ”Masyarakat hanya ingin melawan kezaliman karena kerap diperas oleh oknum tersebut. Kalau tidak dilawan, warga Kalibaru terus menjadi korban sapi perah oknum tersebut,” jelasnya.

Ivan menambahkan, sebenarnya aksi pemalakan maupun penjarahan yang dilakukan oleh oknum preman tersebut sudah pernah dilaporkan ke pihak aparat kepolisian. Hanya karena keterbatasan pemahaman masyarakat, laporan tersebut tidak disertai dengan bukti yang mencukupi. ”Dengan modal keberanian, masyarakat Kalibaru hanya ingin melawan aksi kezaliman oknum tersebut. Ketika mendatangi lokasi, warga tidak menemukan oknum yang dicari. Mereka akhirnya menumpahkan kemarahannya ke barang-barang milik oknum tersebut,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, Kepala Desa Banyuanyar, Kecamatan Kalibaru, Supardi, mengaku akan menghormati proses hukum yang harus dijalani warganya yang ditangkap Polres Jember. Warganya diduga terlibat dalam aksi perusakan dan pembakaran rumah penduduk di Dusun Tetelandarungan, Desa Mulyorejo, Kecamatan Silo, Kabupaten Jember pada Sabtu malam (30/7).

Supardi menyebut, dari sembilan warga yang ditangkap polisi itu, tidak semua warga Desa Banyuwanyar. Ada juga warga dari desa lainnya. ”Sampai sekarang kami belum bisa bilang apa-apa. Yang jelas kami menghormati proses penyidikan yang dilakukan polisi,” kata Supardi.

Baca Juga :  Petugas Perhutani Temukan Tumpukan Kayu Jati Ilegal

Supardi meminta warganya tidak tersulut emosi. Warga diminta menunggu hasil pemeriksaan yang dilakukan polisi. Menurut Supardi, Desa Mulyorejo, Kecamatan Silo, Kabupaten Jember sebenarnya berbatasan dengan Desa Kalibaru Manis, Kecamatan Kalibaru. Hanya saja, warga yang menggarap kebun kopi itu mayoritas dari Desa Banyuanyar, Kecamatan Kalibaru.

Konflik di kebun itu sudah lama terjadi. Ada oknum warga Desa Mulyorejo yang kerap melakukan pencurian hasil panen kebun yang digarap warga Kalibaru. Konflik yang terus terjadi itu sempat memanas pada pertengahan Juli 2022 lalu. Saat itu, ada dugaan penganiayaan di tengah kebun yang masuk wilayah Dusun Baban, Desa Mulyorejo, Kecamatan Silo, Jember.

Warga yang menjadi korban penganiayaan adalah Suhar asal Desa Kalibaru Manis. Masalah itu sempat ditangani oleh Polsek Silo, Jember. Setelah ada kasus penganiayaan akhirnya muncul aksi perusakan dan pembakaran rumah warga di Dusun Baban, Desa Mulyorejo, Kecamatan Silo yang diduga dilakukan warga Desa Banyuanyar dan desa lain di Kecamatan Kalibaru. (rio/aif/c1)

KALIBARU, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Aksi penyerangan yang dilakukan warga Kalibaru kepada warga Desa Mulyorejo, Kecamatan Silo, Jember, ternyata bukan tanpa sebab. Setelah belasan warga Kalibaru diamankan Polres Jember, sejumlah warga Kalibaru mulai berani buka suara.

Menurut keterangan tokoh masyarakat Kalibaru, Mohammad Taufan alias Ivan, aksi tersebut merupakan buntut kekesalan masyarakat atas aksi yang dilakukan oleh oknum pendatang asal Lampung yang tinggal di Kecamatan Silo. Betapa tidak, oknum pendatang yang tinggal di Desa Mulyorejo tersebut melakukan aksi penjarahan serta pemalakan beberapa kali kepada warga  Kalibaru.

Bukan hanya itu, oknum tersebut kerap meminta upeti kepada warga Kalibaru sebagai pengelola perkebunan di lahan milik Perhutani. ”Sebenarnya masyarakat Kalibaru  cinta damai. Masyarakat sudah geram dengan ulah oknum pendatang yang disebut-sebut preman kebun tersebut,” ujar Ivan.

Ivan mengatakan, oknum tersebut yang memicu terjadinya konflik antarmasyarakat. Sebab, warga sudah geram dengan ulah oknum tersebut. ”Masyarakat perkebunan sering dipalak, kadang hasil kebun mereka  dijarah oleh oknum tersebut,” katanya.

Padahal, jelas Ivan, oknum tersebut sebagai pendatang di Kecamatan Silo sudah menarik biaya sewa lahan perkebunan dengan tarif Rp 500 ribu per hektare. Sedangkan, lahan yang disewakan oleh oknum tersebut kepada masyarakat Kalibaru ada puluhan hektare.

Baca Juga :  Puluhan Ton Kapuk di Alasbuluh dan Bengkak Dijarah, Polisi Didesak Usut Pelaku

”Hampir empat tahun lamanya masyarakat Kalibaru tidak bisa menikmati hasil kebunnya. Setiap hampir panen, tanamannya, termasuk kopi maupun durian, habis dijarah oleh oknum tersebut,” ungkapnya.

Dari situlah, masih kata Ivan, kesabaran masyarakat Kalibaru habis. Masyarakat yang sering dipalak akhirnya  memberanikan diri untuk melawan. ”Masyarakat hanya ingin melawan kezaliman karena kerap diperas oleh oknum tersebut. Kalau tidak dilawan, warga Kalibaru terus menjadi korban sapi perah oknum tersebut,” jelasnya.

Ivan menambahkan, sebenarnya aksi pemalakan maupun penjarahan yang dilakukan oleh oknum preman tersebut sudah pernah dilaporkan ke pihak aparat kepolisian. Hanya karena keterbatasan pemahaman masyarakat, laporan tersebut tidak disertai dengan bukti yang mencukupi. ”Dengan modal keberanian, masyarakat Kalibaru hanya ingin melawan aksi kezaliman oknum tersebut. Ketika mendatangi lokasi, warga tidak menemukan oknum yang dicari. Mereka akhirnya menumpahkan kemarahannya ke barang-barang milik oknum tersebut,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, Kepala Desa Banyuanyar, Kecamatan Kalibaru, Supardi, mengaku akan menghormati proses hukum yang harus dijalani warganya yang ditangkap Polres Jember. Warganya diduga terlibat dalam aksi perusakan dan pembakaran rumah penduduk di Dusun Tetelandarungan, Desa Mulyorejo, Kecamatan Silo, Kabupaten Jember pada Sabtu malam (30/7).

Supardi menyebut, dari sembilan warga yang ditangkap polisi itu, tidak semua warga Desa Banyuwanyar. Ada juga warga dari desa lainnya. ”Sampai sekarang kami belum bisa bilang apa-apa. Yang jelas kami menghormati proses penyidikan yang dilakukan polisi,” kata Supardi.

Baca Juga :  Upal Probolinggo Masuk Banyuwangi, Diedarkan Ibu Rumah Tangga

Supardi meminta warganya tidak tersulut emosi. Warga diminta menunggu hasil pemeriksaan yang dilakukan polisi. Menurut Supardi, Desa Mulyorejo, Kecamatan Silo, Kabupaten Jember sebenarnya berbatasan dengan Desa Kalibaru Manis, Kecamatan Kalibaru. Hanya saja, warga yang menggarap kebun kopi itu mayoritas dari Desa Banyuanyar, Kecamatan Kalibaru.

Konflik di kebun itu sudah lama terjadi. Ada oknum warga Desa Mulyorejo yang kerap melakukan pencurian hasil panen kebun yang digarap warga Kalibaru. Konflik yang terus terjadi itu sempat memanas pada pertengahan Juli 2022 lalu. Saat itu, ada dugaan penganiayaan di tengah kebun yang masuk wilayah Dusun Baban, Desa Mulyorejo, Kecamatan Silo, Jember.

Warga yang menjadi korban penganiayaan adalah Suhar asal Desa Kalibaru Manis. Masalah itu sempat ditangani oleh Polsek Silo, Jember. Setelah ada kasus penganiayaan akhirnya muncul aksi perusakan dan pembakaran rumah warga di Dusun Baban, Desa Mulyorejo, Kecamatan Silo yang diduga dilakukan warga Desa Banyuanyar dan desa lain di Kecamatan Kalibaru. (rio/aif/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/