alexametrics
24.7 C
Banyuwangi
Sunday, August 14, 2022

Cantik di Profil, Ketemu Darat Biasa-Biasa Saja

RadarBanyuwangi.id – Keberadaan layanan prostitusi online mungkin menjadi hal buruk di tengah masyarakat. Tetapi bagi beberapa orang, munculnya bisnis kupu-kupu daring tak ubahnya seperti menu pemesanan makanan secara online.

Pemesan tak perlu repot-repot datang ke lokalisasi atau mencari mucikari untuk menikmati jasa wanita penghibur. Tinggal memilih di aplikasi, lalu mendatangi penyedia jasa, kemudian eksekusi.

Seperti yang diungkapkan BW, 41, salah seorang user aplikasi chatting yang kerap digunakan para pekerja seks komersial untuk menawarkan layanannya. Kepada Jawa Pos Radar Banyuwangi, BW menceritakan bahwa dia mengenal layanan melalui aplikasi chatting dari salah seorang temanya.

Naluri laki-lakinya langsung muncul begitu disuguhi deretan foto perempuan cantik yang muncul di layanan aplikasi tersebut. Foto-foto itu juga merujuk lokasi di mana para perempuan cantik berada. Awalnya, BW sempat merasa ragu jika wanita yang ada di foto benar-benar menjajakan dirinya. Setelah beberapa kali mencoba, BW akhirnya baru meyakini jika layanan tersebut memang benar-benar ada.

”Jangan terkecoh, ada yang DP (display picture) tidak sesuai aslinya. Foto di DP terlihat cantik, setelah tatap muka terlihat biasa-biasa saja. Kalau seperti itu di-cancel saja,” ujar pegawai swasta itu.

Baca Juga :  Bupati Ipuk Ajak Guru Ngaji Manfaatkan TI

Memesan PSK melalui aplikasi chatting gampang-gampang susah. Dari sepuluh wanita yang diajak chatting, paling hanya satu dua orang yang berhasil sampai ke fase eksekusi. Banyak yang memproteksi diri karena khawatir yang mengajak mereka kencan adalah aparat. ”Kalau saya cari yang dekat-dekat saja dengan lokasi saja. Ada yang lanjut sampai ketemu, ada yang berhenti di chatting saja, bahkan ada yang tidak respons,” ungkapnya.

Setelah cocok di chatting, BW biasanya akan langsung mendatangi lokasi tempat pemilik akun. Ada yang di tempat kos, hotel kecil, sampai hotel berbintang. Mereka yang menjajakan diri di aplikasi chatting berjalan sendiri, tidak melalui mucikari atau germo. Pelanggan bisa langsung melakukan negosiasi dan transaksi jika dirasa cocok.

Sebelum lanjut ke tahap eksekusi, BW biasanya memilih ngobrol untuk membuka perkenalan. Jika cocok antara foto dan fisik seperti di profil chatting, biasanya BW akan memastikan dulu lokasi pertemuan mereka sepi atau tidak. Setelah aman, barulah BW langsung melanjutkan hajatnya. ”Harus pintar melobi dan merayu juga. Kalau mereka nyaman kita bisa kaya orang pacaran, tarifnya juga bisa turun. Biasanya short time Rp 500 ribu, tapi kalau sudah dekat bisa kurang,” ujar BW sembari tertawa.

Baca Juga :  Industri Kerupuk Sedot Tenaga Kerja Lokal

Menurut BW, wanita yang ada di aplikasi rata-rata bukan berasal dari PSK murni. Itu bisa dilihat dari cara mereka men-service pelanggan. Namun, jika sudah merasa dekat bisa seperti pacar, layanan wanita-wanita itu menurutnya bisa berbeda.

Dari pengalamannya menggunakan jasa chatting itu, BW menilai wanita-wanita yang ada di wilayah kota cenderung sesuai dengan foto profil di aplikasi. Berbeda lagi jika sudah merambah ke daerah Banyuwangi selatan. Banyak wanita yang menurutnya berbeda dengan foto profil yang disajikan. Sering kali BW merasa kecele ketika bertemu darat dengan wanita yang chatting di aplikasi. ”Yang penting jangan mau kalau diminta membayar uang muka (DP) di depan. Pasti menipu, kalau mau COD saja. Ketemu, bicara, cocok langsung bayar,” pungkasnya. (fre/aif/c1)

RadarBanyuwangi.id – Keberadaan layanan prostitusi online mungkin menjadi hal buruk di tengah masyarakat. Tetapi bagi beberapa orang, munculnya bisnis kupu-kupu daring tak ubahnya seperti menu pemesanan makanan secara online.

Pemesan tak perlu repot-repot datang ke lokalisasi atau mencari mucikari untuk menikmati jasa wanita penghibur. Tinggal memilih di aplikasi, lalu mendatangi penyedia jasa, kemudian eksekusi.

Seperti yang diungkapkan BW, 41, salah seorang user aplikasi chatting yang kerap digunakan para pekerja seks komersial untuk menawarkan layanannya. Kepada Jawa Pos Radar Banyuwangi, BW menceritakan bahwa dia mengenal layanan melalui aplikasi chatting dari salah seorang temanya.

Naluri laki-lakinya langsung muncul begitu disuguhi deretan foto perempuan cantik yang muncul di layanan aplikasi tersebut. Foto-foto itu juga merujuk lokasi di mana para perempuan cantik berada. Awalnya, BW sempat merasa ragu jika wanita yang ada di foto benar-benar menjajakan dirinya. Setelah beberapa kali mencoba, BW akhirnya baru meyakini jika layanan tersebut memang benar-benar ada.

”Jangan terkecoh, ada yang DP (display picture) tidak sesuai aslinya. Foto di DP terlihat cantik, setelah tatap muka terlihat biasa-biasa saja. Kalau seperti itu di-cancel saja,” ujar pegawai swasta itu.

Baca Juga :  Daring Lagi, Daring lagi...

Memesan PSK melalui aplikasi chatting gampang-gampang susah. Dari sepuluh wanita yang diajak chatting, paling hanya satu dua orang yang berhasil sampai ke fase eksekusi. Banyak yang memproteksi diri karena khawatir yang mengajak mereka kencan adalah aparat. ”Kalau saya cari yang dekat-dekat saja dengan lokasi saja. Ada yang lanjut sampai ketemu, ada yang berhenti di chatting saja, bahkan ada yang tidak respons,” ungkapnya.

Setelah cocok di chatting, BW biasanya akan langsung mendatangi lokasi tempat pemilik akun. Ada yang di tempat kos, hotel kecil, sampai hotel berbintang. Mereka yang menjajakan diri di aplikasi chatting berjalan sendiri, tidak melalui mucikari atau germo. Pelanggan bisa langsung melakukan negosiasi dan transaksi jika dirasa cocok.

Sebelum lanjut ke tahap eksekusi, BW biasanya memilih ngobrol untuk membuka perkenalan. Jika cocok antara foto dan fisik seperti di profil chatting, biasanya BW akan memastikan dulu lokasi pertemuan mereka sepi atau tidak. Setelah aman, barulah BW langsung melanjutkan hajatnya. ”Harus pintar melobi dan merayu juga. Kalau mereka nyaman kita bisa kaya orang pacaran, tarifnya juga bisa turun. Biasanya short time Rp 500 ribu, tapi kalau sudah dekat bisa kurang,” ujar BW sembari tertawa.

Baca Juga :  PHRI Dukung APH Berantas Prostitusi

Menurut BW, wanita yang ada di aplikasi rata-rata bukan berasal dari PSK murni. Itu bisa dilihat dari cara mereka men-service pelanggan. Namun, jika sudah merasa dekat bisa seperti pacar, layanan wanita-wanita itu menurutnya bisa berbeda.

Dari pengalamannya menggunakan jasa chatting itu, BW menilai wanita-wanita yang ada di wilayah kota cenderung sesuai dengan foto profil di aplikasi. Berbeda lagi jika sudah merambah ke daerah Banyuwangi selatan. Banyak wanita yang menurutnya berbeda dengan foto profil yang disajikan. Sering kali BW merasa kecele ketika bertemu darat dengan wanita yang chatting di aplikasi. ”Yang penting jangan mau kalau diminta membayar uang muka (DP) di depan. Pasti menipu, kalau mau COD saja. Ketemu, bicara, cocok langsung bayar,” pungkasnya. (fre/aif/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/