alexametrics
26.3 C
Banyuwangi
Saturday, August 13, 2022

Ungkap Kamuflase Toko Modern Berjaringan

 Upaya Pemkab Banyuwangi melindungi para pedagang kecil dari ”serbuan” toko modern berjaringan belum berbuah optimal. Kalangan dewan menemukan sejumlah toko modern berjaringan alias waralaba baru yang berkamuflase toko modern tidak berjaringan.

        Larangan pendirian toko modern berjaringan baru telah diatur melalui Peraturan Daerah (Perda) Nomor 4 Tahun 2016 tentang Ketertiban Umum dan Ketenteraman Masyarakat. Pada proses pembahasan rancangan produk hukum daerah tersebut, pihak eksekutif maupun legislatif sepakat melarang pendirian toko modern baru dengan tujuan tidak mematikan toko-toko kecil milik rakyat kecil.

        Namun, fakta di lapangan berkata lain. Dari hasil pemantauan langsung Komisi IV DPRD Banyuwangi kemarin (9/4), kalangan dewan menemukan satu minimarket berjaringan yang berkamuflase minimarket tidak berjaringan. Salah satunya minimarket ”Jaya Bersama” yang berlokasi tidak jauh dari kantor Kecamatan Kalipuro.

         Awalnya, Komisi IV mengindikasi toko modern tersebut merupakan salah satu jaringan swalayan terkemuka di tanah air. Sebab, logo toko tersebut sangat mirip logo jaringan swalayan tersebut.

        Saat diselidiki ke dalam, para wakil rakyat menemukan bukti lain. Sejumlah barang, seperti beras kemasan lima kilogram (kg), tisu, sandal jepit, hingga air mineral kemasan yang dijajakan di swalayan itu bermerek swalayan berjaringan terkemuka yang logonya menyerupai logo toko ”Jaya Bersama” tersebut.

Baca Juga :  Penghormatan Terakhir Kepada Awak Nanggala 402

        Sekretaris Komisi IV DPRD Banyuwangi Salimi mengatakan, indikasi bahwa toko Jaya Bersama itu merupakan salah satu jaringan waralaba terkemuka di tanah air sangat kuat. ”Ya memang mereka ini sebenarnya milik jaringan itu. Tapi berkamuflase menjadi toko tak berjaringan,” ujarnya.

        Sebelumnya, Komisi IV juga menemukan hal serupa di Jalan Raya Blimbingsari. Karena itu, Salimi mengaku pihaknya akan melakukan sidak serupa di wilayah lain di kabupaten berjuluk The Sunrise of Java ini. ”Karena kami menengarai praktik culas seperti ini banyak dilakukan di Banyuwangi,” sesalnya.

        Salimi mengaku seluruh temuan akan diinventarisasi untuk bahan kajian dewan. Selain itu, pihaknya akan memanggil beberapa instansi terkait untuk meminta penjelasan adanya toko kamuflase tersebut. ”Kita akan panggil dinas terkait. Kita perlu tindak tegas. Jangan sampai aturan kami ini bisa merugikan masyarakat. Bahkan jika perlu perda yang kita punya kita revisi. Kalau perlu pendirian swalayan modern baru sama sekali tidak diizinkan,” kata dia.

Baca Juga :  Dua Pekan, Polisi Amankan 439 Pelaku Kriminalitas

        Seperti pernah diberitakan, pasar modern yang berjaringan/berwaralaba marak bertebaran di Banyuwangi. Kondisi itu mengundang protes keras kalangan wakil rakyat Banyuwangi. Ketua Pansus Perda Ketertiban Umum dan Ketenteraman Masyarakat DPRD Banyuwangi Salimi, terjun langsung melihat perkembangan pasar modern di sejumlah kecamatan di Banyuwangi.

        Salah satu yang menjadi perhatian anggota DPRD adalah toko modern Pendawa yang berlokasi di Jalan Raya Blimbingsari, tepatnya 200 meter dari Bandara Blimbingsari. Toko yang berada persis di tepi jalan raya tersebut sepintas hanya toko biasa yang dilengkapi fasilitas AC.  

        Namun setelah diamati, ternyata barang-barang yang dijual di toko tersebut dipasok oleh salah satu pasar modern ternama yang memiliki jaringan. Secara kebetulan, saat dilakukan sidak, ada mobil boks yang sedang melakukan pengiriman barang di toko tersebut.

        Sopir mobil boks tersebut jelas mengenakan seragam salah satu swalayan terkenal. Temuan itu kian meyakinkan Salimi yang sedang melakukan sidak. ”Ini jelas melanggar. Setelah saya cek lewat telepon dengan petugas perizinan, ternyata pihak perizinan tidak ada izin mendirikan bangunan,” pungkasnya. (sgt/aif/c1)

 

 Upaya Pemkab Banyuwangi melindungi para pedagang kecil dari ”serbuan” toko modern berjaringan belum berbuah optimal. Kalangan dewan menemukan sejumlah toko modern berjaringan alias waralaba baru yang berkamuflase toko modern tidak berjaringan.

        Larangan pendirian toko modern berjaringan baru telah diatur melalui Peraturan Daerah (Perda) Nomor 4 Tahun 2016 tentang Ketertiban Umum dan Ketenteraman Masyarakat. Pada proses pembahasan rancangan produk hukum daerah tersebut, pihak eksekutif maupun legislatif sepakat melarang pendirian toko modern baru dengan tujuan tidak mematikan toko-toko kecil milik rakyat kecil.

        Namun, fakta di lapangan berkata lain. Dari hasil pemantauan langsung Komisi IV DPRD Banyuwangi kemarin (9/4), kalangan dewan menemukan satu minimarket berjaringan yang berkamuflase minimarket tidak berjaringan. Salah satunya minimarket ”Jaya Bersama” yang berlokasi tidak jauh dari kantor Kecamatan Kalipuro.

         Awalnya, Komisi IV mengindikasi toko modern tersebut merupakan salah satu jaringan swalayan terkemuka di tanah air. Sebab, logo toko tersebut sangat mirip logo jaringan swalayan tersebut.

        Saat diselidiki ke dalam, para wakil rakyat menemukan bukti lain. Sejumlah barang, seperti beras kemasan lima kilogram (kg), tisu, sandal jepit, hingga air mineral kemasan yang dijajakan di swalayan itu bermerek swalayan berjaringan terkemuka yang logonya menyerupai logo toko ”Jaya Bersama” tersebut.

Baca Juga :  Penghormatan Terakhir Kepada Awak Nanggala 402

        Sekretaris Komisi IV DPRD Banyuwangi Salimi mengatakan, indikasi bahwa toko Jaya Bersama itu merupakan salah satu jaringan waralaba terkemuka di tanah air sangat kuat. ”Ya memang mereka ini sebenarnya milik jaringan itu. Tapi berkamuflase menjadi toko tak berjaringan,” ujarnya.

        Sebelumnya, Komisi IV juga menemukan hal serupa di Jalan Raya Blimbingsari. Karena itu, Salimi mengaku pihaknya akan melakukan sidak serupa di wilayah lain di kabupaten berjuluk The Sunrise of Java ini. ”Karena kami menengarai praktik culas seperti ini banyak dilakukan di Banyuwangi,” sesalnya.

        Salimi mengaku seluruh temuan akan diinventarisasi untuk bahan kajian dewan. Selain itu, pihaknya akan memanggil beberapa instansi terkait untuk meminta penjelasan adanya toko kamuflase tersebut. ”Kita akan panggil dinas terkait. Kita perlu tindak tegas. Jangan sampai aturan kami ini bisa merugikan masyarakat. Bahkan jika perlu perda yang kita punya kita revisi. Kalau perlu pendirian swalayan modern baru sama sekali tidak diizinkan,” kata dia.

Baca Juga :  Terapkan Sistem Tilang Elektronik, Satlantas Jaring 152 Pelanggar

        Seperti pernah diberitakan, pasar modern yang berjaringan/berwaralaba marak bertebaran di Banyuwangi. Kondisi itu mengundang protes keras kalangan wakil rakyat Banyuwangi. Ketua Pansus Perda Ketertiban Umum dan Ketenteraman Masyarakat DPRD Banyuwangi Salimi, terjun langsung melihat perkembangan pasar modern di sejumlah kecamatan di Banyuwangi.

        Salah satu yang menjadi perhatian anggota DPRD adalah toko modern Pendawa yang berlokasi di Jalan Raya Blimbingsari, tepatnya 200 meter dari Bandara Blimbingsari. Toko yang berada persis di tepi jalan raya tersebut sepintas hanya toko biasa yang dilengkapi fasilitas AC.  

        Namun setelah diamati, ternyata barang-barang yang dijual di toko tersebut dipasok oleh salah satu pasar modern ternama yang memiliki jaringan. Secara kebetulan, saat dilakukan sidak, ada mobil boks yang sedang melakukan pengiriman barang di toko tersebut.

        Sopir mobil boks tersebut jelas mengenakan seragam salah satu swalayan terkenal. Temuan itu kian meyakinkan Salimi yang sedang melakukan sidak. ”Ini jelas melanggar. Setelah saya cek lewat telepon dengan petugas perizinan, ternyata pihak perizinan tidak ada izin mendirikan bangunan,” pungkasnya. (sgt/aif/c1)

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/