alexametrics
24.7 C
Banyuwangi
Saturday, August 13, 2022

Tolak Angkut Limbah B3, Ombudsman Operator Kapal Dievaluasi

BANYUWANGI –  Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Bali meminta Balai Penyeberangan Transportasi Darat (BPTD) mengevaluasi sekaligus memberi teguran keras kepada operator kapal yang tidak mengangkut kendaraan (transporter) limbah B3 dari Pelabuhan Gilimanuk ke Ketapang.

”Ombudsman menerima informasi ada kendaraan yang memuat limbah B3 tidak diangkut oleh operator kapal di Gilimanuk. Kendaraan itu tertahan dua hari di Pelabuhan Gilimanuk,” kata Kepala Ombudsman Perwakilan Bali Umar Ibnu Alkhatab kepada Jawa Pos Radar Bali (Jawa Pos Group).

Ombudsman meminta BPTD agar selalu memonitor situasi di lapangan sehingga penyeberangan angkutan limbah B3 tidak terkendala dan lancar sampai ke tempat tujuan tepat waktu. ”Limbah B3 kan berbahaya dan beracun. Termasuk limbah medis. Sesuai aturan tidak boleh parkir sembarangan, apalagi harus tertahan menginap karena tidak diangkut. Kan bisa membahayakan lingkungan di sekitarnya,” kata Umar.

Terlebih lagi, imbuh Umar, ada regulasi baru yang mengatur bahwa pengangkutan limbah B3 tidak boleh bercampur dengan angkutan umum. ”Dengan ketentuan baru ini sesungguhnya lebih mudah mengatur tata niaga penyeberangan dari Gilimanuk ke Ketapang,” sebutnya.

Baca Juga :  Naik Moge, Dirlantas Pantau Penutupan Ketapang

Selain itu, dalam hal pelayanan penyeberangan limbah B3 ada beberapa kapal yang mendapat rekomendasi BPTD untuk memuat limbah B3. ”Jadi, tak ada alasan untuk tidak memuat,” ucapnya sembari meminta kalau tidak berkomitmen dalam pelayanan, BPTD bisa mengevaluasi rekomendasi kepada operator kapal yang muat limbah B3.

Seperti diketahui beberapa waktu lalu salah satu angkutan limbah B3, PT Wastec Internasional, tertahan dua hari di Pelabuhan Gilimanuk karena tidak diangkut kapal. ”Waktu itu armada kita gak bisa menyeberang karena ada kerusakan kapal,” kata Anto, karyawan PT Wastec Internasional saat dihubungi, Rabu (29/9).

Kendaraan PT Wastec Internasional itu tidak menyeberang karena ada satu operator kapal yang tak mau muat dengan alasan hanya satu transporter saja yang diangkut kapal itu. ”Mestinya jangan hanya dilihat dari sisi bisnisnya. Perlu juga dari sisi lingkungan dan kenyamanan. Dan yang terpenting komitmen pelayanan,” kata sumber itu.  

Baca Juga :  Malam Minggu Amankan 171 Motor Tak Standar

Ketua Dewan Pimpinan Cabang Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (Gaspadap) Kabupaten Banyuwangi Putu Widiana saat dihubungi membenarkan ada operator kapal yang tak mau memuat angkutan limbah B3 sesuai batas ketentuan minimum. ”Benar pernah terjadi. Kami dari organisasi sudah mengingatkan agar tetap diangkut. Jika sampai tertahan dan nginap sangat berefek pada lingkungan sekitar,” kata Putu Widiana.

Menurutnya, ada anggota yang berjalan sendiri dan tidak mau ikut agen yang ditunjuk Gaspasdap. ”Kalau jalan sendiri tentunya tidak mencukupi untuk biaya operator jika muatan hanya satu unit. Tapi kalau agen tetap bertanggung jawab kepada operator berapa pun unit yang diangkut,” ujarnya.

Setelah mengetahui adanya insiden limbah B3 yang tak dimuat, pihaknya memberi teguran lisan kepada operator tersebut. ”Kami sudah mengajukan, kalau tetap tidak mau menggunakan agen, harus berkomitmen berapa pun kendaraan limbah B3 yang ada harus diangkut,” tandas Putu.

BANYUWANGI –  Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Bali meminta Balai Penyeberangan Transportasi Darat (BPTD) mengevaluasi sekaligus memberi teguran keras kepada operator kapal yang tidak mengangkut kendaraan (transporter) limbah B3 dari Pelabuhan Gilimanuk ke Ketapang.

”Ombudsman menerima informasi ada kendaraan yang memuat limbah B3 tidak diangkut oleh operator kapal di Gilimanuk. Kendaraan itu tertahan dua hari di Pelabuhan Gilimanuk,” kata Kepala Ombudsman Perwakilan Bali Umar Ibnu Alkhatab kepada Jawa Pos Radar Bali (Jawa Pos Group).

Ombudsman meminta BPTD agar selalu memonitor situasi di lapangan sehingga penyeberangan angkutan limbah B3 tidak terkendala dan lancar sampai ke tempat tujuan tepat waktu. ”Limbah B3 kan berbahaya dan beracun. Termasuk limbah medis. Sesuai aturan tidak boleh parkir sembarangan, apalagi harus tertahan menginap karena tidak diangkut. Kan bisa membahayakan lingkungan di sekitarnya,” kata Umar.

Terlebih lagi, imbuh Umar, ada regulasi baru yang mengatur bahwa pengangkutan limbah B3 tidak boleh bercampur dengan angkutan umum. ”Dengan ketentuan baru ini sesungguhnya lebih mudah mengatur tata niaga penyeberangan dari Gilimanuk ke Ketapang,” sebutnya.

Baca Juga :  Melayani Tabungan Umrah, Talangan Umrah Tanpa Jaminan

Selain itu, dalam hal pelayanan penyeberangan limbah B3 ada beberapa kapal yang mendapat rekomendasi BPTD untuk memuat limbah B3. ”Jadi, tak ada alasan untuk tidak memuat,” ucapnya sembari meminta kalau tidak berkomitmen dalam pelayanan, BPTD bisa mengevaluasi rekomendasi kepada operator kapal yang muat limbah B3.

Seperti diketahui beberapa waktu lalu salah satu angkutan limbah B3, PT Wastec Internasional, tertahan dua hari di Pelabuhan Gilimanuk karena tidak diangkut kapal. ”Waktu itu armada kita gak bisa menyeberang karena ada kerusakan kapal,” kata Anto, karyawan PT Wastec Internasional saat dihubungi, Rabu (29/9).

Kendaraan PT Wastec Internasional itu tidak menyeberang karena ada satu operator kapal yang tak mau muat dengan alasan hanya satu transporter saja yang diangkut kapal itu. ”Mestinya jangan hanya dilihat dari sisi bisnisnya. Perlu juga dari sisi lingkungan dan kenyamanan. Dan yang terpenting komitmen pelayanan,” kata sumber itu.  

Baca Juga :  Cerita Calon Penumpang Kapal Ketika ASDP Berlakukan PPKM Darurat

Ketua Dewan Pimpinan Cabang Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (Gaspadap) Kabupaten Banyuwangi Putu Widiana saat dihubungi membenarkan ada operator kapal yang tak mau memuat angkutan limbah B3 sesuai batas ketentuan minimum. ”Benar pernah terjadi. Kami dari organisasi sudah mengingatkan agar tetap diangkut. Jika sampai tertahan dan nginap sangat berefek pada lingkungan sekitar,” kata Putu Widiana.

Menurutnya, ada anggota yang berjalan sendiri dan tidak mau ikut agen yang ditunjuk Gaspasdap. ”Kalau jalan sendiri tentunya tidak mencukupi untuk biaya operator jika muatan hanya satu unit. Tapi kalau agen tetap bertanggung jawab kepada operator berapa pun unit yang diangkut,” ujarnya.

Setelah mengetahui adanya insiden limbah B3 yang tak dimuat, pihaknya memberi teguran lisan kepada operator tersebut. ”Kami sudah mengajukan, kalau tetap tidak mau menggunakan agen, harus berkomitmen berapa pun kendaraan limbah B3 yang ada harus diangkut,” tandas Putu.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/