alexametrics
27.5 C
Banyuwangi
Sunday, October 2, 2022

Cuaca Dingin Bisa Picu Gangguan Kesehatan, Diprediksi hingga Awal September

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Beberapa hari terakhir suhu udara di Banyuwangi cukup rendah dibandingkan dengan musim kemarau biasanya. Berdasarkan pantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Banyuwangi, Jumat (5/8), suhu udara rata-rata mencapai 18,4 hingga 23,4 derajat Celsius.

Bahkan, kelembapan udara yang terukur mencapai 75 persen dari biasanya. Kondisi tersebut kerap disebut dengan fenomena bediding atau suhu dingin di tengah musim kemarau. ”Suhu dingin yang dirasakan setiap malam hingga pagi hari diakibatkan adanya fenomena bediding,” ujar prakirawan BMKG Banyuwangi Benny Gumintar.

Benny menjelaskan, fenomena bediding tersebut adalah kondisi di mana pada malam hingga pagi hari terasa lebih dingin. Kondisi ini sebenarnya hal yang wajar dan normal terjadi saat memasuki musim kemarau. ”Kondisi ini memang sering terjadi saat musim kemarau karena tutupan awan sedikit, bahkan tidak ada sama sekali saat malam hari,” katanya.

Benny menjelaskan, ada beberapa faktor penyebab fenomena ini. Di antaranya adanya pergerakan massa udara dari Australia dengan membawa massa udara dingin dan kering ke Asia melewati Indonesia. Kondisi ini disebut juga dengan Monsoon Dingin Australia. ”Pantulan panas dari bumi yang diterima dari sinar matahari tidak tertahan oleh awan sehingga langsung terbuang dan hilang ke angkasa,” terangnya.

Baca Juga :  Ini BB Sabu yang diamankan dari Tangan Septi

Fenomena tersebut, masih kata Benny, juga disebabkan oleh menipisnya kandungan air di dalam tanah. Selain itu, kandungan uap air udara juga dinilai rendah. ”Hal ini dibuktikan dengan rendahnya tingkat kelembapan udara yang mencapai 75 persen,” ungkapnya.

Benny mengimbau masyarakat senantiasa dapat menjaga kekebalan tubuh. Hal ini bisa dilakukan dengan cara mencukupi kebutuhan cairan tubuh. ”Tetap harus mewaspadai adanya fenomena bediding karena bisa menyerang kekebalan tubuh. Fenomena tersebut akan berlangsung hingga awal September 2022 mendatang,” imbaunya.

Plt Kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi Amir Hidayat menyebut fenomena bediding atau cuaca dingin dapat berisiko menyebabkan gangguan kesehatan. ”Ada beberapa gangguan yang terjadi saat fenomena bediding, yaitu batuk pilek, bibir pecah-pecah, mimisan, kulit menjadi kering, bibir dan kulit telapak kaki bisa pecah-pecah,” paparnya.

Baca Juga :  Ini Sasaran Operasi Gabungan di Cluring

Amir juga menyebutkan beberapa penyakit yang berisiko kambuh akibat fenomena bediding. Di antaranya asma (sesak napas), pilek alergi, sinusitis, hingga alergi kulit karena udara dingin. Hal ini perlu diwaspadai terutama bagi warga usia lanjut. ”Jika bediding terus berlangsung akan terjadi penurunan suhu tubuh (hipotermia). Masyarakat yang mempunyai risiko tinggi gangguan kesehatan karena cuaca dingin, yaitu orang usia lanjut, masyarakat dengan komorbid, penyakit diabetes, serta gangguan jantung dan pembuluh darah,” ungkapnya.

Amir mengimbau kepada masyarakat selama fenomena bediding berlangsung agar menggunakan jaket yang dapat menutupi seluruh tubuh. Jangan lupa juga memakai masker, tutup kepala, kaus kaki tebal, dan sarung tangan, terutama saat pagi hari dan malam hari. ”Upayakan agar tubuh tetap dalam keadaan sehat dan daya tahan tubuh tetap terjaga. Bisa juga mengolesi lotion pada bibir, kulit tangan, dan telapak kaki agar kulit tidak mengering dan tidak menimbulkan luka. Minum air hangat yang cukup untuk mencegah agar tidak jatuh ke dalam dehidrasi,” pungkasnya. (rio/aif/c1)

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Beberapa hari terakhir suhu udara di Banyuwangi cukup rendah dibandingkan dengan musim kemarau biasanya. Berdasarkan pantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Banyuwangi, Jumat (5/8), suhu udara rata-rata mencapai 18,4 hingga 23,4 derajat Celsius.

Bahkan, kelembapan udara yang terukur mencapai 75 persen dari biasanya. Kondisi tersebut kerap disebut dengan fenomena bediding atau suhu dingin di tengah musim kemarau. ”Suhu dingin yang dirasakan setiap malam hingga pagi hari diakibatkan adanya fenomena bediding,” ujar prakirawan BMKG Banyuwangi Benny Gumintar.

Benny menjelaskan, fenomena bediding tersebut adalah kondisi di mana pada malam hingga pagi hari terasa lebih dingin. Kondisi ini sebenarnya hal yang wajar dan normal terjadi saat memasuki musim kemarau. ”Kondisi ini memang sering terjadi saat musim kemarau karena tutupan awan sedikit, bahkan tidak ada sama sekali saat malam hari,” katanya.

Benny menjelaskan, ada beberapa faktor penyebab fenomena ini. Di antaranya adanya pergerakan massa udara dari Australia dengan membawa massa udara dingin dan kering ke Asia melewati Indonesia. Kondisi ini disebut juga dengan Monsoon Dingin Australia. ”Pantulan panas dari bumi yang diterima dari sinar matahari tidak tertahan oleh awan sehingga langsung terbuang dan hilang ke angkasa,” terangnya.

Baca Juga :  Gara-gara Tak Punya KIS, Nenek Asal Banyuwangi Ini Tak Kunjung Dirawat

Fenomena tersebut, masih kata Benny, juga disebabkan oleh menipisnya kandungan air di dalam tanah. Selain itu, kandungan uap air udara juga dinilai rendah. ”Hal ini dibuktikan dengan rendahnya tingkat kelembapan udara yang mencapai 75 persen,” ungkapnya.

Benny mengimbau masyarakat senantiasa dapat menjaga kekebalan tubuh. Hal ini bisa dilakukan dengan cara mencukupi kebutuhan cairan tubuh. ”Tetap harus mewaspadai adanya fenomena bediding karena bisa menyerang kekebalan tubuh. Fenomena tersebut akan berlangsung hingga awal September 2022 mendatang,” imbaunya.

Plt Kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi Amir Hidayat menyebut fenomena bediding atau cuaca dingin dapat berisiko menyebabkan gangguan kesehatan. ”Ada beberapa gangguan yang terjadi saat fenomena bediding, yaitu batuk pilek, bibir pecah-pecah, mimisan, kulit menjadi kering, bibir dan kulit telapak kaki bisa pecah-pecah,” paparnya.

Baca Juga :  Satpolair Ingatkan Penggunaan Life Jacket kepada Nelayan

Amir juga menyebutkan beberapa penyakit yang berisiko kambuh akibat fenomena bediding. Di antaranya asma (sesak napas), pilek alergi, sinusitis, hingga alergi kulit karena udara dingin. Hal ini perlu diwaspadai terutama bagi warga usia lanjut. ”Jika bediding terus berlangsung akan terjadi penurunan suhu tubuh (hipotermia). Masyarakat yang mempunyai risiko tinggi gangguan kesehatan karena cuaca dingin, yaitu orang usia lanjut, masyarakat dengan komorbid, penyakit diabetes, serta gangguan jantung dan pembuluh darah,” ungkapnya.

Amir mengimbau kepada masyarakat selama fenomena bediding berlangsung agar menggunakan jaket yang dapat menutupi seluruh tubuh. Jangan lupa juga memakai masker, tutup kepala, kaus kaki tebal, dan sarung tangan, terutama saat pagi hari dan malam hari. ”Upayakan agar tubuh tetap dalam keadaan sehat dan daya tahan tubuh tetap terjaga. Bisa juga mengolesi lotion pada bibir, kulit tangan, dan telapak kaki agar kulit tidak mengering dan tidak menimbulkan luka. Minum air hangat yang cukup untuk mencegah agar tidak jatuh ke dalam dehidrasi,” pungkasnya. (rio/aif/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/