alexametrics
24.7 C
Banyuwangi
Saturday, August 13, 2022

Intensitas Hujan Meninggi, Peralatan Penanggulangan Bencana Disiagakan

BANYUWANGI – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banyuwangi telah memetakan kawasan rawan banjir untuk menghadapi masuknya musim penghujan pada November–Desember 2021. BPBD juga menyiagakan sejumlah peralatan penanggulangan bencana di kantor yang terletak di Jalan Jaksa Agung Suprapto tersebut.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Banyuwangi Ponirin mengatakan, curah hujan di bulan November–Desember diprediksi tinggi sesuai prakiraan Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) akibat fenomena La Nina. BPBD saat ini telah menyiapkan penanganan risiko dampak bencana banjir dengan mengidentifikasi titik rawan di Banyuwangi, sekaligus berkoordinasi dengan relawan, pemerintah daerah, polisi, dan TNI untuk penanganan darurat.

”Terkait peringatan dini kita akan masuk musim penghujan, dipicu dengan adanya fenomena La Nina. BPBD sudah menyiapkan personel dan peralatan yang siaga 24 jam, kalau sewaktu-waktu butuh penanganan darurat kita siap. Meski secara personel dan peralatan masih terbatas. Tapi kalau butuh penambahan, kami akan minta dukungan dari relawan, dari TNI dan Polri,” kata Ponirin.

Dari hasil identifikasi, jelas Ponirin, terdapat 30 desa dalam 10 kecamatan di Kabupaten Banyuwangi yang rawan banjir. Kawasan yang masuk daftar tersebut yakni Kecamatan Wongosorjo, Kalipuro, Banyuwangi, Blimbingsari, Kabat, Rogojampi, Muncar, Singojuruh, Siliragung, dan Pesanggaran.

Baca Juga :  Tinggi Ombak Capai 1,5 Meter, Tiga Hari Tak Berani Melaut

Kawasan tersebut masuk dalam daftar rawan bencana banjir karena berada di dataran rendah sekaligus berada di aliran sungai. Di Banyuwangi sendiri, terdapat 139 aliran sungai yang bermuara langsung ke laut. ”Titik rawan banjir di Banyuwangi itu basisnya desa. Jadi sudah kami identifikasi, ada 10 kecamatan, ada 30 desa yang dilalui sungai-sungai. Apabila terjadi curah hujan tinggi dan durasinya panjang, biasanya menimbulkan kejadian, baik bencana banjir atau genangan. Dan di masing-masing wilayah sudah ada relawan, bila ada kejadian bisa langsung memberikan laporan,” terangnya.

Saat ini, BPBD Banyuwangi telah meminta kepada seluruh camat di Banyuwangi terkait langkah antisipasi bila terjadi bencana banjir, longsor, pohon tumbang, angin kencang, maupun banjir bandang. Sehingga penanganan dan penyampaian laporan jika terjadi bencana bisa dilakukan secara cepat.

”Fenomena La Nina yang bisa memicu banjir, kita butuh personel, koordinasi, dan peralatan. Kalau peralatan besar seperti alat berat dan lainnya, kita sudah koordinasi dengan Dinas Pengairan dan PU Cipta Karya, jadi sudah ter-setting untuk penanganan peristiwa besar,” paparnya.

Selain itu, BPBD telah menjalin komunikasi dengan berbagai relawan di daerah untuk segera melaporkan kejadian yang berkaitan dengan penanganan bencana. Respons dari laporan tersebut harus segera ditangani BPBD Banyuwangi paling lambat 30 menit. ”Kalau kejadian kecil seperti pohon tumbang, kami sudah siapkan peralatannya berikut operatornya. Kalau ada kejadian kami cepat menerima laporan, maksimal 30 menit sudah harus ada penanganan,” terangnya.

Baca Juga :  Lalu Lintas Hewan Masih Terus Dipantau

Ponirin berharap ada partisipasi dari seluruh elemen masyarakat untuk mengenal dan peduli terhadap potensi terjadinya bencana. Contohnya, jika masyarakat melihat ada potensi banjir yang diakibatkan tersumbatnya gorong-gorong atau tumpukan sampah di sungai, harus segera dibersihkan secara gotong royong.

”Kalau sungainya dangkal, banyak sampah, gorong gorongnya tersumbat, jika masyarakat mengenali dampaknya itu bisa terjadi banjir, mereka bisa melakukan tindakan sebagai antisipasi pengurangan risiko banjir. Sehingga perlu dukungan, bantuan, partisipasi dari masyarakat,” ungkap Ponirin.

Untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, Ponirin mengaku sudah bekerja sama dengan berbagai relawan di Banyuwangi untuk turut menyosialisasikan potensi bencana kepada masyarakat di wilayahnya masing-masing. ”Kami punya banyak relawan di Banyuwangi, dan komunitas itu sudah bergerak untuk sosialisasi potensi bencana di Banyuwangi. Kami berharap, masyarakat Banyuwangi itu kenal dengan ancaman di lingkungan sekitarnya,” pungkasnya. 

BANYUWANGI – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banyuwangi telah memetakan kawasan rawan banjir untuk menghadapi masuknya musim penghujan pada November–Desember 2021. BPBD juga menyiagakan sejumlah peralatan penanggulangan bencana di kantor yang terletak di Jalan Jaksa Agung Suprapto tersebut.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Banyuwangi Ponirin mengatakan, curah hujan di bulan November–Desember diprediksi tinggi sesuai prakiraan Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) akibat fenomena La Nina. BPBD saat ini telah menyiapkan penanganan risiko dampak bencana banjir dengan mengidentifikasi titik rawan di Banyuwangi, sekaligus berkoordinasi dengan relawan, pemerintah daerah, polisi, dan TNI untuk penanganan darurat.

”Terkait peringatan dini kita akan masuk musim penghujan, dipicu dengan adanya fenomena La Nina. BPBD sudah menyiapkan personel dan peralatan yang siaga 24 jam, kalau sewaktu-waktu butuh penanganan darurat kita siap. Meski secara personel dan peralatan masih terbatas. Tapi kalau butuh penambahan, kami akan minta dukungan dari relawan, dari TNI dan Polri,” kata Ponirin.

Dari hasil identifikasi, jelas Ponirin, terdapat 30 desa dalam 10 kecamatan di Kabupaten Banyuwangi yang rawan banjir. Kawasan yang masuk daftar tersebut yakni Kecamatan Wongosorjo, Kalipuro, Banyuwangi, Blimbingsari, Kabat, Rogojampi, Muncar, Singojuruh, Siliragung, dan Pesanggaran.

Baca Juga :  Serahkan Bantuan Sembako Door to Door

Kawasan tersebut masuk dalam daftar rawan bencana banjir karena berada di dataran rendah sekaligus berada di aliran sungai. Di Banyuwangi sendiri, terdapat 139 aliran sungai yang bermuara langsung ke laut. ”Titik rawan banjir di Banyuwangi itu basisnya desa. Jadi sudah kami identifikasi, ada 10 kecamatan, ada 30 desa yang dilalui sungai-sungai. Apabila terjadi curah hujan tinggi dan durasinya panjang, biasanya menimbulkan kejadian, baik bencana banjir atau genangan. Dan di masing-masing wilayah sudah ada relawan, bila ada kejadian bisa langsung memberikan laporan,” terangnya.

Saat ini, BPBD Banyuwangi telah meminta kepada seluruh camat di Banyuwangi terkait langkah antisipasi bila terjadi bencana banjir, longsor, pohon tumbang, angin kencang, maupun banjir bandang. Sehingga penanganan dan penyampaian laporan jika terjadi bencana bisa dilakukan secara cepat.

”Fenomena La Nina yang bisa memicu banjir, kita butuh personel, koordinasi, dan peralatan. Kalau peralatan besar seperti alat berat dan lainnya, kita sudah koordinasi dengan Dinas Pengairan dan PU Cipta Karya, jadi sudah ter-setting untuk penanganan peristiwa besar,” paparnya.

Selain itu, BPBD telah menjalin komunikasi dengan berbagai relawan di daerah untuk segera melaporkan kejadian yang berkaitan dengan penanganan bencana. Respons dari laporan tersebut harus segera ditangani BPBD Banyuwangi paling lambat 30 menit. ”Kalau kejadian kecil seperti pohon tumbang, kami sudah siapkan peralatannya berikut operatornya. Kalau ada kejadian kami cepat menerima laporan, maksimal 30 menit sudah harus ada penanganan,” terangnya.

Baca Juga :  Lima Rumah Rusak Akibat Disapu Angin Puting Beliung

Ponirin berharap ada partisipasi dari seluruh elemen masyarakat untuk mengenal dan peduli terhadap potensi terjadinya bencana. Contohnya, jika masyarakat melihat ada potensi banjir yang diakibatkan tersumbatnya gorong-gorong atau tumpukan sampah di sungai, harus segera dibersihkan secara gotong royong.

”Kalau sungainya dangkal, banyak sampah, gorong gorongnya tersumbat, jika masyarakat mengenali dampaknya itu bisa terjadi banjir, mereka bisa melakukan tindakan sebagai antisipasi pengurangan risiko banjir. Sehingga perlu dukungan, bantuan, partisipasi dari masyarakat,” ungkap Ponirin.

Untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, Ponirin mengaku sudah bekerja sama dengan berbagai relawan di Banyuwangi untuk turut menyosialisasikan potensi bencana kepada masyarakat di wilayahnya masing-masing. ”Kami punya banyak relawan di Banyuwangi, dan komunitas itu sudah bergerak untuk sosialisasi potensi bencana di Banyuwangi. Kami berharap, masyarakat Banyuwangi itu kenal dengan ancaman di lingkungan sekitarnya,” pungkasnya. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/