alexametrics
23 C
Banyuwangi
Wednesday, August 17, 2022

39 Ekor Sapi Terpapar PMK, Banyuwangi Masuk Zona Merah

RADAR BANYUWANGI – Penyakit mulut dan kuku (PMK) yang menyerang hewan ternak mulai masuk Banyuwangi. Puluhan sapi sudah terpapar virus PMK. Untuk mengantisipasi penyebaran yang lebih masif, sembilan kecamatan menyatakan siaga. Banyuwangi pun masuk zona merah penyebaran PMK.

Sembilan kecamatan tersebut yakni Siliragung, Purwoharjo, Tegalsari, Singojuruh, Sempu, Songgon, Licin, Banyuwangi, dan Kalipuro. Dari sembilan kecamatan tersebut, ada 39 ekor sapi yang positif PMK. Saat ini populasi sapi di Banyuwangi mencapai 144.117 ekor.

Plt Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Banyuwangi Muhammad Khoiri menjelaskan, Rabu malam (1/6) telah diumumkan hasil swab yang diambil dari beberapa hewan ternak di Desa Licin dan Desa Segobang. ”Kamis lalu (26/5) ada laporan masuk ke kami, enam ekor sapi milik warga di dua desa di Kecamatan Licin, jatuh sakit dan mengarah ke PMK,” ungkap Khoiri.

Hewan ternak tersebut langsung diobati. Pada Minggu (29/5), barulah diambil sampel untuk pemeriksaan yang dibawa ke Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur dan Pusvetma Surabaya. ”Hasilnya ditemukan positif PMK yang menyebar di sembilan kecamatan. Hewan ternak mengalami gejala yang sama,” terangnya.

Khoiri mengimbau masyarakat untuk tidak khawatir karena penyakit ini tidak menular ke manusia.
Para peternak diminta tetap sigap, namun tak panik berlebihan jika ada hewan ternaknya yang terkena PMK.

SIAPKAN LANGKAH ANTISIPATIF: Plt. Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Mohamad Khori menjelaskan perkembangan terkini PMK yang menyerang puluhan ternak dalam rakor di Polresta Banyuwangi, Jumat (2/6) lalu. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

Khoiri memaparkan sejumlah langkah yang bisa dilakukan masyarakat jika hewan ternaknya memiliki gejala terinfeksi PMK. Ciri-ciri hewan yang terkena PMK yakni demam tinggi mulai 39 hingga 41 derajat Celsius, keluar lendir berlebihan dari mulut hewan ternak dan berbusa, terdapat luka-luka seperti sariawan pada rongga mulut dan lidah, tidak mau makan, kaki pincang, luka pada kaki dan diakhiri lepasnya kuku, sulit berdiri, gemetar, napas cepat, produksi susu turun drastis, dan menjadi kurus. ”Pertolongan pertama menghadapi PMK pada hewan ternak yang sakit, segera dipisahkan dengan yang sehat. Lingkungan sekitar bisa disemprot menggunakan disinfektan,” kata Khori.

Sebenarnya, populasi hewan ternak seperti sapi, kambing, domba, babi, dan kerbau cukup banyak di Banyuwangi. Populasi sapi mencapai 144.117 ekor dan kambing 120.832 ekor. Dari jumlah keseluruhan, petugas baru melakukan survei di beberapa tempat saja. Jumlah sapi yang telah diperiksa 3.088 ekor, sapi perah 157 ekor, kambing 1.024 ekor, domba 1.265 ekor, babi 23 ekor, dan kerbau 25 ekor. ”Cukup banyak ternak yang belum terjangkau karena sumber daya manusia (SDM) yang terbatas. Dinas Pertanian dan Pangan Banyuwangi hanya memiliki 110 dokter hewan, 67 paramedis, 150 penyuluh pertanian, dan 70 staf lapangan,” ungkapnya.

Khoiri menambahkan, beberapa kendala juga dialami saat di lapangan. Di antaranya adanya lalu lintas hewan dari daerah lain, kurangnya kesadaran masyarakat, menjual hewan karena ketakutan, dan stok obat-obatan serta disinfektan yang terbatas. ”Sebenarnya hewan ternak yang terkonfirmasi PMK tidak dapat menular ke manusia, bahkan daging hewan ternak tersebut dapat dikonsumsi,” pungkasnya. (rio/aif/c1)

RADAR BANYUWANGI – Penyakit mulut dan kuku (PMK) yang menyerang hewan ternak mulai masuk Banyuwangi. Puluhan sapi sudah terpapar virus PMK. Untuk mengantisipasi penyebaran yang lebih masif, sembilan kecamatan menyatakan siaga. Banyuwangi pun masuk zona merah penyebaran PMK.

Sembilan kecamatan tersebut yakni Siliragung, Purwoharjo, Tegalsari, Singojuruh, Sempu, Songgon, Licin, Banyuwangi, dan Kalipuro. Dari sembilan kecamatan tersebut, ada 39 ekor sapi yang positif PMK. Saat ini populasi sapi di Banyuwangi mencapai 144.117 ekor.

Plt Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Banyuwangi Muhammad Khoiri menjelaskan, Rabu malam (1/6) telah diumumkan hasil swab yang diambil dari beberapa hewan ternak di Desa Licin dan Desa Segobang. ”Kamis lalu (26/5) ada laporan masuk ke kami, enam ekor sapi milik warga di dua desa di Kecamatan Licin, jatuh sakit dan mengarah ke PMK,” ungkap Khoiri.

Hewan ternak tersebut langsung diobati. Pada Minggu (29/5), barulah diambil sampel untuk pemeriksaan yang dibawa ke Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur dan Pusvetma Surabaya. ”Hasilnya ditemukan positif PMK yang menyebar di sembilan kecamatan. Hewan ternak mengalami gejala yang sama,” terangnya.

Khoiri mengimbau masyarakat untuk tidak khawatir karena penyakit ini tidak menular ke manusia.
Para peternak diminta tetap sigap, namun tak panik berlebihan jika ada hewan ternaknya yang terkena PMK.

SIAPKAN LANGKAH ANTISIPATIF: Plt. Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Mohamad Khori menjelaskan perkembangan terkini PMK yang menyerang puluhan ternak dalam rakor di Polresta Banyuwangi, Jumat (2/6) lalu. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

Khoiri memaparkan sejumlah langkah yang bisa dilakukan masyarakat jika hewan ternaknya memiliki gejala terinfeksi PMK. Ciri-ciri hewan yang terkena PMK yakni demam tinggi mulai 39 hingga 41 derajat Celsius, keluar lendir berlebihan dari mulut hewan ternak dan berbusa, terdapat luka-luka seperti sariawan pada rongga mulut dan lidah, tidak mau makan, kaki pincang, luka pada kaki dan diakhiri lepasnya kuku, sulit berdiri, gemetar, napas cepat, produksi susu turun drastis, dan menjadi kurus. ”Pertolongan pertama menghadapi PMK pada hewan ternak yang sakit, segera dipisahkan dengan yang sehat. Lingkungan sekitar bisa disemprot menggunakan disinfektan,” kata Khori.

Sebenarnya, populasi hewan ternak seperti sapi, kambing, domba, babi, dan kerbau cukup banyak di Banyuwangi. Populasi sapi mencapai 144.117 ekor dan kambing 120.832 ekor. Dari jumlah keseluruhan, petugas baru melakukan survei di beberapa tempat saja. Jumlah sapi yang telah diperiksa 3.088 ekor, sapi perah 157 ekor, kambing 1.024 ekor, domba 1.265 ekor, babi 23 ekor, dan kerbau 25 ekor. ”Cukup banyak ternak yang belum terjangkau karena sumber daya manusia (SDM) yang terbatas. Dinas Pertanian dan Pangan Banyuwangi hanya memiliki 110 dokter hewan, 67 paramedis, 150 penyuluh pertanian, dan 70 staf lapangan,” ungkapnya.

Khoiri menambahkan, beberapa kendala juga dialami saat di lapangan. Di antaranya adanya lalu lintas hewan dari daerah lain, kurangnya kesadaran masyarakat, menjual hewan karena ketakutan, dan stok obat-obatan serta disinfektan yang terbatas. ”Sebenarnya hewan ternak yang terkonfirmasi PMK tidak dapat menular ke manusia, bahkan daging hewan ternak tersebut dapat dikonsumsi,” pungkasnya. (rio/aif/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/