alexametrics
23.5 C
Banyuwangi
Friday, August 12, 2022

Tradisi Sambang Leluhur, Paling Dinanti saat Lebaran

KABAT, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Jarum jam masih menunjukkan pukul 07.00. Sinar sang surya mulai menghangati tubuh. Ribuan warga Desa Bunder, Kecamatan Kabat, sudah berdandan rapi dan bersih. Mereka berduyun-duyun keluar rumah begitu mendengar suara kentongan bertalu-talu yang dipukul oleh kepala dusun setempat. Mereka keluar rumah dengan berjalan kaki dengan membawa ancak berisi nasi serta lauk-pauk. Ada pula yang membawa ceret berisi air putih.

Ribuan warga ini berjalan kaki menuju tempat pemakaman umum (TPU) atau kuburan desa setempat. Mereka akan mengikuti tradisi Lebaran Kuburan. Tradisi turun-temurun ini dilaksanakan setiap hari raya kedua atau setiap tanggal 2 Syawal. ”Makanan ini untuk acara selamatan mendoakan saudara yang telah meninggal, sedangkan kami di sini selain bermaaf-maafan, sekaligus menjadi momen mengingat kematian agar kami semua harus berperilaku baik,” ungkap Solihin, tokoh masyarakat setempat.

Warga tampak antusias datang ke kuburan. Tradisi ini paling dinanti oleh warga desa setempat. Betapa tidak, warga satu kampung tumplek-blek di kuburan ini.  Sesampai di kuburan warga kemudian menggelar alas tempat duduk. Kesan kuburan sebagai tempat yang seram, angker, dan menakutkan tak lagi terasa. Lokasi kuburan benar-benar dipenuhi warga. Mereka duduk bersimpuh di antara pusara makam dan batu nisan. Suasananya ramai sekali. Penuh sesak.

Baca Juga :  Sertijab Kasatlantas, Rian Septia Gantikan Fani Rakhim

Kegiatan seperti ini menjadi tradisi yang ditunggu-tunggu masyarakat. Khususnya, bagi para perantau yang pulang kampung. Selain bersilaturahmi dengan sesama keluarga, mereka sekaligus bisa berkirim doa untuk leluhur yang telah meninggal dunia.

”Bagi perantau, tradisi ini paling dirindukan. Rasanya kurang afdol jika pulang kampung saat Lebaran tapi tidak ikut tradisi Lebaran Kuburan ini,” ujar Joni Dwi Saputro, warga Bunder yang merantau di Bondowoso.

Dwi yang jauh-jauh pulang kampung dari Bondowoso tentu tak ingin melewatkan tradisi ini. ”Bagi warga Desa Bunder, kurang lengkap rasanya jika belum mengikuti acara ini. Makanya saya menyempatkan pulang kampung untuk merayakan Lebaran di tanah kelahiran,” ucap suami Martiya Kusuma ini.

Baca Juga :  Agar Pembeli Nyaman, Pasar Perlu Ada Ruang Hijau

Doa dipimpin pemuka agama setempat. Usai berziarah dan mendoakan leluhur, warga kemudian menyantap ancak atau nasi dan lauk-pauk yang telah dibawa. Tak ketinggalan, sebelum meninggalkan areal pemakaman warga saling berjabat tangan saling bermaafan. ”Tradisi ini selain untuk ajang silaturahmi antarwarga juga untuk mempererat persaudaraan antarwarga yang sudah lama tak bertemu, apalagi para perantau,” kata Dwi.

Acara semakin meriah ketika para bocah yang ikut datang ke pemakaman menyalakan petasan mengiringi warga yang tengah bersalaman sembari meninggalkan areal pemakaman umum. Tradisi warga Desa Bunder ini diikuti oleh perantau dari Kupang, Nusa Tenggara Timur, Bali, Surabaya, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Madura, serta berbagai kota lainnya. ”Kami hanya melestarikan tradisi warisan leluhur kami yang sudah ada sejak dulu dan turun-temurun,” tandas Ridwan, tokoh masyarakat Desa Bunder.

KABAT, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Jarum jam masih menunjukkan pukul 07.00. Sinar sang surya mulai menghangati tubuh. Ribuan warga Desa Bunder, Kecamatan Kabat, sudah berdandan rapi dan bersih. Mereka berduyun-duyun keluar rumah begitu mendengar suara kentongan bertalu-talu yang dipukul oleh kepala dusun setempat. Mereka keluar rumah dengan berjalan kaki dengan membawa ancak berisi nasi serta lauk-pauk. Ada pula yang membawa ceret berisi air putih.

Ribuan warga ini berjalan kaki menuju tempat pemakaman umum (TPU) atau kuburan desa setempat. Mereka akan mengikuti tradisi Lebaran Kuburan. Tradisi turun-temurun ini dilaksanakan setiap hari raya kedua atau setiap tanggal 2 Syawal. ”Makanan ini untuk acara selamatan mendoakan saudara yang telah meninggal, sedangkan kami di sini selain bermaaf-maafan, sekaligus menjadi momen mengingat kematian agar kami semua harus berperilaku baik,” ungkap Solihin, tokoh masyarakat setempat.

Warga tampak antusias datang ke kuburan. Tradisi ini paling dinanti oleh warga desa setempat. Betapa tidak, warga satu kampung tumplek-blek di kuburan ini.  Sesampai di kuburan warga kemudian menggelar alas tempat duduk. Kesan kuburan sebagai tempat yang seram, angker, dan menakutkan tak lagi terasa. Lokasi kuburan benar-benar dipenuhi warga. Mereka duduk bersimpuh di antara pusara makam dan batu nisan. Suasananya ramai sekali. Penuh sesak.

Baca Juga :  Natalan, Sinterklas Bagi-Bagi Cokelat di Bandara Banyuwangi

Kegiatan seperti ini menjadi tradisi yang ditunggu-tunggu masyarakat. Khususnya, bagi para perantau yang pulang kampung. Selain bersilaturahmi dengan sesama keluarga, mereka sekaligus bisa berkirim doa untuk leluhur yang telah meninggal dunia.

”Bagi perantau, tradisi ini paling dirindukan. Rasanya kurang afdol jika pulang kampung saat Lebaran tapi tidak ikut tradisi Lebaran Kuburan ini,” ujar Joni Dwi Saputro, warga Bunder yang merantau di Bondowoso.

Dwi yang jauh-jauh pulang kampung dari Bondowoso tentu tak ingin melewatkan tradisi ini. ”Bagi warga Desa Bunder, kurang lengkap rasanya jika belum mengikuti acara ini. Makanya saya menyempatkan pulang kampung untuk merayakan Lebaran di tanah kelahiran,” ucap suami Martiya Kusuma ini.

Baca Juga :  Judi Sabung Ayam, Dua Pria Ditangkap

Doa dipimpin pemuka agama setempat. Usai berziarah dan mendoakan leluhur, warga kemudian menyantap ancak atau nasi dan lauk-pauk yang telah dibawa. Tak ketinggalan, sebelum meninggalkan areal pemakaman warga saling berjabat tangan saling bermaafan. ”Tradisi ini selain untuk ajang silaturahmi antarwarga juga untuk mempererat persaudaraan antarwarga yang sudah lama tak bertemu, apalagi para perantau,” kata Dwi.

Acara semakin meriah ketika para bocah yang ikut datang ke pemakaman menyalakan petasan mengiringi warga yang tengah bersalaman sembari meninggalkan areal pemakaman umum. Tradisi warga Desa Bunder ini diikuti oleh perantau dari Kupang, Nusa Tenggara Timur, Bali, Surabaya, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Madura, serta berbagai kota lainnya. ”Kami hanya melestarikan tradisi warisan leluhur kami yang sudah ada sejak dulu dan turun-temurun,” tandas Ridwan, tokoh masyarakat Desa Bunder.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/