alexametrics
28.9 C
Banyuwangi
Friday, August 12, 2022

15 Menit Menari di Dasar Laut

Atraksi menarik ditampilkan dalam Underwater Festival di Pantai Bangsring, KecamatanWongsorejo, kemarin. Sebanyak 12 penari Gandrung dan pemusiknya menggelar pentas tari bawah laut di perairan Bangsring.

        Terik matahari yang menyengat tidak mengurangi kemeriahan Banyuwangi Underwater. Dua belas orang penari gandrung yang melakukan aksinya di bawah kedalaman 5 meter membuka kemeriahan festival yang akan digelar selama tiga hari berturut-turut itu.

        Para penari mengenakan kostum yang cukup unik seperti omprok, selendang, kipas tangan, kaus kaki, dan perlengkapan gandrung lainnya. Mereka juga memakai peralatan selam lengkap dengan tabung oksigen di punggungnya.

        Para penari yang berasal dari Fakultas Ilmu Perikanan dan Kelautan Universitas Brawijaya tampak cukup antusias ketika digiring ke tengah lautan oleh para penyelam. Penari yang memakai omprok dan sampur itu kemudian perlahan turun ke kedalaman lima meter sebelum melakukan aksinya.        

Selanjutnya, mereka pun menarikan tarian khas gandrung selama 15 menit di atas stage yang terbuat dari anyaman bambu di dalam air. ”Sebelumnya kita berlatih di kolam dan di laut sejak awal Februari lalu,” ujar Salsabila Efani, salah seorang penari gandrung.

Baca Juga :  Penilaian Kinerja Polri Libatkan Masyarakat

        Dia mengaku ada kesulitan tersendiri ketika harus menari di bawah laut. Selain tetap mempertahankan pakem gerakan tari gandrung, dia juga harus bisa menahan diri dari arus laut.

        Selain dua belas penari gandrung masih ada juga delapan pria yang bertugas untuk membawa umbul-umbul. Mereka pun membawa perlengkapan selam sambil turun ke dalam laut menemani para penari gandrung. ”Kita semua yang ada di sini sudah memiliki sertifikat selam, jadi sudah punya dasar. Selain kita ada juga tiga pemain musik, dua pemegang gong, dan satu kenong,” kata Fikri Hardiansyah, salah satu mahasiswa UB.

        Usai Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas yang membuka festival tersebut mengenakan omprok (mahkota penari Gandrung) ke salah satu penari, mereka pun langsung diving menuju panggung pentas di kedalaman lima meter.  Agar tak merusak terumbu karang, alas pentas menggunakan anyaman bambu.

Baca Juga :  Truk Seruduk Mobil, Tidak Ada Korban Luka

         Dalam Underwater Festival tersebut, selain atraksi Gandrung Bawah Laut juga digelar ”Nemo Dancing” (pengamatan ikan Nemo selama 48 jam), tari gandrung di dasar laut, pelatihan produk olahan ikan, dan edukasi bahari kepada 250 pelajar Banyuwangi.  

        Sementara itu, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar mengatakan festival ini merupakan cara kreatif nelayan-nelayan Bangsring untuk melakukan sesuatu yang berbeda. ”Tidak hanya menggelar event semata, namun mereka juga menyisipkan edukasi bahari kepada kita, semua,” kata Anas saat membuka acara tersebut.

        Anas mengatakan, nelayan-nelayan Bangsring terus menunjukkan perilaku positif untuk mengembangkan daerahnya. Ini adalah bentuk partisipasi rakyat dalam memajukan daerah. ”Mereka mengerjakan dengan kreatif, kini banyak wisatawan khususnya anak-anak akhirnya memilih laut sebagai pilihan berlibur. Dan syukur di Bangsring, mereka tidak hanya bisa bermain, namun ada sisi edukatif juga di sini,” kata Anas. (fre/aif/c1)

 

Atraksi menarik ditampilkan dalam Underwater Festival di Pantai Bangsring, KecamatanWongsorejo, kemarin. Sebanyak 12 penari Gandrung dan pemusiknya menggelar pentas tari bawah laut di perairan Bangsring.

        Terik matahari yang menyengat tidak mengurangi kemeriahan Banyuwangi Underwater. Dua belas orang penari gandrung yang melakukan aksinya di bawah kedalaman 5 meter membuka kemeriahan festival yang akan digelar selama tiga hari berturut-turut itu.

        Para penari mengenakan kostum yang cukup unik seperti omprok, selendang, kipas tangan, kaus kaki, dan perlengkapan gandrung lainnya. Mereka juga memakai peralatan selam lengkap dengan tabung oksigen di punggungnya.

        Para penari yang berasal dari Fakultas Ilmu Perikanan dan Kelautan Universitas Brawijaya tampak cukup antusias ketika digiring ke tengah lautan oleh para penyelam. Penari yang memakai omprok dan sampur itu kemudian perlahan turun ke kedalaman lima meter sebelum melakukan aksinya.        

Selanjutnya, mereka pun menarikan tarian khas gandrung selama 15 menit di atas stage yang terbuat dari anyaman bambu di dalam air. ”Sebelumnya kita berlatih di kolam dan di laut sejak awal Februari lalu,” ujar Salsabila Efani, salah seorang penari gandrung.

Baca Juga :  4.732 Pohon Kelapa Dirusak, Janurnya Diembat

        Dia mengaku ada kesulitan tersendiri ketika harus menari di bawah laut. Selain tetap mempertahankan pakem gerakan tari gandrung, dia juga harus bisa menahan diri dari arus laut.

        Selain dua belas penari gandrung masih ada juga delapan pria yang bertugas untuk membawa umbul-umbul. Mereka pun membawa perlengkapan selam sambil turun ke dalam laut menemani para penari gandrung. ”Kita semua yang ada di sini sudah memiliki sertifikat selam, jadi sudah punya dasar. Selain kita ada juga tiga pemain musik, dua pemegang gong, dan satu kenong,” kata Fikri Hardiansyah, salah satu mahasiswa UB.

        Usai Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas yang membuka festival tersebut mengenakan omprok (mahkota penari Gandrung) ke salah satu penari, mereka pun langsung diving menuju panggung pentas di kedalaman lima meter.  Agar tak merusak terumbu karang, alas pentas menggunakan anyaman bambu.

Baca Juga :  Intensitas Hujan Meninggi, Peralatan Penanggulangan Bencana Disiagakan

         Dalam Underwater Festival tersebut, selain atraksi Gandrung Bawah Laut juga digelar ”Nemo Dancing” (pengamatan ikan Nemo selama 48 jam), tari gandrung di dasar laut, pelatihan produk olahan ikan, dan edukasi bahari kepada 250 pelajar Banyuwangi.  

        Sementara itu, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar mengatakan festival ini merupakan cara kreatif nelayan-nelayan Bangsring untuk melakukan sesuatu yang berbeda. ”Tidak hanya menggelar event semata, namun mereka juga menyisipkan edukasi bahari kepada kita, semua,” kata Anas saat membuka acara tersebut.

        Anas mengatakan, nelayan-nelayan Bangsring terus menunjukkan perilaku positif untuk mengembangkan daerahnya. Ini adalah bentuk partisipasi rakyat dalam memajukan daerah. ”Mereka mengerjakan dengan kreatif, kini banyak wisatawan khususnya anak-anak akhirnya memilih laut sebagai pilihan berlibur. Dan syukur di Bangsring, mereka tidak hanya bisa bermain, namun ada sisi edukatif juga di sini,” kata Anas. (fre/aif/c1)

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/